KS Lepas Mayoritas Saham Krakatau Daya Listrik - Divestasi Taksir Capai Rp 2 Triliun

NERACA

Jakarta – Proses restrukturisasi dan efisiensi yang dilakukan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) atau (KS) guna menyehatkan kinerja keuangan, memaksa bagi emiten produsen baja ini untuk melepas saham anak usahanya dan salah satunya akan melepas sebanyak 80-100% saham anak usahanya, PT Krakatau Daya Listrik (KDL), kepada PT Pembangkit Listrik Negara (Persero). Nilai divestasi saham tersebut diproyeksikan mencapai Rp 2 triliun.

Kata Direktur Utama Krakatau Steel, Silmy Karim, divestasi mayoritas saham KDL diharapkan rampung pada kuartal IV-2019. Nilai final pelepasan saham tersebut masih didiskusikan dengan PLN. “Saat ini, proses restrukturisasi organisasi perusahaan sudah mencapai 34%, sehingga divestasi KDL itu ditargetan harus selasai tahun ini,” jelas dia seperti dikutip investor di Jakarta, kemarin.

Manajemen Krakatau Steel mengakaui bahwa proses negosiasi sedang berlangsung dan ditargetkan divestasi tersebut tuntas akhir tahun ini. Divestasi tersebut juga sejalan dengan program restrukturisasi organisasi yang sedang dilaksanakan perseroan. Krakatau Steel saat ini tercatat sebagai penguasa sepenuhnya sahamKDLyang memiliki nilai aset sebelum eliminasi sebesar US$ 230,57 juta per Juni 2019.KDLmerupakan salah satu anak usaha perseroan yang membukukan laba selama semester I-2019.

KDLyang beroperasi sejak 1996 ini tercatatmemiliki lima unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang masing-masing berkapasitas 80 megawatt (MW). Alhasil, total kapasitas terpasang mencapai 400 MW. Berdasarkan laman resmiKDL, bahan bakar utama dari PLTUKDLadalah gas alam dan Bahan Bakar Minyak (BBM) residu. SemulaKDLberoperasi secara mandiri. Seiring berjalannya waktu, pembangunan pabrik baru di Kawasan Industi Krakatau juga berkembang, sehingga transmisi PLTUKDLterinterkoneksi dengan jaringan 150 kV PLN melalui Hantaran Udara Tegangan Tinggi (HUTT).

Diakui Silmy Karim, langkah restrukturisasi yang dilakukan perseroan tidak menyenangkan semua pihak. Namun, dia memastikan manajemen menjamin program ini dilakukan sesuai dengan aturan perundangan. Menurutnya, program tersebut akan membuat unit-unit kerja di internal akan lebih optimal sehingga mampu menjalankan bisnis secara efisien dan lebih produktif. Silmy mengatakan, program restrukturisasi dan transformasi tidak akan dapat menyenangkan semua pihak. Akan tetapi, manajemen mengklaim program itu sesuai dengan aturan perundangan. “Jadi tidak benar ada pemutusan hubungan kerja [PHK] massal kepada karyawan Krakatau Steel. Restrukturisasi organisasi tidak selalu identik dengan PHK, ada banyak cara dalam perampingan struktur organisasi,” jelasnya.

Seperti diketahui, KRAS tercatat membukukan kerugian pada 2016—2018. Namun, nilainya terus mengalami penurunan selama rentang periode tersebut. Adapun, kerugian yang dibukukan KRAS dalam tiga tahun terakhir yakni US$171,69 juta pada 2016, US$81,74 juta pada 2017, dan US$74,82 juta pada 2018. KRAS menargetkan laba bersih sekitar US$6,37 juta pada 2019. Realisasi itu berbalik dari rugi US$74,82 juta pada 2018.

Tahun ini, perseroan menargetkan peningkatan aset pada 2019 sebesar 15,21% dari capaian 2018 sebesar US$4,30miliar menjadi US$4,95miliar pada 2019. Sebagai gambaran, KRAS menjadi produsen baja terbesar dengan kapasitas produksi 3,15 juta ton per tahun. Produk utama perseroan yakni HRC, CRC, danwire rod. Di samping memproduksi baja, KRAS juga menjalankan beberapa lini bisnis pendukung yakni industrial estate dan perhotelan, rakayasa dan konstruksi, jasa pengelolaan pelabuhan, serta jasa lainnya seperti penyedia kelistrikan, air industri, teknologi informasi, serta layanan medis.

BERITA TERKAIT

Transjakarta Bagikan Dividen Rp 40 Miliar

NERACA Jakarta- Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memutuskan untuk membagikan dividen perusahaan kepada…

Raup Ceruk Pasar Luar Negeri - WIKA Targetkan Kontrak Baru Capai Rp 6 Triliun

NERACA Jakarta – Sukses meraih kontrak baru di Afrika menjadi batu loncatan bagi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) untuk…

Transformasi Pasar Modal Kredibel - OJK Terus Perkuat Supervisi Pengawasan

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayar keuntungan reksadana yang menimpa Minna Padi Aset Manajemen dan Narada Aset Manajemen menjadi alasan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Sikapi Kasus Industri Reksadana - APRDI Tekankan Pembinaan Kode Etik

NERACA Jakarta – Kasus gagal bayarnya keuntungan dari hasil produk investasi Narada Asset Manajemen kepada investor dan juga kasus yang…

Dukung Pengembangan Starup - Telkom dan KB Financial Rilis Centauri Fund

NERACA Jakarta – Sebagai salah satu langkah untuk mengembangkan bisnis digitalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melalui anak usahanya…

Topang Pertumbuhan Pendapatan - BEEF Diversifikasi Bisnis Logistik di 2020

NERACA Jakarta –Menunjang bisnis utama di pengolahan daging sapi, PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF) merambah bisnis baru di sektor…