Hong Kong dan Korea Bisa Jadi Mitra Bisnis Utama - AS dan Eropa Dilanda Krisis

NERACA

Jakarta – Di tengah krisis yang membelit negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika Serikat (AS), sejumlah negara seperti China dan daerah administratif khusus Hong Kong, dan Korea Selatan sudah tidak lagi memandang sebelah mata terhadap kekuatan ekonomi Indonesia. Bahkan, pemerintah Hongkong dan Korea Selatan saat ini sudah menempatkan Indonesia sebagai mitra bisnisnya.

Menurut Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung, Hong Kong yang merupakan bagian dari China dan sebagai partner terbesar di dunia, diharapkan dapat menjadi jendela untuk Indonesia. "Hong Kong yang biasanya tidak terlalu gimana-gimana tentang Indonesia malah menawarkan, kami ready untuk Hong Kong dipakai sebagai window of Indonesia for the world," ungkapnya pada acara Citi Economic and Political Outlook Seminar di Jakarta, Rabu (11/4).

Selain itu, menurut Chairul, saat ini Hong Kong juga begitu sangat tertarik untuk berinvestasi di Indonesia. Apalagi setelah melihat sektor keuangan dan barang Indonesia ekspor ke Singapura. Hong Kong disebut telah menawarkan diri untuk menjalin kerja sama ekonomi yang lebih erat dengan Indonesia. Hal ini seiring dengan positifnya perekonomian Indonesia.

Dengan melihat hasil kunjungan ke sejumlah negara tersebut, Chairul optimis investasi di Indonesia masih akan tetap tumbuh dan berkembang. “Ketika menemani Presiden ke Hong Kong, Korea, dan China, terlihat Indonesia berada di posisi atas. Misal, Korea ingin Indonesia menjadi partner utama untuk investasi utama di dunia. Apresiasi itu bukan hanya dilakukan oleh pemerintahnya saja tetapi juga dunia usahanya,” lanjutnya.

Menurut dia, karena kondisi AS dan Eropa yang masih mengalami krisis, negara di kawasan itu masih belum berpotensi untuk menanamkan investasinya di Indonesia. Karena itu Indonesia tidak perlu banyak berharap pada kedua negara tersebut mengenai investasi, karena keadaan dua negara itu masih dilanda krisis.

Penanganan Pemerintah

Chairul mengatakan, terbebasnya Indonesia dari krisis tak lepas dari tepatnya penanganan pemerintah. "Krisis ini bagian dari transisi ekonomi menuju perkembangan yang lebih baik dan paling penting adalah bagaimana kita bisa mengelolanya dengan baik," ujarnya.

Dia melihat, Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat potensial. Bila sumber daya ini digunakan, bisa membuat pertumbuhan ekonomi lebih mantap. Sayangnya, masih sering terjadi konflik di masyarakat.

Chairul juga menyinggung mengenai pertumbuhan ekspor Indonesia yang cenderung menurun tidak bisa dianalogikan dengan menurun dari segi jumlahnya, tetapi harus dilihat dari nilai perdagangan. Dia menjelaskan, penurunan hanya terjadi pada persentase pertumbuhan perekonomian saja, namun jumlah ekspor Indonesia masih mengalami peningkatan, dan hal tersebut masih dapat menopang pertumbuhan perekonomian Indonesia.

"Hati-hati dengan kalimat menurun. Menurun itu bukan jumlahnya tetapi pertumbuhannya, dulu 20% sekarang 15%. Tetapi, nilainya naik dan kalau nilai naik itu menunjang pertumbuhan ekonomi. Bahkan, Sebanyak 60% pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi domestik," ungkapnya.

Oleh karena itu, meski banyak yang mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun dibandingkan tahun lalu, namun Chairul percaya masih akan tumbuh dikisaran 6,3-6,5% yang akan ditopang oleh banyak investasi, ekspor dan konsumsi dalam negeri.

Selain itu, Chairul mengatakan, setiap tahunnya Indonesia diibaratkan seperti menciptakan negara Singapura baru, hal tersebut diungkapkan lantaran setiap tahunnya Indonesia menambah penduduk sebesar 4 juta penduduk, di mana jumlah tersebut setara dengan jumlah penduduk Singapura.

"Dengan meningkatnya pendapatan per kapita di Indonesia, ditambah konsumsi dalam negeri yang kuat maka dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jadi potensinya besar sekali," lanjutnya.

Related posts