Belum Mengkhawatirkan Pelemahan Rupiah

NERACA

Jakarta—Pemeritah mengaku belum mengkhawatirkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir ini. "Tidak terlalu menghawatirkan kalau dilihat nilai tukarnya, sekarang itu ada di kisaran Rp9000 sampai Rp9500 per dolar AS," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta, Selasa.

Menurut Menkeu, asumsi nilai tukar rupiah masih berada dalam perkiraan yang ditetapkan dalam APBN-Perubahan 2012 sebesar Rp9000 per dolar sehingga belum mengganggu postur anggaran negara secara keseluruhan. "Kita terus memperhatikan tetapi terhadap postur anggaran kita tidak terlalu khawatir. Kalau mau melihat kondisi tidak bisa melihat waktu sesaat, harus melihat jangka waktu tertentu," tambahnya

Mata uang rupiah terhadap dolar AS, Selasa pagi, kembali bergerak melemah sebesar 28 poin, didorong sentimen global yang masih mudah berubah serta kondisi Spanyol yang diperkirakan makin memburuk. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta bergerak melemah menjadi Rp9.458 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.430 per dolar AS.

Harga Minyak Pemerintah, lanjut Menkeu, juga akan terus mengamati pergerakan harga minyak dunia yang cenderung menurun akibat ketidakpastian perekonomian global. "Kelihatan dalam kondisi dua minggu terakhir ada koreksi turun, tapi untuk angka diatas 120 dolar per barel selama enam bulan terakhir belum bisa tercapai," paparnya

Untuk itu, Menkeu memastikan pemerintah akan terus menjaga kesehatan fiskal dan melakukan upaya penghematan dalam menjaga defisit anggaran yang telah ditetapkan sebesar 2,23%. "Pemerintah terus menjaga kesehatan fiskal dengan melakukan penghematan. Secara umum kondisi fiskal kita masih bisa dijaga sehat," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan saat ini perekonomian di wilayah Asia mulai terkena pengaruh dari krisis global akibat gejolak Yunani. "Ini bisa dilihat dari pertumbuhan sejumlah negara seperti India yang mengalami penurunan pertumbuhan jadi 5,3%. Kemudian China juga mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi," ungkapnya.

Menurut Hatta, selain ketidak-pastian penyelesaian masalah krisis Yunani di Uni Eropa, sejumlah perbankan besar dunia juga mengalami kesulitan utilitas. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang melambat di Amerika Serikat dan Jepang disertai kenaikan jumlah pengangguran di kedua negara itu, juga memperparah keadaan ekonomi global. "Indonesia sebetulnya patut bersyukur pada kuartal I-2012, perekonomian tumbuh 6,5%, tapi tanda-tanda pelemahan permintaan dunia sudah mulai terasa, sehingga menyebabkan permintaan komoditi yang terkait ekspor dari Indonesia juga turun," paparnya

Sejumlah permintaan komoditas dari Indonesia yang dikatakan Hatta menurun antara lain batu bara, minyak, minyak kelapa sawit, serta karet yang semuanya adalah komoditas andalan Indonesia.

Dia menjelaskan terdapat sejumlah upaya untuk mengatasi pelemahan pertumbuhan yang terdiri dari upaya menjaga daya saing ekspor Indonesia, sehingga ketika terjadi kompetisi maka barang ekspor Indonesia masih bisa diunggulkan.

Kemudian, menurut Hatta Indonesia perlu membuka pasar baru yang tidak hanya pasar tradisional, namun di wilayah lain seperti di sekitar wilayah regional ASEAN, Afrika dan Amerika Latin. "Selain itu, kita juga harus tetap menjaga stabilitas nilai rupiah, agar jangan terlalu bergejolak. Serta upaya di pasar dalam negeri juga harus diisi, dengan tidak terlalu mengandalkan impor," tukas Hatta.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2012 menurut Badan Pusat Statistik meningkat sebesar 6,3% yang diukur dengan besaran Produk Domestik Bruto atas dasar harga dengan nilai Rp1.972,4 triliun. **cahyo

BERITA TERKAIT

Ironis, Kelola Anggaran Daerah Belum Efektif dan Efisien - DANA TRANSFER DAERAH MENINGKAT

Jakarta – Sejak otonomi daerah digulirkan, kemandirian pemerintah daerah dalam mengelola anggaran daerah menjadi harapan besar bagi pemerintah pusat bisa…

KOTA SUKABUMI - SK BPSK Belum Turun, Warga Bingung Harus Ngadu ke Siapa

KOTA SUKABUMI SK BPSK Belum Turun, Warga Bingung Harus Ngadu ke Siapa NERACA Sukabumi - Sejumlah Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya…

KOTA SUKABUMI - SK BPSK Belum Turun, Warga Bingung Harus Ngadu ke Siapa

KOTA SUKABUMI SK BPSK Belum Turun, Warga Bingung Harus Ngadu ke Siapa NERACA Sukabumi - Sejumlah Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Presiden Belum Putuskan Soal Dirjen Pajak

      NERACA   Mataram - Presiden Joko Widodo menegaskan sampai saat ini belum memberikan keputusan atau penunjukan nama…

PT Ethica Industri Farmasi Jadikan Indonesia Pusat Produksi Obat Injeksi Asia - Bangun Pabrik Rp1Triliun

  NERACA   Cikarang - PT Ethica Industri Farmasi telah meresmikan pabrik barunya yang berlokasi di kawasan industri Jababeka, Cikarang,…

BUMN Salurkan CSR Rp9,2 Miliar di Bengkulu - Perkuat Peran Sebagai Agen Pembangunan

    NERACA   Bengkulu - Sejumlah perusahaan BUMN bersinergi dalam penyaluran kepedulian sosial senilai total Rp9,2 miliar untuk meningkatkan…