Praktik Investasi Bodong

Di tengah merebaknya resesi ekonomi Eropa saat ini, ternyata masih ada perilaku manusia yang sok orang kaya sebagai investor “bodong” yang akhirnya merugikan banyak orang di negeri ini. Padahal kondisi harga saham yang resmi saja diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam waktu yang sama lagi berjatuhan harganya. Akibatnya, sekarang banyak investor (pemain bursa) maupun yang yang ditipu investor “bodong” kehilangan uang sampai miliaran, bahkan triliunan rupiah.

Kejadian ini tentu memilukan, karena pemerintah terkesan kecolongan dengn ulah investor “bodong” tersebut. Contoh kasus banyak orang yang kejeblos membenamkan dananya ke dalam investasi bodong ala Koperasi Langit Biru (KLB), Tangerang, Banten. Sedikitnya Rp 6 triliun dana milik investor sudah tenggelam dan berpotensi hilang begitu saja. Karena sang ketua koperasi sudah raib, dan kini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) polisi.

Bayangkan, tragedi yang memalukan terkait investasi tersebut seolah menambah panjang daftar kerugian yang diderita oleh para investor domestik. Sementara pihak kepolisian maupun instansi berwenang seperti Kemenkop dan UKM serta Kementerian Perdagangan yang mengeluarkan izin bagi koperasi tersebut, ternyata kurang selektif dan tidak mampu mendeteksi praktik liar koperasi yang mirip simpan pinjam tersebut.

Di sisi lain, kurangnya sosialisasi dalam memberikan bimbingan kepada calon investor terlihat sangat minim. Biasanya investor pemula yang sudah pernah “lezatnya” menikmati keuntungan berinvestasi baik di lembaga resmi maupun “bodong”, tidak pernah melihat risiko yang melekat pada sebuah produk investasi yang dibelinya.

Seperti euforia kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI di awal 2011 hingga awal 2012, telah membuat para investor terlena bahkan kian gencar bersemangat dalam berinvestasi pada produk pasar modal. Juga, fluktuasi nilai tukar rupiah yang begitu tinggi, menjadikan mereka banyak bermain valas dalam rangka menernakkan uangnya.

Sayangnya, euforia ini harus dibayar mahal. Kejatuhan harga-harga saham, telah membuyarkan harapan dan impian para investor yang ingin meraup keuntungan besar dalam tempo sekejap. Maunya sih untung, tapi malah justeru buntung (merugi). Karena itu, langkah yang sebaiknya ditempuh investor adalah perlunya sikap kehati-hatian (prudent) yang lebih tinggi.

Ke depan, agar tingkat kepercayaan investor tidak luntur akibat berbagai tragedi tragis berinvestasi, maka perlu dipikirkan adanya perlindungan (asuransi) efek-efek, sehingga nasabah akan merasa aman. Minimal pokok investasi yang telah ditanamkan tidak akan hilang sia-sia. Paling tidak modal pokok investor akan kembali karena sudah dijamin oleh perusahaan asuransi.

Bentuk perlindungan kepada investor yang lain, mungkin perlu membentuk semacam lembaga LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) khusus industri asurani dan koperasi. Namun LPS jangan terkesan sebagai lembaga kuratif (pengobatan), bukan lembaga preventif untuk mencegah terjadinya sebuah kasus.

Yang lebih penting lagi, otoritas bursa dan Bapepam-LK harus aktif dan mampu mendeteksi lebih dini terjadinya fraud (kejahatan) di pasar modal. Untuk itu, pengawasan yang sangat ketat harus secara periodik perlu dilakukan, agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Selain itu, Bapepam-LK juga harus membuka diri terhadap setiap permintaan informasi dan konfirmasi dari nasabah tentang keberadaan pialang atau manajer investasi serta produk yang dikeluarkannya. Langkah ini perlu dilakukan terutama untuk mencegah terjadinya krisis kepercayaan investor, yang sebelumnya sudah mulai bergairah untuk berinvestasi di pasar modal.

BERITA TERKAIT

Fokus Pemerintah Kepada Investasi Padat Karya

Oleh: Muhammad Razi Rahman Mantan Sekjen PBB Kofi Annan pernah menyatakan, sangat tidak beruntung beberapa pemerintahan yang tidak berpikir mengenai…

Permudah Izin Investasi

Oleh: Ahmad Wijaya Salah satu permintaan calon investor, baik lokal maupun asing dimanapun mereka ingin berinvestasi adalah kemudahan dalam mendapatkan…

Aspek Ekonomi dan Politik Pegangan Investor - Investasi di Pasar Modal

NERACA Jakarta - PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengatakan penting bagi investor untuk terus memperhatikan aspek ekonomi dan politik…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Saatnya Ekonomi Digital Berkuasa

Banyak pihak merasa khawatir Indonesia akan menggadaikan kedaulatan digitalnya kepada pengusaha asing misalnya Alibaba, dan pemiliknya Jack Ma dari China…

Kebijakan di Era Disruptif

Dalam era disruptif saat ini yang menjadi pesaing bisnis bahkan yang berpotensi meruntuhkan sebuah perusahaan, bukan lagi perusahaan raksasa atau…

Infrastruktur Dikebut, Utang Melejit

Dalam upaya mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang berkeadilan, pemerintahan Jokowi menempatkan infrastruktur sebagai agenda utama dan mengalokasikan…