74 Tahun Indonesia Merdeka: Kaum Milenial Harus Bijak di Era Digital

Oleh : Irfan Nur Hidayat, Pengamat Komunikasi Massa

Saat ini Indonesia telah merdeka selama 74 tahun lamanya, semangat para pejuanglah yang memerdekakan Indonesia di kala itu dengan penuh ambisi. Hal itu diraih sangat mahal harganya dan tidak dapat diukur dengan harta sebanyak apa pun. Kini saatnya kewajiban generasi muda untuk melanjutkan perjuangan para perjuang dengan cara mengharumkan dan memajukan NKRI serta menjauhkan segala hal-hal yang dapat memecah belah persatuan rakyat Indonesia.

Di era digital yang semakin berkembang pesat di seluruh dunia, masyarakat dapat lebih mudah mengakses apa pun yang mereka inginkan seperti: membaca berita, menonton film kesukaannya, bermain game, bersosialisasi, mengerjakan tugas kantor hingga memesan makanan ataupun transportasi hanya dengan cara mengeklik secara online saja. Itu semua dapat dilakukan tanpa harus susah mencari ke sana sini yang membutuhkan tenaga atau usaha yang dapat membuat kita jadi malas gerak dan malas bersosialisasi.

Terlepas dari hal positif di atas, kini anak muda atau lebih dikenal kaum Millenial justru banyak yang sering menyalahgunakan penggunaan gadget atau media digital tidak sebagaimana fungsi seharusnya. Hal ini dapat berdampak sangat negatif bagi pengguna ataupun orang lain yang jika tidak diawasi dan dibimbing oleh orang tua. Anak mesti dididik agar dapat menggunakan gadget atau media digital dengan bijak. Jika anak dibiarkan lepas menggunakan gadgetnya, akan banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan seperti: malas belajar, susah bersosialisasi dengan orang lain, mudah berkata-kata kotor, membuat hal-hal semena-menanya di media sosial tanpa memikirkan dampaknya seperti hoax, pencemaran nama baik, dan lain sebagainya.

Belakangan ini di era digital lebih tepatnya media sosial banyak mengandung berita-berita palsu (hoax) yang dapat membuat para pembacanya sangat mudah percaya. Seolah-olah berita tersebut terlihat seperti fakta yang dapat menuai kontroversi dan perdebatan yang dapat merusak persatuan Indonesia. Konten hoax tersebut biasanya berisikan politik ataupun hal-hal yang sedang ramai diperbincangkan (viral). Konten berita tersebut biasanya dilakukan oleh para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dan tidak sadar akan dampak yang ditimbulkan di masyarakat luas. Maka dari itu, kita sebagai masyarakat harus dapat mengatasi dengan bijak dan mencegah hal tersebut terulang kembali secara terus-menerus. Berikut merupakan beberapa solusi pencegahan hoax pada media sosial, yaitu:

Pertama, Hati-hati Judul Berita bernada Provokasi. Solusi untuk hal yang pertama ini adalah agar selalu membandingkan berita lainnya yang serupa dari media resmi, apabila isinya bertolak belakang dapat dipastikan berita tersebut merupakan berita hoax.

Kedua, Pengecekan Fakta. Apabila informasi berita tersebut berasal dari kepolisian, tokoh politik ada baiknya melakukan pengecekan lagi dengan cara mengamati berita tersebut apakah berdasarkan fakta atau opini. Jika fakta, maka akan berisi informasi resmi dari narasumber langsung dan ada buktinya, jika opini biasanya hanya berisikan pendapat dari penulis berita tersebut

Ketiga, Cek Keaslian Foto/Video. Di era digital ini, siapa pun dapat dengan mudah mengakses internet dan mengambil gambar dari Google. Maka dari itu, jika kita menemukan berita yang berisikan video atau foto ada baiknya di teliti terlebih dahulu sebelum di sebarkan, bisa saja foto tersebut di edit atau merupakan foto kejadian lama yang di upload lagi sehingga menjadikan seolah-olah foto tersebut asli. Agar tidak mudah tertipu, kita dapat melakukan pengecekan di Google dengan cara men-drag and drop foto tersebut pada kolom penelusuran di menu Google Images.

Keempat, Cek Alamat Situs. Apabila berita tersebut berasal dari alamat situs yang belum terverifikasi secara resmi oleh institusi, maka berita tersebut dapat diragukan. Tetapi jika alamat situs tersebut telah terverifikasi oleh institusi resmi seperti Detik.com , Okezone dll bisa dipastikan berita tersebut ada kebenarannya.

Oleh karena itu, tetaplah bijak dalam menggunakan internet. Jangan sampai merugikan banyak orang, karena akan berakibat pada terpecah belahnya suatu Negara. Maka dari itu, Indonesia membutuhkan pemimpin dengan jiwa kepemimpinan yang bijak, tegas agar Indonesia dapat terus maju di bidang pendidikan, transportasi, ekonomi, penataan wilayah serta menjadikan masyarakat lebih cerdas dalam menangani berbagai kasus seperti berita hoax.

BERITA TERKAIT

Peran Media Menjaga Stabilitas Bangsa, Kunci Suksesnya Kebijakan Pembangunan

    Oleh: Siska Amelia, Praktisi Media Sosial   Pembangunan nasional merupakan serangkaian usaha pembangunan berkelanjutan yang meliputi seluruh kehidupan…

Ekonomi Indonesia: Magiconomics Destruktif

Oleh: Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Kata “nomics” digunakan untuk merujuk kebijakan ekonomi dari pemimpin…

Penyederhanaan Regulasi: Jalan Kemakmuran Rakyat

  Oleh : Mubdi Tio Thareq, Pemerhati Ekonomi   Salah satu program prioritas Jokowi - Ma'ruf ialah penyederhanaan regulasi. Program…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Memaknai RUU Omnibus Law Sektor Tenaga Kerja

  Oleh : Agung Setia Budi, SIP, M.Sos., Peneliti Studi Ekonomi Politik Pembangunan Wilayah Dampak investasi belum signifikan berkontribusi banyak…

RUU Omnibus Law Cipta Kerja: UU Mudah Rekrut Mudah Pecat

  Oleh: Almira Fadhillah, Program Pasca Sarjana Univ. Gunadarma RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja mulai diprotes dari kalangan buruh.…

Penyederhanaan Birokrasi Wujudkan Profesionalitas ASN

  Oleh : Edit Jatmiko, Pengamat Sosial Politik   Pemerintahan Jokowi-Ma’ruf berkomitmen untuk menyederhanakan birokrasi. Upaya tersebut merupakan bagian dari…