Jangan Lupakan Kakao Indonesia

Oleh: Ir. Bambang, MM

Staf Ahli Mentan Bidang Bio Industri

Kakao (Theobroma cacao L) adalah tanaman perkebunan yang menghasilkan biji kakao sebagai bahan pembuatan aneka makanan dan minuman cokelat, kesukaan kaum milenial yang sejak dulu dikenal sebagai makanan para dewa dan kaum bangsawan karena berkhasiat bagi kesehatan.

Berdasarkan catatan Ditjen Perkebunan (Ditjenbun) Kementan, areal dan produksi kakao pada 2018 tercatat seluas 1.678.268 ha dengan produksi 593.833 ton per tahun atau lebih tinggi sedikit dibanding 2017 seluas 1.658.421 ha dengan produksi 590.684 ton per tahun. Alhasil, Indonesia menjadi negara penghasil biji kakao terbesar dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Bahkan, menurut data yang sama, pada 2018 nilai ekspornya juga sedikit mengalami peningkatan dari US$ 1.12 juta (2017) menjadi US$ 1,25 juta. Meskipun ekspornya tidak kecil tapi sebagian besar atau sekitar 97%nya adalah perkebunan rakyat dan hanya 3% yang dikembangkan oleh perusahaan besar swasta dan nasional.

Artinya, komoditas kakao memiliki peran strategis yang sangat penting, bukan hanya sebagai penyumbang ekspor tetapi juga sebagai sumber mata pencaharian utama lebih dari 2 juta keluarga petani dan sumber bahan baku indurtri.

Terbukti, berdasarkan PP No. 55/2008 tentang pengenaan bea keluar (BK) terhadap barang ekspor termasuk biji kakao telah berhasil mendorong tumbuh dan berkembangnya industri pengolahan cokelat dalam negeri.

Tapi sangat disayangkan meningkatnya permintaan akan biji kakao belum diikuti dengan peningkatan produksi kakao dalam negeri, bahkan berpotensi menurun karena sebagian besar kakao rakyat sudah berumur tua, kurang terpelihara, terserang hama penyakit dengan tingkat produktivitas yang semakin menurun. Ketidak mampuan petani dan terbatasnya penyuluh perkebunan membuat kondisi perkakaoan Indonesia semakin terpuruk.

Di lain pihak para stakeholders terkait kakao nasional belum kompak, bahkan berita terkini kalangan industri pun berupaya menuntut penghapusan bea masuk (BM) impor biji kakao agar lebih leluasa memenuhi kebutuhan bahan baku industri.

Melihat hal tersebut, bila pemerintah sampai menyetujui usul penghapusan BM kakao dimaksud, berarti petanilah yang paling dirugikan “sudah jatuh tertimpa tangga.” Ini karena disaat petani sedang galau memikirkan kebutuhan modal untuk memperbaiki kakaonya, kebijakan tersebut pastinya berdampak menurunnya harga biji kakao dalam negeri.

Atas dasar itulah maka pada periode 2009 – 2013 dilaksanakan Gerakan Nasional (Gernas) Kakao. Akan tetapi program tersebut baru menjangkau sekitar 26% dari total areal kakao nasional. Selama lima tahun terakhir kebijakan Kementan masih berfokus pada sukses swasembada pangan, sehingga dukungan untuk pengembangan perkebunan terutama kakao sangat terbatas.

Apabila tidak segera dilakukan perbaikan dikhawatirkan tanaman kakao rakyat akan diganti dengan komoditas lain yang lebih menguntungkan bagi petani. Terbukti, di beberapa sentra kakao rakyat, komoditas ini sangat mendesak untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Artinya, dengan banyaknya kebun yang dibiarkan terlantar tidak berproduksi lagi dan sebagian mengganti tanaman kakaonya telah hilang. Kebun kakao yang masih berproduksi hanya di wilayah-wilayah ex Gernas Kakao. Padahal permintaan akan biji kakao tidaklah kecil.

Kendati demikian, bahwa peningkatan produksi memberikan peluang pada berkembangya start up, jasa angkutan, perdagangan, industri agro input, dan pengolahan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan bagi semua.

Di sisi lain, petani kakao masih mengelola usaha tani kakaonya dengan cara sub sistem, karena ketidakmampuan secara ekonomi dan kurangnya penyuluhan perkebunan. Kakao seperti halnya kopi, menghendaki pemeliharaan yang lebih intensif dibanding komoditas perkebunanlainnya. Ketersediaan benih bermutu, pemupukan, naungan, pengairan, pemangkasan menjadi kunci sukses budidaya tanaman kakao.

Padahal sudah ada teknologi telah untuk mengatasi permasalahan budidaya dan pasca panen kakao, tapi belum dapat diterapkan secara luas di kebun petani. Tanaman kakao dengan pemeliharaan yang baik dapat menghasilkan 2 hingga 5 ton biji kakao kering perhektar pertahun, itu berarti dapat diingkatkan produktivitasnyamenjadi 4 – 10 kali lipat dibanding capaian produktivitas saat ini.

Bila hal ini dapat dilakukan, dengan luas areal kakao 1,68 juta ha setiap tahunnya bisa memproduksi 3-8 juta ton per tahun jauh mengungguli Pada Gading dan Ghana sebagai penghasil kakao terbesar di dunia yang saat ini masing-masing sekitar 2 juta ton dan 0,9 juta ton.

BERITA TERKAIT

Urgensi Pembangunan dan Pemberdayaan Kepulauan

  Oleh: Stanislaus Riyanta Program Doktoral Kebijakan Publik UI   Bagi warga yang tinggal di kota besar, lulus sekolah adalah…

Apa Life Cycle Assessment?

  Oleh: Dr.Kiman Siregar, STP.,MSi  Dosen Teknik Pertanian Unsyiah   Life Cycle Assessment (LCA) merupakan salah satu metodologi yang dapat…

Coast Guard, KPLP dan Bakamla?

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (NAMARIN)   Penjaga laut dan pantai atau sea and coast guard…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Urgensi Pembangunan dan Pemberdayaan Kepulauan

  Oleh: Stanislaus Riyanta Program Doktoral Kebijakan Publik UI   Bagi warga yang tinggal di kota besar, lulus sekolah adalah…

Apa Life Cycle Assessment?

  Oleh: Dr.Kiman Siregar, STP.,MSi  Dosen Teknik Pertanian Unsyiah   Life Cycle Assessment (LCA) merupakan salah satu metodologi yang dapat…

Coast Guard, KPLP dan Bakamla?

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (NAMARIN)   Penjaga laut dan pantai atau sea and coast guard…