Saham Garuda “Terbang Rendah”?

Oleh: Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Kegagalan IPO (initial public offering) PT Garuda Indonesia,Tbk di awal Februari 2011 ditandai oleh “landing”-nya harga saham GIAA ke Rp620 tepat pada hari pertama pencatatan di BEI yang melorot 17,33% dari harga perdana Rp750. Padahal, ketika itu indeks harga saham gabungan (IHSG) bergerak positif, menguat 18,12 poin ke level 3.391,76.

Dari total saham yang ditawarkan sebanyak 6,335 miliar lembar senilai Rp4,75 triliun itu hanya 52,64% yang terserap oleh pasar. Sisanya 47,36% atau 3 miliar lembar senilai Rp2,25 triliun harus diserap oleh joint lead underwriters plat merah, yakni PT Bahana Securities, PT Danareksa Sekuritas, dan PT Mandiri Sekuritas sebagai realisasi kontrak full commitment mereka atas penerbitan saham tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan Garuda Des. 2011 dan perkembangannya hingga 24 April 2012, ketiga underwriters BUMN itu masih menguasai 2,47 miliar lembar saham GIAA atau sekitar 10,88% dari total saham sebanyak 22,7 miliar lembar. Dengan pembelian pada harga perdana Rp750 per saham, maka 2,47 miliar saham bernilai Rp1,85 triliun.

Pada pekan kedua April 2012 lalu ketiga perusahaan sekuritas BUMN ini menggandeng Morgan Stanley (MS) sebagai financial advisor untuk pelepasan sisa saham GIAA. Walhasil MS akan melego 2,47 miliar saham itu dengan harga diskon 17,33% menjadi Rp620 per lembar atau setara dengan harga setelah anjlok di hari pertama saham melantai di bursa. Jika hal ini terealisasi, total dana yang diraih hanya Rp1,53 triliun. Berarti ketiga underwriters ini dipastikan merugi Rp0,32 triliun.

Lalu, pada 25 April publik dikejutkan oleh berita seluruh sisa saham IPO PT Garuda Indonesia Tbk tersebut akan diborong pengusaha Chairul Tanjung (pengendali CT Corporation) melalui PT Trans Airways. Hal ini menjadi kenyataan bahwa transaksi crossing (pengalihan saham) tersebut resmi dilakukan di BEI akhir pekan lalu (27/4) difasilitasi oleh Credit Suisse Securities Indonesia.

Transaksi tersebut menyimpan sejumlah tanda tanya dan kejanggalan, pertama, apa urgensi pelibatan Morgan Stanley jika penjualan sisa saham GIAA tersebut tidak memakai strategic sales scheme melalui tahapan yang jelas seperti penyeleksian calon investor, penerimaan minat calon investor, penetapan harga, dan pengajuan penawaran atau book building. Kenyataannya skema transaksi yang direalisasikan lebih bersifat block sale yang cenderung tertutup (kurang transparan).

Kedua, sudah putus asakah joint lead underwriters BUMN tersebut sehingga rela menanggung kerugian Rp0,32 triliun? sadarkah mereka bahwa kerugian mereka berarti kerugian bagi negara? Ketiga, mengapa Kementerian BUMN yang sebelumnya bersemangat akan menjual saham GIAA pada harga 10% di atas harga pasar, kini terkesan bungkam dan cuci tangan, padahal harga pasar saham tersebut 23/4/12 ditutup pada posisi Rp630.

Keempat, bagaimanakah eksistensi PT Trans Airways sebagai maskapai penerbangan nasional? Mengutip media elektronik (27/4), Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menuturkan hingga kini PT Trans Airways tersebut tidak terdaftar di Kemenhub dan belum bahkan pernah mengajukan surat izin mendaftarkan usahanya di Kemenhub, baik sebagai perusahaan penerbangan atau maskapai yang bergerak di jasa penyewaan maupun angkutan/kargo.

Related posts