Infrastruktur Buruk Hambat Pertumbuhan Industri

NERACA

Jakarta---Biaya logistik yang tinggi dan buruknya infrastruktur merupakan kendala yang menghambat pertumbuhan industri dalam negeri. Hingga saat ini infrastruktur serta sarana dan prasarana transportasi masih sangat minim. “Pelaku usaha harus mengeluarkan biaya tiga kali lipat dalam memasarkan produknya,” kata Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat di Jakarta, Senin.

Menurut Ade, besarnya biaya logistik membuat produk dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk impor, terutama asal China. Apalagi, mahalnya proses distribusi membuat harga produk Indonesia jauh lebih mahal daripada produk China. Pasalnya, teknologi China sendiri jauh lebih maju, dan ekspansi pasar produknya juga cukup besar.

Lebih lanjut Ade menambahkan selain biaya distribusi yang tinggi, pungutan liar (pungli) di setiap daerah membuat pelaku usaha harus mengeluarkan biaya ekstra. "Pungutan liar (pungli) pada setiap daerah merupakan daftar biaya yang perlu dikeluarkan di samping biaya logistik. Hal tersebut membuat harga produk di setiap kota berbeda," paparnya.

Dicontohkan Ade, beberapa produk seperti tekstil yang dipasarkan untuk Pulau Jawa dan Sulawesi dengan selisih harga sangat jauh. "Untuk produk tekstil terjadi disparitas harga pada beberapa kawasan. Untuk harga produk tekstil di Jawa yang dijual Rp100 ribu, di Sulawesi harganya bisa Rp250 ribu," jelasnya

Namun berbeda dengan Analis eTrading Securities Budhy S M Siallagan, yang menilai tingginya keinginan dan anggaran pemerintah untuk menggenjot sektor infrastruktur memberikan ruang gerak yang luas bagi pemain pada sektor industri konstruksi, termasuk PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Pembangunan proyek-proyek pembangkit listrik dan sejumlah proyek lain yang dilakukan WIKA tentunya akan menguntungkan bagi perseroan.

Hal ini didorong oleh kondisi dimana saat ini infrastruktur di Indonesia masih belum mencapai taraf yang dapat memasok listrik secara penuh ke daerah-daerah. "Jika proyek ini dijalankan maka ini akan menambahkan pendapatan tetap untuk WIKA ke depan," ungkapnya.

Sebagai perusahaan konstruksi BUMN, perseroan tidak hanya mengembangkan bisnisnya untuk menggarap proyek-proyek besar di luar negeri seperti pembangunan infrastruktur jalan di Aljazair dan wilayah Timur Tengah lainnya.

Namun juga fokus pada proyek dalam negeri seperti pembangkit listrik, pembangunan jalan batubara, dermaga dan jembatan "overpass". Di Kalimantan Selatan saja, perseroan telah menuntaskan pengerjaan proyek EPC (Engineering, Procurement and Construction) PLTU 2x65 MW Asam-Asam, yang nantinya diharapkan dapat menyeimbangkan kondisi pasokan dan permintaaan pada sistem kelistrikan untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah.

Disamping itu, untuk wilayah regional VIII yang meliputi Kalimantan Selatan dan Tengah, perseroan terus melakukan ekspansinya dengan mengincar tender-tender proyek sesuai dengan bidangnya. Tercatat hingga kuartal I-2012, WIKA telah berhasil meraih proyek pembangunan "underpass" batubara yang berada daerah Tamiyang Layang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Proyek pembangunan ini akan dituntaskan pada Oktober 2012 mendatang.

Selain itu, perseroan juga sedang melakukan pembangunan beberapa proyek yang saat ini sedang berjalan antara lain pembangunan sarana air bersih kapasitas 2x50 liter per detik untuk kota Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, yang ditargetkan tuntas pada Desember 2012. **cahyo

Related posts