Konversi LPG Berhasil Hemat Subsidi Rp21 Triliun

NERACA

Jakarta--- Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkapkan program konversi minyak tanah ke LPG yang dilakukan sejak 2007 hingga 2010, telah berjalan efektif dan berhasil menghemat subsidi pemerintah hingga Rp20,99 triliun. "Pemeriksaan menunjukkan pelaksanaan pengadaan dan pendistribusian paket perdana tabung LPG 3 kilogram oleh PT Pertamina cukup efektif dan program konversi berhasil menghemat subsidi pemerintah Rp20,99 triliun," kata Ketua BPK Hadi Poernomo usai menyampaikan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan BPK RI semester II 2011 di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa.

Lebih jauh Hadi menambahkan temuan tersebut merupakan salah satu temuan pemeriksaan kinerja yang dilakukan BPK terhadap 143 objek pemeriksaan yaitu 30 objek di lingkungan pemerintah pusat, 56 objek di lingkungan pemerintah daerah, sembilan objek di lingkungan BUMN, 29 objek di lingkungan BUMD dan 19 objek di lingkungan BLU.

Namun sayangnya, mantan Dirjen Pajak in mengaku pelaksanaan program konversi minyak tanah ke LPG tersebut masih belum didukung dengan manajemen yang baik dan perencanaan yang memadai. “Tinggal didukung dengan manajemen dan perencanaan yang baik,”tegasnya

Ditempat terpisah, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo mengatakan, sebuah negara yang maju adalah negara yang menghemat energi dan bukan negara yang menghambur-hamburkan energi. "Bandingkan negara kita dengan Singapura dan Timor Leste yang menjual BBM dengan harga jauh lebih tinggi dari Indonesia," ujarnya

Guru Besar Ilmu Ekonomi dan Pengelolaan Lapangan Migas pada Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB itu menambahkan, jika negara bisa menghemat bahan bakar minyak maka bangsa ini bisa lebih maju. "Energi merupakan kebutuhan yang 'urgen' di negeri ini. Bisa dibayangkan jika hidup kita ini tanpa energi," ucapnya.

Karena itu, kehadiran pihaknya di Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini untuk melaksanakan sosialisasi tentang peran Dewan Energi Nasional. “DENmerupakan lembaga yang dibentuk untuk memediasi jika ada konflik energi yang terjadi di tengah masyarakat,” ucapnya.

Beberapa waktu lalu, Direktur Pembina Usaha Hilir Migas Dirjen Migas, Saryono Hadiwidojo sempat mengungkapkan konversi minyak tanah ke LPG 3 kilogram yang telah dilaksanakan sejak tahun 2007 hingga triwulan I-2011 telah memberikan penghematan subsidi sebanyak Rp45,3 triliun sedangkan biaya konversinya mencapai Rp12 triliun, sehingga nilai penghematan bersihnya mencapai Rp33,3 triliun.

Dengan adanya konversi tersebut setiap tahunnya pemerintah dapat melakukan penghematan, pada awal konversi di tahun 2007 pemerintah mengalami kerugian antara penghematan subsidi dengan biaya konversi dibandingkan dengan penghematan subsidi, pada 2007 penghematan subsidi mencapai Rp6 miliar, sedangkan biaya konversi mencapai Rp8 miliar.

Pada tahun 2008 penghematan subsidi mencapai Rp9,2 triliun, sedangkan biaya konversi Rp3,6 triliun, dan penghematan mencapai Rp5,5 triliun. Ditahun 2009 pemerintah kembali mendapat penghematan dari konservasi tersebut, penghematan subsidi mencapai Rp12,8 triliun, sedangkan biaya konservasi hanya Rp5,9 triliun, penghematan pemerintah mencapai Rp6,9 triliun.

Pada tahun 2010 pemerintah kembali mendapat keuntungan. Penghematan subsidi mencapai 15,6 triliun, sedangkan biaya konversinya mencapaiRp1,2 triliun, sedangkan penghematan mencapai Rp14,4 triliun. Sedangkan pada tahun 2011 hingga triwulan I, penghematan subsidi telah mencapai Rp7,2 triliun, sedangkan biaya konversinya sekira Rp5 miliar, total penghematan mencapai Rp6,7 triliun. **mohar

Related posts