Membawa Produk Daur Ulang Plastik ke Kancah Internasional

NERACA

Jakarta - Diaspora dan Desainer Indonesia Mey Hasibuan membawa kasil karyanya yang didominasi dengan bahan sampah daur ulang untuk dipamerkan di ajang pameran internasional. Dalam Seminar Menjadi Konsumen yang Peduli Lingkungan, di Jakarta, Sabtu (14/9), Mey menjelaskan bahwa pangsa pasar produk daur ulang di kancah internasional sangatlah besar sehingga dirinya meyakini produk daur ulang asal Indonesia bisa bersaing dengan produk lainnya.

"Kami tak hanya menjual produk daur ulang saja, namun juga menjual produk yang mana dibuat oleh para wanita lansia dan juga difabel. Artinya ketika membeli produk ini, selain menjaga dan melestarikan bumi serta juga memberdayakan para wanita lansia dan juga kaum difabel," kata Mey yang sudah tinggal di Amerika selama 15 tahun dan telah memiliki beberapa toko.

Ada anggapan produk daur ulang dibanderol dengan harga yang mahal, menurut Mey, hal itu wajar karena produk daur ulang dibuat dengan cara tradisional. "Kenapa mahal? karena itu salah satu bentuk kita menghargai jerih payah si pembuat produk tersebut. Seperti tas toothbag yang mana hasil anyaman dari Ibu Habibah yang berusia lebih dari 80 tahun. Jadi kalau kita membeli berarti ikut memberdayakan mereka juga," jelasnya.

Produk daur ulang yang dihasilkan Mey Hasibuan lewat merek Inang Ethnic ini mengambil daur ulang plastik yang mana Indonesia dikenal sebagai penghasil plastik terbesar kedua di dunia. Apalagi satu kantong plastik itu terurainya bisa mencapai 450 tahun per kantong plastiknya. "Banyak orang yang bangga membawa tas bermerek akan tetapi disampingnya membawa kantong plastik," jelasnya. Saat ini produk Inang Ethnic hanya tersedia online di Handmadenesia.com, dan pameran pameran tertentu.

Ratna Sutedjo, Founder Precious One, yayasan nirlaba untuk penyandang disabilitas menjelaskan bahwa dahulu kepedulian terhadap disabilitas sangatlah kecil. "Para penyandang disabilitas itu sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Makanya dahulu itu tak ada satupun penyandang disabilitas dapat bekerja," katanya.

Beruntung, kata Ratna, beberapa tahun terakhir, kaum disabilitas mendapatkan kesempatan untuk bekerja. Salah satunya Siti penyandang tuna rungu mendapatkan pekerjaan membuat tas daur ulang dari Inang Ethnics. "Saya merasa senang dapat bekerja. Apalagi mendapatkan pesanan daroli Ibu Mey," kata Siti yang diartikan oleh Ratna.

Menurut Ratna, mengelola sampah itu tidaklah mudah. Misalnya saja, sampah itu butuh dibersihkan terlebih dahulu agar menghilangkan kotoran dan racunnya, lalu juga harus dipotong secara proporsional agar dapat diatur polanya dengan mudah. "Dulu itu, sampah bisa diambil semaunya saja. Namun sekarang sampah itu mulai ada nilainya. Jadi produk daur ulang kini lebih bernilai harganya," tambahnya.

BERITA TERKAIT

Ayam Geprek Menara Tawarkan Sistem Waralaba

  NERACA Jakarta - Menu makanan ayam dari dulu sampai sekarang sangat banyak digemari di semua kalangan masyarakat. Mulai dari…

Mobvista Ungkap Peluang Besar dalam Konten Video

  NERACA Jakarta - Platform teknologi penyedia jasa mobile advertising dan analytic, Mobvista mengungkap bagaimana brand dan marketer di Indonesia dapat…

Pindahkan Ibukota, Bappenas Minta Saran Tokoh Dayak

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meminta saran dari para…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Ayam Geprek Menara Tawarkan Sistem Waralaba

  NERACA Jakarta - Menu makanan ayam dari dulu sampai sekarang sangat banyak digemari di semua kalangan masyarakat. Mulai dari…

Mobvista Ungkap Peluang Besar dalam Konten Video

  NERACA Jakarta - Platform teknologi penyedia jasa mobile advertising dan analytic, Mobvista mengungkap bagaimana brand dan marketer di Indonesia dapat…

Pindahkan Ibukota, Bappenas Minta Saran Tokoh Dayak

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meminta saran dari para…