BI Ajak Investor Jepang Lakukan Relokasi Industri

Kamis, 17/03/2011

BI Ajak Investor Jepang Lakukan Relokasi Industri

Jakarta,

Bank Indonesia berharap pasca tsunami di Negeri Sakura bisa mendorong lebih banyak pengusaha Jepang berinvestasi di Indonesia. Alasannya Indonesia adalah pasar potensial yang dibutuhkan Jepang. "Soal investasi itu tidak selalu kemungkinannya negatif. Bisa juga dengan kejadian gempa itu malah positif, bisa mendorong relokasi industri dari sana," katanya di Jakarta,16/3

Diakui Darmin,. Jepang merupakan tujuan utama ekspor Indonesia. Karena itu kontribusinya cukup significant. “Yang jelas, Jepang itu tujuan ekspor yang cukup penting buat kita. Negara ini, negeri asal suku cadang sejumlah industri kita dan salah satu negara asal impor yang penting juga,”tambahnya.

Menyinggung soal imbas terhadap nilai tukar akibat tsunami, Darmin menyatakan dalam jangka pendek ini yang terkena imbasnya adalah indeks harga saham di pasar modal. "Pertama-tama yang terkena itu pasti indeks harga sahamnya di pasar modal di berbagai negara, pasti Jepang yang paling berat dan diikuti beberapa negara,”tandasnya.

Namun, kata mantan Dirjen Pajak ini, kejadian itu tentu takkan berlangsung lama. Karena semakin banyak informasih maka dampak akan semakin surut. “Tetapi tentu saja ini tidak akan berlangsung terus, akan melihat semakin banyak data yang sudah diperoleh, sentimen itu akan makin minim,"ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa meyakinkan swasta tak perlu cemas terkait ancama terror bom. "Saya berharap ini (investasi) tidak terganggu, iklim investasi jangan terganggu oleh hal-hal seperti itu," ungkapnya.

Namun demikian, diakuinya sampai saat ini masih belum ada tanggapan miring yang dilontarkan oleh negara-negara sahabat maupun negara asing. "Belum ada pertanyaan (dari negara sahabat)," tambahnya.

Hatta berharap jika teror bom ini sifatnya hanya temporary alias sementara. "Kita harap tidak terjadi lagi," ujarnya singkat.

Sebelumnya, Deputi Menko Perekonomian Bidang Perindustrian dan perdagangan, Edy Putra Irawadi menjelaskan produksi dan investasi dari Negeri Sakura tersebut tidak akan berhenti karena mengalami perpindahan. "Saya baru courtessy call ke Fumihiko Igarashi, Senior Vice Minister of Finance dan Atsuko Shibota, Dirjen Bea Cukai Jepang. Mereka bilang program dan proyek-proyek mereka usulkan di indonesia seperti Jakarta Metropolitan Area untuk pembenahan pelabuhan tetap jalan," ungkapnya.

Bencana tersebut, ungkap Edy, Jepang masih menawarkan kerjasama fasilitas perdagangan. "Bahkan mereka menawarkan kerjasama-kerjasama pembangunan trade facilitation," imbuhnya.

Dengan demikian Edy merevisi pendapat jika investasi Jepang pada Indonesia lumpuh, dia juga menjelaskan jika dari pembicaraan dnegan bea cukai Jepang Nasional Single Window (NSW) tidak akan terpengaruh."Hebatnya lagi karena NSW jepang tidak terpengaruh dengan peristiwa ini, saya tadinya kuatir karena adanya shortage listrik akan berpengaruh pada produksi di Jepang," tandasnya. **cahyo