Penjualan Sukuk Negara Capai Rp1,9 Triliun

NERACA

Jakarta--- Pemerintah menjual sukuk negara atau surat berharga syariah negara (SBSN) sebesar Rp1,9 triliun melalui lelang lima seri Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Penawaran yang masuk dalam lelang pada Selasa (10/4) mencapai Rp7,07 triliun. Namun jumlah yang dimenangkan sebesar Rp1,9 triliun itu lebih besar dari jumlah indikatif yang ditetapkan.

Demikian kata Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Yudi Pramadi dalam keterangan tertulisnya, Jakarta,10/4

Menurut Yudi, sebelumnya penjualan sukuk mencapai sebesar Rp1 triliun. Adapun penjualan sukuk negara itu ditujukan untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2012. Rincian jumlah Rp1,9 triliun terdiri dari seri PBS001 sebesar Rp1 triliun dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 5,31%, dari penawaran yang masuk Rp2,17 triliun. Jumlah dimenangkan untuk PBS002 sebesar Rp100 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,11% , dari penawaran yang masuk Rp466 miliar.

Jumlah dimenangkan untuk PBS003 sebesar Rp550 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,53%, dari penawaran yang masuk Rp1,34 triliun. Sementara jumlah dimenangkan untuk PBS004 sebesar Rp250 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 6,90%, dari penawaran yang masuk Rp639 miliar. Sedangkan untuk SPN-S11102012 tidak ada yang dimenangkan sementara penawaran dari peserta lelang yang masuk mencapai Rp2,45 triliun.

PBS001 memberikan tingkat imbalan 4,45% dan akan jatuh tempo 15 Februari 2018. PBS002 dengan tingkat imbalan 5,45% dan akan jatuh tempo 15 Januari 2022. PBS003 memiliki tingkat imbalan 6,0% dan akan jatuh tempo 15 Januari 2027. Sedangkan imbalan untuk PBS004 sebesar 6,1% dan akan jatuh tempo 15 Februari 2037.

Sebelumnya, Dewan Syariah Nasional memperkirakan jumlah nilai surat berharga syariah (sukuk) pada 2012 bisa mencapai Rp2 triliun. "Pertumbuhan sukuk pada 2012 sangat besar, karena ada dua emiten yang berencana menerbitkan sukuknya pada pertengahan tahun ini dengan jumlah yang cukup besar," kata Wakil Sekretaris Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional MUI Kanny Hidaya saat diskusi Prospek Sukuk 2012 di Jakarta, Kamis.

Dia menjelaskan meski jumlah sukuk korporasi pada periode Januari-Oktober 2011 hanya sekitar Rp7,915 miliar, maka pada 2012 nilai tersebut bisa tumbuh menjadi sekitar Rp2 triliun karena PT Bank Muamalat Tbk akan menerbitkan sukuk sebesar Rp800 miliar pada akhir Juli dari jumlah seluruhnya Rp1,5 triliun (2012).

Sedangkan PT Mayora Indah Tbk berencana menerbitkan sukuk sebanyak Rp250 miliar pada April 2012. "Itu baru dua emiten, dengan demikian jumlah pertumbuhannya sangat besar namun disayangkan saat ini masih sangat sedikit minat emiten dalam memanfaatkan sukuk sebagai alternatif pembiayaan," tegas dia.

Selain itu tingkat likuiditas lembaga keuangan syariah yang saat ini sedang baik, menurut dia bisa dimanfaatkan oleh para emiten untuk menerbitkan sukuk pada 2012. "Penerbitan sukuk tidak hanya memberi pilihan pembiayaan namun bisa digunakan sebagai sarana perbaikan keuangan perusahaan dan mendorong penerapan syariah dalam operasionalnya seperti mengutamakan produk yang halal bagi para konsumen," jelas Kanny.

Kanny menjelaskan proses emisi sukuk relatif tidak berbeda dengan proses emisi obligasi konvensional meskipun ada beberapa tambahan akad. "Terlebih lagi saat ini Bapepam-LK mengeluarkan panduan variasi struktur dimana ada 19 variasi skema sukuk; tujuh untuk sukuk mudharabah dan 12 untuk sukuk ijarah," kata pungkasnya. **cahyo

Related posts