BUMN Harus Berdaya Saing Global

NERACA

Jakarta---Kementerian Keuangan meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki daya saing kelas dunia, alias global untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Setidaknya BUMN bisa menjadi multinasional corporation (MNC). "Mengingat peran strategis BUMN, baik secara sosiologis maupun ekonomis dalam mencapai tujuan kesejahteraan negara, diperlukan BUMN yang berdaya saing tinggi dan berkelas global," kata Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Hadiyanto di Jakarta, Kamis.

Lebih jauh Hadiyanto menjelaskan secara sosiologis, peran BUMN dalam perekonomian nasional adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat, sedangkan secara ekonomis, kinerja keuangan BUMN berpengaruh terhadap keuangan negara.

Berdasarkan data Kementerian Negara BUMN, lanjut Hadiyanto, pendapatan BUMN terus meningkat dari Rp655,152 triliun pada 2005 menjadi Rp1.050 triliun pada 2010. "Pendapatan BUMN yang terus meningkat dari tahun ke tahun meningkatkan kontribusi setoran dividen terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," ungkanya.

Oleh karena itu, menurut Hadiyanto, upaya peningkatan efisiensi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sangat penting guna mendorong kinerja BUMN agar mampu menciptakan kesejahteraan masyarakat. "BUMN berperan sebagai salah satu alat negara untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat dan tidak membebani keuangan negara," jelasnya

Hadiyanto menambahkan, aksi korporasi yang dilakukan oleh BUMN memerlukan reorientasi BUMN dan reformasi BUMN ke arah perlakuan BUMN sebagai lembaga usaha, sesuai dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik.

Selain itu, sambung Hadiyanto, aksi korporasi BUMN juga perlu didukung oleh kebijakan pemerintah yang mampu menunjang tumbuhnya perilaku efisiensi dalam pengelolaan BUMN.

Sebelumnya, Sekretaris Kementerian BUMN, Wahyu Hidayat mengungkapkan pemerintah memproyeksikan laba BUMN publik dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2012 sebesar Rp80,89 triliun, atau naik 15 persen dibanding 2011 sebesar Rp70,34 triliun. "Pertumbuhan ini didukung oleh ekspansi dan investasi yang dilakukan oleh tiap-tiap BUMN Tbk (terbuka)," ujarnya

Wahyu menjabarkan BUMN terbuka perbankan akan menyumbang laba sebesar Rp39,92 triliun, meningkat 15% dibandingkan dengan 2011 sebesar Rp34,71 triliun. Begitu juga dengan BUMN terbuka non-bank meningkat 15% menjadi Rp40,97 triliun.

Sementara itu, BUMN terbuka perbankan diperkirakan meraih pendapatan Rp146,12 triliun, naik 15% dibandingkan 2011 sebesar Rp127,06 triliun. BUMN terbuka non-bank meningkat 15% menjadi Rp244,19 triliun.

Selain itu, RKAP 2012 Pertamina Persero dan PT PLN Persero diproyeksikan mengantongi laba Rp36 triliun, meningkat 27,27% dibandingkan dengan tahun lalu sebesar Rp28,29 triliun. Untuk pendapatannya diperkirakan turun 7,18% menjadi Rp741,32 triliun. "Untuk BUMN lainnya kami memproyeksikan laba Rp28,67 triliun dengan penjualan Rp1.495 triliun," tuturnya.

Pemerintah memproyeksikan belanja modal (capital expenditure/ capex) BUMN meningkat 52,73% menjadi Rp217,38 triliun pada 2012 dibandingkan dengan 2011 yang hanya Rp142,33 triliun. "Peningkatan capex ini disebabkan BUMN, khususnya BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, melakukan investasi besar-besaran sepanjang 2012,"ujar Deputi Menteri BUMN bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis, Pandu Djayanto. **cahyo

Related posts