Ujian Mengukur Daya Kritis Siswa?

Pelajar sekolah menengah umum (SMU) pekan ini sedang mengikuti ujian nasional (UN) yang diselenggarakan pemerintah. Namun banyak pihak mempertanyakan, apakah mutu UN akan membawa dampak kemajuan dunia pendidikan kita? Jawabannya belum tentu.

Argumennya, ujian yang diselenggarakan pemerintah itu hanya mengukur ranah kognitif, itupun yang paling rendah karena hanya dengan pilihan ganda. Padahal hakikat pembelajaran sejatinya mampu meningkatkan siswa kepada sikap kritis, inovatif, kreatif, dan mendorong siswa selalu ingin tahu.

Siswa yang juara kelas sejak kelas I mungkin saja bisa tidak lulus gara-gara gagal dalam UN, sehingga nilai matematika misalnya di bawah standar. Lalu dimana letak keadilan kalau hanya soal nilai Matematika, IPA, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, kurang sepersekian nol koma di bawah standar? Padahal tiap siswa memiliki keunikan sendiri sehingga empat mata pelajaran itu bukan satu-satunya ukuran kesuksesan seseorang.

Persoalan lain yang sering mencuat dalam pelaksanaan UN adalah apakah ujian itu dapat dikatakan adil mengingat mutu tiap sekolah, terutama di Jawa, luar Jawa atau desa-kota berbeda. Dapatkah ditunjukkan secara ilmiah bahwa ujian nasional merupakan cara paling tepat mengukur prestasi siswa, meski tiap sekolah memiliki kemampuan berbeda? Apakah ada petunjuk jika sebuah sekolah di pelosok Papua minim sarana dan prasarana, mampu bertanding dengan sekolah di Jakarta yang lengkap sarana dan fasilitas pendukungnya?

Sebab itu, kembali kepada esensi ujian itu yang menimbulkan dampak psikologis dahsyat bagi siswa, guru, dan birokrat pendidikan di daerah, yang berdampak pada masa depan negeri ini dalam tanda tanya besar. Apakah UN sanggup melahirkan siswa-siswa yang kreatif dan mandiri, sementara mereka hanya disibukkan latihan menjawab soal dan hal-hal yang bersifat metafisis seperti doa bersama yang cenderung pragmatis belaka?

Kesibukan siswa untuk menghafal dan terampil mengerjakan soal, jelas akan berpengaruh terhadap gaya mengajar guru. Siswa akan makin jauh dari lingkungan yang merupakan modal awal untuk dikonstruksi menjadi pengetahuan lewat abstraksinya. Padahal kemampuan mengabstraksi lingkungan menjadi bekal berharga bagi siswa untuk membentuk struktur konsep pengetahuan.

Nah, jika konsep pengetahuan ini sudah lemah maka hadirnya insan-insan kreatif, inovatif, kritis dan mampu mendayagunakan kemampuan kognitif, psikomotorik, dan afektifnya juga bakal terganggu. Seperti kasus anak jenius bernama Ted Kaczynski. Dia masuk Harvard University pada usia 16 tahun dan menamatkan sarjananya dalam waktu 4 tahun, selanjutnya meraih gelar doktor matematika.

Ted sangat tertarik pada teknologi bom sehingga profesi dosen di almamaternya dia tinggalkan. Ironisnya, ketika Ted sukses membuat bom, justeru ini awal kefrustrasiannya. Dimana bom yang dia buat menewaskan 2 orang dan mencederai puluhan lainnya, yang mengakibatkan dia masuk penjara.

Cerita singkat ditulis oleh Paul G Stoltz dalam bukunya Adversity Quotient (2000). Yang intinya adalah, tidak memadainya seseorang hanya memiliki intellectual quotient (IQ) yang unggul saja. Jika sekolah gagal menghasilkan murid-murid yang mampu berpikir kritis, kreatif dan tahan banting, tentu di masa mendatang negeri ini akan kesulitan menyejajarkan diri dengan negara-negara maju.

Related posts