Transformasi Bisnis Kimia Farma dari Hulu hingga Hilir - Ambisi Jadi Market Leader

NERACA

Jakarta - Persaingan industri farmasi saat ini berjalan sangat ketat, apalagi arus obat impor dari CHina dan India mengalir amat deras ke pasar dalam negeri. Besarnya, populasi masyarakat Indonesia menjadi gula manis bagi produsen obat asal negara lain merebut pasar di Indonesia. Terlebih nilai pasar farmasi nasional ditaksir mencapai Rp 44 triliun di 2012 atau tumbuh 10-12% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 40 triliun.

Merespon ketatnya persaingan industri farmasi, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) sebagai produsen obat milik pemerintah ini dituntut untuk berbenah diri melakukan inovasi dan termasuk transformasi bisnis agar tidak kalah bersaing. Oleh karena itu, Kimia Farma bertekad mengembangkan bisnisnya dari hulu sampai hilir.

Artinya, lini bisnis Kimia Farma tidak lagi sebatas memproduksi obat semata tetapi berkaitan dengan obat-obatan dan termasuk kini menggarap bisnis rumah sakit. Presiden Direktur Kimia Farma Syamsul Arifin mengatakan, penguatan bisnis bukan sekadar memperluas sayap bisnis berupa jenis usaha atau produk.

Ekspansi juga mesti dilakukan dari hulu ke hilir. Untuk itu, dia membawa PT Kimia Farma Tbk membangun rumah sakit yang bernama Rumah Sakit Khusus Liver Kimia Farma. "Dengan rumah sakit ini, bisa dibilang kami memperluas langkah bisnis dari hulu ke hilir. Obat Kimia Farma digunakan oleh pasien rumah sakit milik kami," katanya.

Menurutnya, hilirisasi itu ditopang dengan salah satu produk Kimia Farma, yaitu obat hepatitis yang harganya kompetitif. Kemudian di luar bisnis inti sebagai produsen obat, sayap bisnis perseroan lebih banyak merambah ke pemasaran dan distribusi. Kimia Farma memiliki anak usaha Kimia Farma Apotek, Kimia Farma Trading and Distribution, dan Kimia Farma Diagnostika.

Bahkan ambisi Kimia Farma menguasai pasar farmasi di Indonesia diwujudkan dengan menggandeng perusahaan farmasi negara asal Cina Tianjin Pharmaceutical Group Co Ltd. Melalui pembentukan perusahaan bersama Kimia Farma Tianjin King Yonk.

Melalui kerjasama ini, disampaikan Syamsul akan meningkatkan kapasitas produksi perseroan dan menjadikan Kimia Farma sebagai market leader perusahaan farmasi di Indonesia. Rencananya, pembangunan pabrik perusahaan kerjasama ini akan dibangun di kawasan Lippo Cikarang dengan luas lahan 3 hektar dan menelan investasi sebesar Rp 250 miliar.

Nantinya pabrik yang akan beroperasi pada tahun 2014 nanti akan memproduksi alat-alat kesehatan rumah sakit seperti ampul 30 juta pertahun, vial 10 juta pertahun dan infuse 20 juta pertahun. Sebagai pemegang saham, Kimia Farma sebanyak 49%, PT Tigaka Distrindo Perkasa 5% dan Tianjin Pharmaceutical Group co. Ltd sebanyak 46%.

Bangun Rumah Sakit

Untuk rumah sakit, perseroan mendirikan anak usaha baru, PT Kimia Farma Hospital. Perusahaan itu merupakan hasil kerja sama dengan PT Prakarsa Transforma Indonesia yang bergerak di bidang manajemen rumah sakit. Proyek itu menempati lahan milik perseroan seluas 14 ribu meter persegi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Proyek RS itu akan dimulai pada April atau Mei mendatang, dan diharapkan rampung dalam waktu satu tahun. Setelah proyek itu, KAEF bakal mendirikan rumah sakit dengan spesialisasi serupa di lima daerah, yaitu Bandung , Semarang , Surabaya , Makassar, dan Medan . Investasi untuk RS di Jakarta diperhitungkan menyerap dana 280 miliar rupiah, sedangkan RS di daerah masing-masing diperkirakan membutuhkan dana 150 miliar rupiah.

Kapasitas atau daya tampung pasien masing-masing RS mencapai 204 tempat tidur. Kata Syamsul, pembangunan rumah sakit pun dapat mendorong bisnis perseroan lebih baik. Pasalnya, obat-obatan hasil produksi bisa dijual di rumah sakitnya sendiri. "Ini akan punya multiplier effect. Obat kita bisa terjual. Dalam membangun bisnis kita harus punya great costumer, bisnis mudah dijalankan serta berkelanjutan," imbuh Syamsul.

Akusisi Indofarma

Tantangan pasar farmasi, diyakini Syamsul Arifin akan bisa kuasai dan terlebih bila renana akuisisi Kimia Farma terhadap Indofarma berjalan sukses. Alasannya, akusisi perseroan terhadap Indofarma akan diarahkan untuk sinergis dan karena itu, pasca akuisisi tersebut tidak akan mengubah rencana bisnis Kimia Farma dan sebaliknya akan memperkuat penjualan Kimia Farma.

Akuisisi 100% saham Indofarma dan rencana rights issue, diharapkan bisa dilakukan secara bersamaan dengan alasan untuk efisiensi, “aksi korporasi yang besar ini diharapkan tidak mengganggu aksi yang lainnya. Hal ini dilakukan untuk efisiensi dan langkah yang cepat,”tegasnya.

Perseroan telah memasukkan dokumen rencana "rights issue" dan akuisisi saham publik milik Indofarma kepada DPR. Nantinya, Kimia Farma akan menerbitkan saham baru sekitar 20% dengan dana yang diperoleh sekitar Rp700 miliar.

Pengambilalihan saham publik milik Indofarma ini dilakukan menyusul rencana penggabungan ke dua perusahaan farmasi tersebut. Saat ini, pemegang saham publik Indofarma sebanyak 19,32%, sedangkan pemerintah menguasai 80,66%.*

Related posts