Bursa Berbasis Sentimen

Senin, 02/07/2012

Oleh : Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Semakin parahnya krisis keuangan Eropa serta memburuknya perekonomian Amerika Serikat (AS) dan China selama sebulan lalu telah menyandera kinerja bursa global, bursa regional, dan bursa dalam negeri. Faktanya, selama bulan lalu bursa Indonesia terkena imbas koreksi indeks terdalam di kawasan. Mengapa?

Selama ini pasang surutnya aktivitas perdagangan di bursa Indonesia cenderung tidak rasional, lebih berbasis pada faktor sentimen pasar (psikologis) daripada faktor fundamental. “Konduktor” utama kondisi ini tidak terlepas dari terlalu besarnya ketergantungan bursa terhadap peranserta investor asing. Kepemilikan saham oleh investor asing di bursa efek Indonesia selama satu dekade terakhir mencapai rata-rata 66,7%. Meski sejak Agustus 2011 hingga Juni 2012 kepemilikan asing tersebut kian menurun, namun proporsinya masih di atas 50%.

Data bulan lalu dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan bahwa total kepemilikan saham yang tercatat di KSEI mencapai Rp2,584.31 triliun dengan kepemilikan oleh investor asing mencapai Rp1,391.68 triliun (58.38%) dan investor lokal mencapai Rp992,08 triliun (41.62%).

Hasil penelitian meunjukkan bahwa karena dipicu oleh adanya asymmetric information yang dimiliki investor asing sehingga kepemilikan saham mereka tidak diorientasikan pada investasi jangka panjang, melainkan lebih bersifat speculative trading atau short-holding period dengan pola positive feedback trading yang berbasis pada sentimen pasar. Mereka masuk pasar ketika bulish dan keluar pasar ketika bearish.

Dalam kondisi ketidakpastian penyelesaian krisis keuangan global, investor asing cenderung melakukan hit and run melalui aksi ambil untung jangka pendek kemudian pergi meninggalkan pasar. Pada bulan Juni 2012 lalu setidaknya investor asing membukukan penjualan bersih Rp1,58 triliun.

Mengingat lebih besarnya proporsi kepemilikan asing dibanding lokal, maka kondisi ini jelas berpotensi merusak stabilitas bursa yang menjadi tidak rasional dan semakin menjauh dari nilai fundamentalnya. Ironisnya pola pemilikan saham seperti ini di-benchmark oleh investor lokal yang selalu mengekor aksi-aksi yang dilakukan oleh asing. Pada gilirannya, pola aktivitas bursa menjadi rentan terhadap sentimen global dan regional yang diduga masih akan terus menghantui kinerja bursa hingga akhir tahun.

Investor lokal hendaknya lebih mengorientasikan investasinya pada basis fundamental kinerja emiten, kinerja bursa, dan kinerja ekonomi nasional. Mestinya, ketika IHSG dan harga saham-saham terkoreksi ditinggalkan oleh investor asing, investor lokal justru harus memanfaatkan momentum ini untuk memborong saham, kemudian memegangnya dalam jangka panjang.

International Monetary Fund (IMF) meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia sangat sehat dengan prediksi pertumbuhan tahun ini 5,5% - 6%. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding prediksi pertumbuhan ekonomi AS tahun ini yang hanya 1,9%. Tentang kinerja bursa, meskipun kapitalisasi bursa Indonesia ($0.36 T) masih lebih kecil dibandingkan Malaysia ($1.59 T), Korea ($0.91 T) dan Hongkong ($0.77 T), namun masih lebih tinggi dibandingkan Thailand ($0.30 T) dan Filipina ($0.05 T).

Price earning ratio (PER) bursa Indonesia (19.62 x) juga masih lebih rendah dibandingkan Jepang (21.04 x) Singapura (22.01 x), dan Korea (23.11). Hal ini berarti bahwa dalam jangka panjang bursa Indonesia masih memiliki potensi pertumbuhan yang memadai. Intinya, untuk meningkatkan likuiditas dan daya tahan bursa dari sentimen global, investor lokal harus mampu menjadi tuan rumah di bursa negeri sendiri. Ini adalah momentum yang tepat. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?