Kemenperin Siap Menopang Industri Tekstil

NERACA

Jakarta – Ditengah-tengah membanjirnya pakaian impor maka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) siap menopang atau membantu industri tekstil dalam negeri. Hal ini lantaran industri tekstil dalam negeri ikut menopang ekonomi nasional.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita membenarkan bahwa industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor yang berperan penting karena memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Hal ini terlihat dari pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi yang meroket paling tinggi hingga 15,08% pada triwulan III tahun 2019.

“Salah satu kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai industri strategis dan prioritas nasional sesuai dengan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) adalah industri TPT,” kata Agus

Lebih lanjut, menurut Agus, selama ini industri TPT mampu menjadi penghasil devisa yang cukup besar. Ini tercermin dari proyeksi nilai ekspor sepanjang tahun 2019 yang mencapai USD12,9 miliar. Bahkan, industri TPT disebut sektor padat karya, yang telah menyerap tenaga kerja sebanyak 3,73 juta orang.

“Dalam dua tahun terakhir, meskipun di tengah tekanan kondisi ekonomi global, perkembangan industri TPT kita terus membaik, baik itu di pasar domestik maupun internasional,” ungkap Agus.

Bahkan, Agus mengakui bahwa konsumsi TPT di pasar dalam dan luar negeri juga diyakini akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perubahan gaya hidup. Sehingga dalam hal ini untuk memanfaatkan peluang tersebut.

Artinya, pelaku industri TPT nasional perlu bekerja keras supaya dapat meningkatkan produktivitas, kualitas dan efisiensi melalui penerapan teknologi yang lebih modern dengan ditunjang oleh sumber daya manusia (SDM) yang kompeten. Hal ini sesuai dengan penerapan peta jalan Making Indonesia 4.0 dalam upaya kesiapan menghadapi era revolusi industri 4.0.

“Saat ini, industri manufaktur sedang bersiap menghadapi revolusi industri 4.0, yang mengintegrasikan lini produksi di sektor industri secara online. Penerapan industri 4.0 mengacu pada penggunaan otomatisasi, artificial intelligence, kemudian juga ada terjadinya komunikasi machine-to-machine dan human-to-machine, serta pengembangan teknologi berkelanjutan,” ucap Agus.

Lebih dari itu, Agus mengatakan bahwa, revolusi industri 4.0 merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindarkan, namun menjadi peluang baru.

“Indonesia telah bersiap menuju revolusi industri 4.0 untuk menjadi negara yang lebih maju dan ditargetkan menjadi bagian 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030 sesuai target dari roadmap Making Indonesia 4.0,” terang.

Namun, Agus yakin, apabila teknologi industri 4.0 diterapkan pada sektor industri TPT nasional, akan mempercepat peningkatan daya saingnya. Berdasarkan aspirasi besar Making Indonesia 4.0, yang akan diwujudkan adalah menjadikan produsen tekstil dan pakaian jadi di Tanah Air bisa masuk jajaran lima besar dunia pada tahun 2030.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API)Ade Sudradjat mengeluhkan bahwa saat ini kondisi industri tekstil mengalami keterpurukan seperti pengembangan industri sektor hulu di bidang tekstil, terutama terkait kebutuhan bahanpolyesteryang masih impor.

“Kami memberikan harapan besar bahwa adarefinerybaru yang didorong pemerintah yang akan memproduksi paracilin," kata Ade

Sebab, Ade mengakui denganrefineryitu kebutuhanpolyesterdapat dipenuhi dari dalam negeri dan meningkatkan daya saing di masa depan. Kemudian kebutuhkan hutan tanaman rakyat yang menanam kayueucaliptusmaupun akasia sebagai bahan serat rayon.

“Semuanya itu membutuhkan paling tidak 1 juta hektar lahan untuk penanaman kayu jenis tersebut guna menyuplai bahan baku bagi fiber fiskus,” harap Ade.

Lebih lanjut, Ade mengakui investasi dalam jumlah besar juga diperlukan bagi sektor pertenunan atau perajutandying finishing. Terbukti, ada beberapa calon investor yang masih mempertimbangkan kecepatan pelayanan perizinan untuk menanamkan modal di industridying finishing printing.

Artinya diharapkan adanya revitalisasi industri tekstil. Diantaranya pergantian mesin, supaya penjualan mesin lama tidak dikenakan PPn.

"Juga masalah energi, bagaimana pun juga kita menggunakan gas alam supaya harganya jangan terlalu tinggi dibandingkan negara-negara pesaing tinggi yang mendapatkan sumber gas alam dari kita (Indonesia) tapi kita menjual terlalu mahal dari dalam negeri," terang Ade.

BERITA TERKAIT

Impor Sampah Harus Dikaji Ulang

NERACA Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Budisatrio Djiwandono meminta agar kegiatan impor sampah plastik untuk digunakan sebagai…

Korporasi Harus Sejahterakan Masyarakat

NERACA Jambi - Pemerintah harus hadir untuk memastikan bahwa aktivitas korporasi tidak mencemari lingkungan sekitar dan juga tidak mengorbankan kesejahteraan…

Pemerintah Kurangi Impor dan Pacu Utilisasi

NERACA Jakarta - Pemerintah bertekad semakin serius untuk membina dan membangun industri baja nasional, baik itu yang berstatus Badan Usaha…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

KLHK Dukung Omnibus Law, Komisi IV DPR Berharap Pemerintah Berhati-hati

Jakarta – Beanar, bahwa saat ini pemerintah tengah menggodok RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Banyak pihak yang mendukung tapi tidak…

Pemerintah Pastikan RUU Cipta Kerja Selaras Dengan Koridor Konstitusi

NERACA RUU Cipta Kerja bercita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang maju, sejahtera. Hal ini dilakukan melalui upaya memenuhi hak warga…

Pemerintah Dorong Investasi Berkelanjutan Sektor Pertanian di Papua Barat

NERACA Sorong - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menghadiri Pertemuan Tingkat Tinggi Investasi Hijau untuk Provinsi Papua dan Papua Barat,…