Antisipasi Virus Korona

Wabah virus korona jenis baru yang berasal dari Wuhan, China, sudah menggegerkan dunia. Peristiwa ini mengingatkan kejadian 17 tahun lalu, saat muncul laporan awal merebaknya wabah SARS (severe acute respiratory syndrome- sindrom pernapasan akut) pada November 2002 di Provinsi Guangdong, China. Wabah berbahaya ini ternyata menyebar sangat cepat. Hanya dalam waktu setengah tahun, sampai Juli 2003, dilaporkan sudah ada 8.069 kasus dan 775 orang meninggal. Sedemikian hebatnya ancaman wabah ini sampai WHO menyatakan sebagai emergensi global.

Kemudian, wabah serupa terulang kembali di China, dimana pemerintah China memberitahu WHO bahwa ditemukan beberapa kasus pneumonia di Kota Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, baru-baru ini.

Pneumonia merupakan radang paru-paru yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, jamur, dan benda asing lain yang masuk ke saluran paru-paru. Disebutkan, virus penyebab pneumonia di Wuhan ini tidak sama dengan virus yang selama ini sudah dikenali. WHO lantas bekerja sama dengan pemerintah China untuk melakukan langkah penanganan.

Menurut Guru Besar FK Unair Prof. Dr. Djoko Santoso, virus korona masih keluarga besar dengan virus flu biasa, juga virus yang lebih parah, seperti SARS dan MERS (middle east respiratory syndrom). Virus yang baru ditemukan di Wuhan ini sementara dinamakan novel corona virus atau 2019-nCoV.

Merebaknya virus baru ini menimbulkan kegemparan global. Penyebarannya sangat cepat sehingga membuat panik banyak negara. Sampai Senin (27/1), tercatat sudah ada 80 orang meninggal dunia. Ada 90 WNI yang masih terisolasi di Kota Wuhan. Angka korban ini diyakini akan terus bertambah. Dalam hitungan minggu, virus baru ini menyebar ke puluhan provinsi dan melintas ke setidaknya 10 negara.

Bila melihat sifat genetika dan protein, virus 2019-nCoV dari Wuhan ini sangat potensial menular ke manusia. Seperti pada SARS, sifat virus 2019-nCov ini juga mampu untuk mengikat protein yang ditemukan di permukaan sebagian besar sel paru-paru manusia. Karena inilah virus tersebut bisa menyebabkan pneumonia (radang paru-paru), seperti sifat virus SARS, walaupun levelnya lebih rendah.

Meskipun demikian, kadar risiko dan dinamika penularan 2019-nCoV antarspesies atau manusia ke manusia ini tetap dipengaruhi oleh faktor lain, seperti respons imun inang, kecepatan virus berkembang biak di dalam paru-paru manusia, dan potensi mutasi yang mungkin membuat virus lebih ganas atau menular.

Di lihat dari asalnya, menurut Prof. Djoko Santoso, sejauh ini belum diketahui binatang apa yang menjadi sumber virus 2019-nCoV meskipun satu penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis genetik virus, dugaan sementara berasal dari ular. Pada kasus SARS, virus ditransmisikan ke pekerja restoran yang membeli dan menyembelih musang hidup di pasar hewan hidup Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong.

Dari sisi ekonomi, wabah ini berdampak luar biasa. Bank Dunia memperkirakan kerugian global akibat wabah virus 2019-nCoV ini sekitar US$54 miliar. Pariwisata dan perdagangan Tiongkok pasti sangat terpukul. Mengacu gambaran di Tiongkok, maka tidak mustahil kejadian wabah virus jenis baru ini juga bisa terjadi di Indonesia. Tiongkok yang kekuatan ekonominya kedua terbesar dunia saja kedodoran menghadapi wabah ini, apalagi Indonesia yang ekonominya tidak sekuat Tiongkok.

Maka itu, sebaiknya ada perencanaan mitigasi untuk menghadapi jika kasus serupa muncul di Indonesia. Sejauh ini langkah paling penting untuk menghentikan menjalarnya wabah ini, adalah dengan menahan virus agar tidak menyebar lewat fasilitas medis yang memadai. Ini berkaca pada saat penanganan MERS dan SARS yang menyebar melalui fasilitas medis yang tidak siap. Sangat diperlukan untuk mengadakan pelatihan pengendalian infeksi dan mengajarkan staf medis untuk bekerja dalam tim terpadu.

Panduan penanganan harus segera disusun. Misalnya, memastikan bahwa semua alat pelindung yang terkontaminasi bisa dilepas dengan aman tanpa kontak dengan kulit, wajah, mata, atau tangan. Juga, perlu mendirikan semacam fasilitas khusus untuk pemeriksaan demam di luar fasilitas yang sudah ada, menyaring calon pasien. Selain itu, mengantarkan penderita demam ke jalur masuk yang terpisah dari pasien lain serta sederet langkah teknis lainnya.

BERITA TERKAIT

Berdayakan Kelas Menengah!

Kesejahteraan masyarakat kelas menengah pada hakikatnya dapat ditingkatkan dengan menciptakan lapangan kerja sebanyak mungkin. Dimana pada saat yang sama, masyarakat…

Omnibus Law Dorong Investasi

Sejak beberapa tahun lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran tak lebih 5%. Indikator memang kurang menggembirakan baik faktor internal maupun…

Harmonisasi Pusat dan Daerah

Indonesia, sebenarnya sudah dikenal dengan keunggulan sumber daya alamnya di mata dunia. Berbagai kebutuhan bisa diakses dengan mudah, karena didukung…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Berdayakan Kelas Menengah!

Kesejahteraan masyarakat kelas menengah pada hakikatnya dapat ditingkatkan dengan menciptakan lapangan kerja sebanyak mungkin. Dimana pada saat yang sama, masyarakat…

Omnibus Law Dorong Investasi

Sejak beberapa tahun lalu pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran tak lebih 5%. Indikator memang kurang menggembirakan baik faktor internal maupun…

Harmonisasi Pusat dan Daerah

Indonesia, sebenarnya sudah dikenal dengan keunggulan sumber daya alamnya di mata dunia. Berbagai kebutuhan bisa diakses dengan mudah, karena didukung…