Masyarakat Siaga Bencana

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Musibah gempa kembali menghantui masyarakat Aceh pada pekan ini dengan kekuatan 8,5 skala richter. Tentunya, musibah gempa ini kembali membuka duka lama masyarakat serambi Mekkah itu di tahun 2004 dengan disusul tsunami. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk kedua kalinya bagi masyarakat Aceh tentang kesiapsiagaan terhadap musibah gempa.

Memang bencana tidak pernah bertanya, apakah kita siap atau tidak untuk menghadapinya dan seringkali bencana datang, justru ketika kita sedang lupa, atau saat kita lengah terhadap alam dan lingkungan sekitar kita. Karena itu, sekali lagi kepekaan dan kewaspadaan masyarakat Aceh untuk senantiasa mencermati keadaan alam dan lingkungan menjadi sangat penting.

Bagaimanapun, setiap ada tanda-tanda alam yang diperkirakan berpotensi menimbulkan bencana, tentunya masyrakat wajib mengantisipasinya. Oleh karena itu, pepatah lama mengajarkan "sedia payung sebelum hujan" sangat berharga dan relevan dengan upaya mewujudkan masyarakt yang siaga bencana.

Indonesia secara geografis berada pada pertemuan empat lempeng teknonik utama dunia atau disebut The Ring Of Fire, yang membuat kawasan ini sangat rentan peristiwa bencana geologis. Meski bencana adalah peristiwa yang tidak bisa diketahui pasti kehadirannya, bencana tidak berarti tidak bisa diatasi oleh manusia, bahkan bencana alam sekalipun.

Bencana sebagai sebuah risiko yang bisa dipantau dan bahkan sebisa mungkin menghilangkan dampak bencana. Tetapi bila tidak mampu, yang bisa dilakukan adalah mengontrol dengan cara mereduksi melalui aktifitas preventif (pre lost) dan penanggulangan (post lost). Penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama, dimana pemerintah sebagai penanggung jawab dan dilaksanakan bersama masyarakat.

Namun ironisnya, aturan main soal penanganan bencana belum semuanya diterapkan oleh pemerintah daerah dan hasilnya, langkah pemerintah menghadapi bencana lebih bersifat reaktif dan responsif saja dan bukan tindakan preventif. Kondisi inilah yang mengakibatkan, ketidaksiapan pemerintah daerah menghadapi ancaman dan menjadi bencana lebih besar. Fakta mengungkapkan di Kabupaten Simeueleu belum terpasang alat pendeteksi tsunami, padahal daerah itu sangat rawan bencana.

Konsep dasar kebijakan penanganan bencana pada dasarnya membutuhkan upaya menyeluruh dan terpadu mulai dari sebelum, saat dan sesudah terjadinya bencana yang meliputi kegiatan pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat hingga pemulihan termasuk penanganan pengungsi.

Akan tetapi hal penting adalah memasyarakatkan masyarakat yang waspada bencana dengan merespon setiap bencana tidak lagi reaktif, tetapi direspon melalui tindakan preventif atau pengurangan risiko. Artinya, masyarakat dan Pemda Aceh khususnya harus peka terhadap segala bencana agar tidak menimbulkan kerugian dan korban yang lebih besar. Selain itu, sikap ramah terhadap lingkungan harus terus diajarkan kepada anak cucu kita agar hidup lebih bijak berdampingan dengan alam.

Related posts