Genjot Infrastruktur, Astra Garap Bisnis Pelabuhan

Neraca

Jakarta – PT Astra Internasional Tbk (ASII) berencana ekspansi garap bisnis di sektor pelabuhan. Rencana bisnis baru ini merupakan bagian pelebaran di sektor infrastruktur yang tidak hanya sekedar jalan tol atau pertambangan.

Direktur PT Astra Internasional Tbk Angky Tisnadisastra mengatakan, pengembangan bisnis pada sektor pelabuhan dimaksudkan pula untuk pengiriman logistik bisnis perseroan, “Proyek pelabuhan saat ini menjadi sektor yang menarik di lirik dan kita sedang kaji itu,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurutnya, rencana menggarap bisnis pelabuhan akan diintegrasikan dengan bisnis grup Astra lainnya, baik itu sektor pertambangan dan juga otomotif. Namun sayangnya, dia belum mau menyebutkan daerah mana yang akan garap perseroan untuk bisnis satu ini.

Asal tahu saja, PT Astra Internasional Tbk ditahun 2012 menganggarkan belanja modal sebesar Rp 16,7 triliun. Dimana peningkatan belanja modal tahun ini sebesar 36% disebabkan ekspansi bisnis perseroan di jalan tol.

Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk Prijono Sugiarto mengatakan, peningkatan belanja modal dikarenakan perseroan tengah disibukkan membangun proyek jalan tol Kertosono- Mojokerto dan Kunciran – Serpong.

Dia menuturkan, belaja modal tersebut terbagi untuk sektor agrobisnis sebesar Rp 2 triliun, alat berat dan pertambangan sebesar Rp 5,5 triliun, infrastruktur Rp 5,8 triliun dan Rp 2,5 triliun hingga Rp 3 triliun untuk sektor otomotif, “Capex tersebut belum termasuk asosiasinya dan diluar konsolidasinya yaitu Astra Honda Motor dan Astra Daihatsu Motor sebesar Rp 5 triliun,”ujarnya.

Selain itu dia juga menuturkan, bisnis grup Astra saat ini tidak seperti sepuluh tahun lalu yang masih mengandalkan otomotif. Kini sektor otomotif 50%-50% dengan sektor financial service dan sektor lainnya.

Oleh karena itu, dirinya menyakini dampak kebijakan soal ketentuan uang muka kredit atau Down Payment (DP) sebesar 30% dari harga jual kendaraan tidak akan mempengaruhi penjualan otomotif perseroan secara signifikan, “Dampak kebijakan tersebut pasti ada, tetapi tidak signifikan karena brand Astra yang cukup kuat,”tandasnya.

Selanjutnya, dia mengungkapkan target penjualan satu juta unit mobil akan terealisasi ditahun ini. Pasalnya, hingga Maret tercatat penjualan mobil Astra tembus 250 ribu unit. Sementara untuk mensiasati pencapaian tersebut, perseroan terus akan meningkatkan kapasitas produksi dan juga menambah outlet.

Bagikan Dividen

Hasil rapat umum pemegang saham tahunan kemarin, Astra Internasonal juga akan membagikan dividen sebesar Rp8,01 triliun atau sebesar Rp1.980 per lembar saham dari perolehan laba 2011 sebesar Rp 17,78 triliun. Sementara sisanya, sebesar Rp9,76 triliun akan dibukukan sebagai laba ditahan, “Untuk dividen interrim Rp600, dimana setiap saham telah dibayarkan pada 14 November 2011, sisanya sebesar Rp1,380 per lembar saham akan dibayarkan tanggal 6 Juni 2012 kepada pemegang saham yang tercatat pada tanggal 23 Mei 2012 pukul 16:00,” kata Priyono Sugiarto.

Selain itu, pemegang saham PT Astra Internasional Tbk (ASII) menyetujui rencana pecah saham alias stock split dengan rasio 1:10. Sehingga saham ASII kini lebih terjangkau. Pemecahan nilai nominal saham (stock split) perseroan, dari sebelumnya sebesar Rp 500 per saham, menjadi sebesar Rp 50 per saham.

Dengan demikian, saham Astra yang sudah cukup tinggi tersebut nantinya bisa dinikmati oleh lebih banyak investor, tak hanya investor bermodal besar. Dengan adanya perubahan nilai nominal saham ini, jumlah saham perseroan meningkat dari semula 6 miliar saham dengan nilai nominal masing-masing sebesar Rp 500 per saham menjadi 60 miliar saham dengan nilai nominal masing-masing sebesar Rp 50.

Jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor perseroan meningkat, dari semula sebanyak 4.048.355.314 saham menjadi sebanyak 40.483.553.140 saham. (bani)

Related posts