Pemerintah Pacu Ekonomi Indonesia Timur

NERACA

Jakarta – Komitmen pemerintah dalam memacu ekonomi tidaklah main-main, termasuk Indonesia bagian Timur. Salah satunya yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian yang memacu ekonomi Kendari, Sulawesi Tenggara.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam dialog "Sulawesi Tenggara Economic Briefing 2020" yang digelar di Hotel Century Park, Jakarta, mengajak semua pihak untuk menjaga dan mengoptimalkan sumber daya alam Indonesia dengan kekuatan dan kelebihan yang dimiliki.

"Saya kira untuk menjadi negara miskin sangat mustahil terjadi karena kita memiliki sumber daya alam yang sangat berlimpah. Terutama potensi di Sulawesi Tenggara yang tidak kalah dengan potensi apa pun di belahan dunia," ujar Syahrul.

Mengenai hal ini, kata Syahrul, pemerintah memiliki tugas untuk mengurus masyarakat agar memiliki moralitas yang tinggi dan mempunya kesejahteraan yang cukup.

Untuk itu, sektor pertanian merupakan pilar penting dan pilihan pasti yang dapat memutar roda perekonomian nasional. Lebih dari itu, sektor pertanian merupakan sektor yang paling resisten terhadap seluruh gejolak.

"Sebab semua manusia memiliki ketergantungan pada sektor pangan untuk bertahan hidup. Tapi yang terpenting adalah, pemerintah harus mampu bereaksi adaptif dan berkomunikasi dengan rakyat. Kemudian pemerintah harus bisa mencari solusi terkait masalah yang ada dengan melibatkan rakyat," kata Syahrul.

Di samping itu, Syahrul mengajak Gubernur dan para Bupati yang hadir, pentingnya mengembangkan produksi aspal untuk keperluan infrastruktur dan pertanian. Dalam hal ini, kata Mentan, produksi karet adalah solusi masa depan untuk memecahkan kebuntuan ekonomi nasional.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah pun tengah melakukan sinergisitas seperti yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian yang melakukan kerjasama dengan Kementerian PUPR terkait penggunaan karet sebagai salah satu campuran aspal jalan.

Hal ini lantaran, pemerintah ingin mendorong hal ini karena berkaitan dengan fluktuasi harga karet yang sering terjadi. "Lewat kebijakan ini, saya berharap serapan dan pemanfaatan karet dari petani menjadi lebih maksimal. Jadi, nantinya karet kita tidak bergantung lagi pada harga karet luar negeri atau global, kita bisa pakai karet sendiri untuk keperluan masyarakat. Seperti itulah menyelesaikan masalah," papar Syahrul.

Selain itu,Syahrul menyebutkan banyak hal lain yang dapat dikembangkan Sulawesi Tenggara, dan Kementan siap bekerjasama, mului dari penyediaan KUR hingga bibit pertanian.

Hal senada diungkapkan Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Bio Industri yang juga mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Tenggara, Bambang bahwa ada banyak potensi yang dapat dikembangkan di Sulawesi Tenggara, salah satunya kakao dan kopi.

Bahkan berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan (Ditjenbun), Kementerian Pertanian (Kementan), bahwa areal dan produksi kakao pada 2018 tercatat seluas 1.678.268 hektar dengan produksi 593.833 ton per tahun atau lebih tinggi sedikit dibanding tahun 2017 seluas 1.658.421 hektar dengan produksi 590.684 ton per tahun. Alasil, Indonesia menjadi negara penghasil biji kakao terbesar dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Bahkan, masih dari catatan Ditjenbun Kementan bahwa tahun 2018 bahwa nilai ekspornya juga sedikit mengalami peningkatan dari US$ 1.12 juta pada tahun 2017 menjadi US$ 1,25 juta di tahun 2018 (Ditjenbun 2019). Meskipun ekspornya tidak kecil tapi sebagian besar atau sekoitar 97 persennya adalah perkebunan rakyat dan hanya 3 persen saja yang dikembangkan oleh perusahaan besar swasta dan nasional.

“Ini artinya komoditas kakao memiliki peran strategis yang sangat penting, bukan hanya sebagai penyumbang ekspor tetapi juga sebagai sumber mata pencaharian utama lebih dari 2 juta keluarga petani dan sumber bahan baku indurtri,” ucap Bambang.

Kendati demikian, Bambang melihat bahwa peningkatan produksi memberikan peluang pada berkembangya start up, jasa angkutan, perdagangan, industri agro input, dan pengolahan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan bagi semua.

“Sehingga dalam hal ini sangat diperlukan pemeliharaan yang lebih intensif dibanding komoditas perkebunan lainnya. Ketersediaan benih bermutu, pemupukan, naungan, pengairan, pemangkasan menjadi kunci sukses budidaya tanaman kakao,” pungkas Bambang.

BERITA TERKAIT

Covid-19 Meluas,Pemerintah Menjaga Produktivitas Industri

NERACA Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri dapat beperan aktif dalam upaya penanganan virus korona (Covid-19)…

Cegah Penyebaran COVID-19, Pertamina Sterilkan Tabung LPG

NERACA Semarang - Dalam rangka mencegah penyebaran infeksi Virus Corona (Covid-19), PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region IV wilayah…

Petani Milenial Siapkan Layanan Antar Produk Pangan

NERACA Jakarta - Virus Covid-19 telah menjangkit ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Pemerintah pun sudah mengimbau masyarakat untuk menjalankan protokol…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Tepung Jagung Olahan Tembus Pasar Israel

NERACA Cilegon - Pangsa pasar produk olahan berupa tepung jagung atau corn starch hasil industri di Cilegon berhasil tembus pasar…

Pemerintah Upayakan Kebijakan Khusus Bagi Koperasi

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM mengakui bahwa pihaknya sedang mengupayakan ada kebijakan khusus bagi koperasi terkait…

Ribuan Ton Impor Bawang Siap Masuk ke Indonesia

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mengakui jumlah volume RIPH bawang putih dan bombai yang telah diterbitkan…