PPK Sampoerna

Pacu Pertumbuhan UMKM di Bidang Agri

Sabtu, 14/07/2012

PT HM Sampoerna mendirikan pusat pelatihanuntuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan UMKM masyarakat di bidang agribisnis dan teknologi kejuruan tepat guna.

NERACA

Meningkatkan kemampuan kewirausahaan masyarakat, mengembangkan manajemen UMKM, memadukan peran-peran dunia akademik, bisnis, pemerintah dan komunitas secara seimbang, mendorong PT HM Sampoerna Tbk untuk mendirikan pusat pelatihan kewirausahaan terpadu.

Manager kontribusi dan CSR PT HM Sampoerna, Taruli Aritonga menuturkan, Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna yang diresmikan pada bulan Maret tahun 2007 lalu, dibangun di atas lahan seluas 27 Ha, dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung seperti ruang pelatihan, ruang pertemuan, lahan penelitian, serta penginapan.

Melalui PPK Sampoerna, yang diketahui Taruli telah dikunjungi sekitar 16.000 orang, melatih sekitar 9.000 orang dan mendampingi 285 UMKM, pusat pelatihan yang dikembangkan berdasarkankonsep Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming System) dan Sistem Kejuruan Tepat Guna (Vocational Training System) ini didirikan untuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masyarakat di bidang agribisnis dan teknologi kejuruan tepat guna.

“Pada awalnya, kami mencari orang yang berbakat dan mau untuk dilatih yang kemudian secara bertahap melalui proses praktik hingga sampai ke proses jaringan pemasaran akan didampingi sampai mereka dapat mandiri,” katanya.

Lebih lanjut, wanita yang telah mengabdi selama 14 tahun pada PT HM Sampoerna ini mengungkapkan, kawasan yang menjadi sekolah bagi para petani itu juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk mempraktikkan hasil temuan para ilmuan dari berbagai universitas yang menghasilkan produk-produk unggulan berbasis agribisnis dan tekhnologi kejuruan. Contohnya cabai super hot (CH3) yang dikembangkan IPB.

"Selain lebih pedas 10 kali daripada cabai biasa, jumlah cabai dari tiap pohon juga jauh lebih banyak. Pohonnya justru tertutup buah cabai," katanya.

Di lahan itu, lanjut Taruli, juga digunakan untuk mengembangkan teknik dan metode penanaman padi yang disebut System Rice of Intensification (SRI), yaitu sistem yang ditemukan oleh ahli pertanian asal Perancis Henri de Laulanie yang mengembangkannya di Madagaskar, Afrika.

Tahun 1990 SRI mendapat pengakuan dunia dan mulai dikembangkan di Sukamandi, Jabar karena dari satu hektar lahan bisa menghasilkan 6,2 ton padi. Padahal biasanya hanya 4,1 ton saja. Selain itu dengan metode ini untuk 1 ha lahan petani hanya butuh 4-5 kg bibit saja.

"Di lahan PT HM Sampoerna yang kami sebut PPK Sampoerna, kami melakukan uji-coba menerapkan sistem SRI bersama para petani binaan. Setelah berhasil dan fakta menunjukkan produktivitas lebih unggul maka para petani baru mau mengubah cara kerjanya," kata Taruli yang disapa Uli.

Agar akrab ditelinga para petani, teknik SRI itu diplesetkan jadi Sistem Rodo Irit (SRI) di mana semua proses pertaniannya akan menerapkan zero waste alias tidak ada yang terbuang percuma dari satu batang padi yang dihasilkan, sehingga secara keseluruhan mereka bisa mendapatkan keuntungan besar dari cara kerja yang menghemat.

Petani, tuturnya, mau mengubah cara kerja setelah melihat contoh dan hasil percobaan sehingga para petani mau menerapkan di lahan garapannya sendiri.

Namun, Taruli mengakui, walau bagaimanapun yang membuat mereka mampu mencapai apa yang kita lihat sekarang sebagai sebuah kesuksesan yang menginspirasi adalah ketangguhan, kreativitas dan kemandirian setiap wirausaha itu sendiri.

Sampoerna Expo

Salah satu upaya PPK Sampoerna membuka membuka peluang usaha kecil lokal untuk memperluas pasar dan jaring kemitraan para UKM adalah dengan mengadakan expo.

Head of Stakeholders and Regional Relations PT HM Sampoerna Tbk, Henny Susanto mengatakan bahwa pihaknya berharap dengan adanya expo keempat sebagai ajang pameran dan promosi produk pengusaha mikro, muncul para buyer potensial yang bisa membeli produk UMKM binaan PPK Sampoerna secara kontinyu.

“Selain mengadakan expo selama tiga hari 29 Juni-1 Juli 2012, kami juga meluncurkan website PPK Sampoerna serta memberikan penghargaan bagi usaha mikro terbaik yang kami sebut PPKS Award," tambah Henny.

Terkait dengan permintaan para pengamat dan Komnas Perlindungan Anak tentang pemberhentian program CSR yang dilakukan oleh produsen rokok, yang dianggap sebagai kedok membuat citra positif rokok, Heni mengatakan bahwa pihaknya sangat menyayangkan bila ada pihak-pihak yang berpendapat seperti itu.

“Kami melakukan program ini murni sebagai bagian program CSR, bukan untuk mengiklankan produk-produk kami,” kata Henny.

UKM Meningkat

Asisten II Bupati Pasuruan Ryanto mengatakan potensi ekonomi di daerahnya mengalami peningkatan. Tahun lalu jumlah pelaku mikro sudah mencapai 36.337 unit, naik 6,59% daripada 2010 yang jumlahnya masih 34.090.

“Peningkatan ini tak lepas dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui PPK Sampoerna," terangnya.

Sampoerna dinilainya berhasil membangun mindset wirausaha di kalangan masyarakat desa dan pihaknya berharap, perusahaan lain juga melakukan program CSR yang menunjang tumbuhnya jiwa wirausaha.

"Expo juga diharapkan bisa dilakukan di kota-kota besar karena lebih memudahkan pelaku mendapatkan buyer potensial dari dalam dan luar negri," tambah dia.

Pihaknya juga berharap dengan fasilitas dan pembinaan PT HM Sampoerna maka para pelaku usaha mikro melakukan proses produksi yang efisien dan sesuai standar ISO yang memberikan efek keamanan dan kepercayaan konsumen terhadap produk lokal.