BI Siapkan Strategi Hadapi Tekanan Inflasi

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia (BI) menyiapkan berbagai rencana dan strategi kebijakan moneter guna menghadapi perkiraan kemungkinan peningkatan inflasi. "Dalam rapat Dewan Gubernur BI pada 12 April lalu membahas perkiraan kemungkinan yang akan ditempuh pemerintah terkait kebijakan BBM dan langkah antisipasi yang sedang dan akan ditempuh BI," kata Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warjiyo di Jakarta, Selasa.

Lebih kata Perry, BI juga telah mendeteksi indikasi ekspektasi inflasi mulai meningkat. Karena itu BI berupaya dapat dilihat melalui indikator dari survei penjualan eceran pedagang, survei ekspektasi konsumen maupun ekspektasi yang terimplikasi oleh para pelaku pasar keuangan. "Memang ada indikasi ekspetasi inflasi itu meningkat," tambahnya

Guna menekan laju inflasi, BI pada Maret dan April 2012 melakukan penguatan dalam operasi moneter. Selain itu, menurut dia, BI juga melakukan simulasi yang membahas konsistensi suku bunga "BI rate" dengan outlook makro ekonomi untuk 2012 dan khususnya 2013. "Simulasi kami menunjukkan bahwa nilai BI rate 5,75% masih konsisten dengan prakiraan makro ekonomi pada 2012 dan 2013," kata dia.

Perry menambahkan, langkah penguatan operasi moneter bisa mengendalikan likuiditas sehingga suku bunga operasi moneter dan suku bunga pasar uang sedikit bergerak naik, khususnya untuk tenor yang lebih dari satu hari.

Dengan operasi tersebut suku bunga operasi moneter BI untuk "deposit facility" dengan tenor sembilan bulan sekitar 4%, naik 0,25% dari nilai sebelumnya pada awal Maret sebesar 3,75%. Sedangkan untuk tenor yang satu hari, BI masih mengupayakan berada di angka 3,75%. "Kami yakin, tidak ada alasan ini akan membawa suku bunga deposito atau suku bunga kredit naik karena yang sembilan bulan masih 4% dan maksimum penjaminan deposito 5,5%,” jelasnya.

Yang jelas, kata Perry lagi, dengan kondisi seperti ini, maka perbankan tak membuat hal yang aneh-aneh. Apalagi terkait dengan suku bunga kredit. “Tidak ada alasan bagi bank untuk menaikkan suku bunga deposito apalagi menaikkan suku bunga kredit," tegasnya

Perry menekankan, BI akan terus mewaspadai risiko tekanan inflasi dan langkah yang akan dilakukan dengan tergantung pada kebijakan harga BBM yang ditempuh oleh pemerintah. "Meskipun tekanan meningkatnya inflasi bersifat temporer dari kemungkinan kebijakan BBM ini, BI akan menempuh langkah yang diperlukan untuk mengatasi tekanan jangka pendek tersebut," imbuhnya.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan kembalinya tekanan laju inflasi pada bulan Mei, namun diperkirakan masih akan lebih rendah dibanding inflasi di bulan yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo di Jakarta, Kamis mengatakan, tekanan inflasi terjadi karena adanya tekanan sejumlah faktor yang mempengaruhi harga-harga di dalam negeri diantaranya adanya permintaan menyusul belanja pemilu 2009 dan kenaikan harga pangan. **bari

Related posts