KKP Menggandeng FAO Tingkatkan Inovasi Pakan Alternatif

NERACA

Jakarta – Komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam mengembangkan industri pakan tidaklah main-main. Atas dasar itulah KKP menggandeng Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO).

Menteri KKP, Edhy Prabowo membenarkan bahwa pihaknya tengah menggandeng FAO untuk mengembangkan industri pakan ikan berbahan baku maggot.

"Maggot ini memakan sayuran, limbah rumah tangga, limbah restoran, dia bisa mengurai sampah organik," kata Edhy, mengutip ANTARA.

Lebih lanjut, menurut Edhy, maggot adalah serangga pemakan bahan organik, sehingga protein serangga ini berkualitas tinggi dan menjadi sumber protein yang baik bagi ikan. Ini karena maggot juga dikenal dengan Black Soldier Fly (BSF).

Bahkan, kemampuan maggot mengurai sampah organik dalam waktu 14 sampai 20 hari sangat berpotensi bagi pengembangan ekonomi berbasis laut atau ekonomi biru. Inovasi penggunaan pakan alternatif dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan restoran untuk memproduksi maggot ini telah dikembangkan sekelompok warga di Kabupaten Garut.

"Inovasi penggunaan pakan ikan alternatif semacam ini harus kita dukung," ujar Edhy.

Disisi lain, Edhy mengakui, saat ini banyak permasalahan dalam hal pakan untuk ikan, baik ikan lele, patin, ikan mas, dan ikan lain, sehingga pihak kementerian ikan dan kelautan harus mencari solusi agar para pembudidayaan ikan terus menjalankan ternaknya. selain dari pakan konsentrat bisa juga mengunakan pakan dari magot (yang berasal dari lalat hitam).

“Maka dalam hal ini, KKP berharap para pembudidaya ikan menggunakan Magot yang berasal dari Lalat Hitam yang dibudidayakan oleh kelompok pembudidaya hasilnya sangat baik,” terang Edhy.

Sehingga dalam hal ini, Edhy jugaberharap pihaknya akan terus melakukan Monitoring ketiap daerah guna memastikan kelompok pembudidaya ikan tetap beraktivitas dan juga menerima aspirasi serta keluhan dari kelompok tentang permasalahan bantuan sarana dan prasarananya.

Bahkan KKP juga siap memberikan bantuan lagi kepada para kelompok pembudidayaan ikan melalui Dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan jumlah Uang 200 sampai 500 juta bagi para kelompok, Dengan kriteria memenuh syarat pengajuannya yang sudah ditentukan menurut aturan.

Sementara itu, Stephen Rudgard mengatakan, FAO akan mendukung pemerintah Indonesia sesuai dengan perannya untuk mengembangkan program perikanan Indonesia, termasuk berbagi pengetahuan dan akses teknologi dan praktik yang baik termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Dalam hal ini maka FAO bersama KKP berkomitmen mengembangkan pengelolaan perairan umum daratan yaitu pengembangan budidaya spesies belida, arwana dan sidat.

“Kemudian, pengelolaan perikanan tangkap berdasarkan prinsip Ecosystem Approach Fisheries Management (EAFM), peningkatan penanganan dan pengendalian penyakit ikan, dengan mengembangkan antimicrobial resistance, rantai nilai produk perikanan dengan peningkatan ketelusuran produk perikanan dan sertifikasi produk perikanan untuk meningkatkan daya saing produk ekspor perikanan,” Stephen.

Kemudian, Stephen juga berkomitmen untuk mendukungan FAO Indonesia terhadap implementasi Port State Measures Agreement (PSMA). Kegiatan itu diimplementasikan dalam bentuk kerja sama Proyek Hibah Luar Negeri (PHLN).

Seperti diketahui, saat ini terdapat empat proyek FAO yang sedang berjalan di KKP dan tiga rencana proyek yang akan dilaksanakan dan masih dalam pembahasan.

Sebagai informasi, komponen pakan memang menempati porsi tertinggi dalam budidaya ikan. Berkisar hingga 60 persen dari total biaya produksi. Guna menurunkan biaya pakan tersebut KKP mendorong pemenuhan kebutuhan bahan baku lokal melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri.

Sebelumnya, Bupati Bandung, Dadang M Naser menambahkan, bahwa pembudidayaan ikan yang ada di kabupaten Bandung tersebar di 8 wilayah yang berjumlah 1000 Ha untuk budidaya ikan. Hal ini memang menjadi program pemda kabupaten Bandung yang mengharuskan masyarakatnya untuk selalu mengkonsumsi ikan, Walau wilayah kabupaten Bandung tidak mempunyai laut namun saat ini telah tersedia Pasar IKan Modern yang siap memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

“Sebab mengonsumsi ikan secara teratur akan meningkatkan stamina tubuh yang kuat, Stabil dan juga mencegah Stanting, karena ikan merupakan salah satu hewani yang proteinnya tinggi.” Pungkas Dadang.

BERITA TERKAIT

Kemenkop dan UKM Mendorong Pekerja Berkoperasi

NERACA Kementrian Koperasi dan UKM memberikan apresiasi kepada Federasi Serikat Pekerja Transport Indonesia–Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (F.SPTI K.SPSI), yang …

KKP Permanenkan Aturan Perlindungan Bambu Laut

NERACA Jakarta – Penetapan status perlindungan penuh bambu laut menjadi langkah strategis yang diputuskan oleh pemerintah untuk mencegah penurunan populasi…

Inaplas Tolak Cukai Plastik

NERACA Jakarta - Sekertaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono dengan tegas menolak kebijakan penerapan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Kemenkop dan UKM Mendorong Koperasi Berbasis Digital

NERACA Jakarta - Kementerian Koperasi (Kemenkop) dan UKM mengambil langkah-langkah mempercepat terwujudnya koperasi modern melalui pengembangan digitalisasi koperasi. Salah satunya,…

Membangun Pertanian Itu Tanggung Jawab Bersama

NERACA Jakarta - Membangun pertanian adalah tanggung jawab bersama. Hal itu lantaran membutuhkan kerja-kerja kolaboratif dan ego sektoral harus ditanggalkan.…

AALI Optimalkan Keunggulan Teknologi Digital

NERACA Bogor – Ditengah-tengah ketatnya persaingan minyak nabati, maka PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), selaku perusahaan yang bergerak dibidang…