Bersahabat dengan (Dekat) Penderita Epilepsi

NERACA

Banyak masyarakat yang salah persepsi mengenai epilepsi. Sebagian besar masyarakat berpendapat epilepsi adalah penyakit. Pengertian epilepsi adalah kelainan atau gangguan saraf pada otak. Penyakit epilepsi bisa disembuhkan dan bukan penyakit yang menular.

Departemen Kesehatan Anak FKUI - RSCM dr. Irawan Mangunarmadja, SpA , Rabu 21/03 dalam seminar media menyambut World Purple Day mengatakan, penyebab epilepsi, ”Ada lepas muatan listrik abnormal dalam otak yang menyebabkan penyandang mengalami serangan bangkitan berulang.”

Selanjutnya Irwan mengatakan, bahwa epilepsi tidaklah menular, sehingga penderita epilepsi seharusnya tidak mendapatkan perlakuan keliru (kl ”perlakuan berbeda” gimana ?) dari keluarga maupun masyarakat. ”Jangan kucilkan mereka, dukung mereka, mereka sama seperti kita.”

Diagnosis epilepsi yang tepat harus dilakukan sedini mungkin dan penentuan obat anti-epilepsi yang tepat akan mempengaruhi kesembuhan penyandang epilepsi. Obat anti-epilepsi dikonsumsi untuk menekan aktivitas listrik yang berlebihan penyebab epilepsi, tuturnya.

Kepatuhan dalam mengkonsumsi obat anti-epilepsi menjadi sangat penting guna mengontrol serangan epilepsi. Pada penyandang epilepsi anak, peranan orang tua dalam pengobatan epilepsi menjadi sangat penting karena ketidakpatuhan terhadap pengobatan epilepsi dapat memperparah penyakit epilepsi itu sendiri.

“Serangan kejang yang sering berulang akibat ketidakpatuhan minum obat akan menyebabkan jaringan otak yang tidak rusak menjadi rusak sehingga dapat menyulitkan terapi epilepsi, bahkan menimbulkan risiko yang membahayakan keselamatan pasien epilepsi. ”Oleh karena itu, orang tua wajib memperhatikan kedisiplinan anak dalam mengkonsumsi obat anti-epilepsi, ungkap dr. Irawan.

“Anak yang masih mempunyai plastisitas otak yang baik, akan berusaha memperbaiki kerusakan jaringan yang ada. Apabila serangan kejang masih terjadi, plastisitas otak tidak bisa bekerja dengan baik, sehingga kerusakan jaringan semakin nyata,” tambahnya.

Sedangkan Ketua Perhimpunan Penanggulangan Epilepsi di Indonesia (PERPEI), dr. Anna Marita Gelgel, SpS (K) mengatakan, “Saat ini, masih banyak informasi yang salah mengenai epilepsi yang beredar di masyarakat luas. Hal tersebut terjadi karena masih minimnya informasi serta pola pengertian masyarakat yang salah yang telah terbentuk sejak lama, seperti anggapan negatif penyakit epilepsi.”

Sangat disayangkan mengingat para penyandang epilepsi sangat membutuhkan dukungan penuh, terutama selama masa pengobatan yang sangat membutuhkan kedisiplinan dan kepatuhan penyandangnya.

Pemerintah memiliki peranan penting dalam memberikan informasi yang tepat mengenai epilepsi kepada masyarakat luas. Demikian pula dengan para opinion leader seperti dokter, guru serta kelompok-kelompok sosial masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, dr. Endang Kustiowati, SpS (K), MSi.Med menjelaskan bahwa dukungan moral pada PE dewasa juga sangatlah dibutuhkan, mengingat lingkungan dan gaya hidup merupakan faktor penting dalam tata laksana pengobatan epilepsi pasien dewasa.

Tidak dapat dipungkiri, PE memiliki beban moral dalam melakukan aktivitasnya di tengah maraknya label negatif yang melekat pada penyakit epilepsi. Ruang gerak penyandang epilepsi juga dibatasi oleh beberapa kondisi yang memungkinkan munculnya serangan epilepsi, seperti bekerja dan berolahraga.

“Dengan dukungan dari lingkungan sekitar khususnya keluarga, para penyandang epilepsi akan merasa nyaman yang akhirnya akan membangkitkan semangat untuk patuh terhadap pengobatan epilepsi, sehingga penyandang epilepsi terhindar dari bahaya status epileptikus yakni, serangan beruntun lebih dari 30 menit yang berdampak kematian,” kata dr. Endang.

Penggunaan dan pemilihan obat anti epilepsi haruslah berdasarkan pengawasan dokter, terlebih lagi apabila penyandang hendak melakukan penggantian obat dari obat paten menjadi obat substitusi, maupun sebaliknya.

Salah satunya adalah AED (anti-epilepsy drugs) fungsi AED tidak menyebuhkan namun indikasi obat ini untuk mencegah kejang terjadi. Dokter memiliki peran utama yang sangat penting untuk menjelaskan secara detail risiko yang terjadi akibat penggantian obat tersebut.

dr. Endang mengatakan, “Manajemen pengobatan epilepsi dapat berlangsung selama bertahun - tahun. Oleh karena itu, kandungan hayati dari obat epilepsi harus selalu stabil (tidak fluktuatif) dari waktu ke waktu.

Kandungan hayati yang terdapat pada obat paten dan obat substitusi jelas berbeda. Perbedaan tersebut memiliki risiko karena bila kandungan hayati tersebut meningkat, dapat mengakibatkan keracunan sedangkan bila kandungannya berkurang akan beresiko kekambuhan sebesar 80%.

Kadar, karakteristik dan sistem pelepasan obat yang tidak ekuivalen dapat menyebabkan serangan kembali pada pasien yang sebelumnya sudah terkontrol,” ungkapnya.

Sedangkan, pengobatan epilepsi diperlukan untuk mengurangi kecenderungan otak untuk mendapatkan bangkitan dengan cara mengurangi kegiatan elektrik yang berlebihan atau mengurangi rangsangan yang diterima oleh neuron atau saraf.

Pengobatan epilepsi yang memakan waktu bertahun-tahun ini memang seringkali membuat PE tidak disiplin dalam mengkonsumsi obat. Oleh karena itu, dukungan penuh terhadap kepatuhan pengobatan para PE menjadi sangat penting agar mereka dapat berjuang guna mencapai kesembuhan yang optimal.

Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan kunci utama bagi para PE untuk dapat mencapai kualitas hidup yang baik. Ketidak patuhan PE terhadap pengobatan dapat mengakibatkan terjadinya serangan, pada anak PE akan mengalami gangguan tumbuh kembang, serta menurunkan plastisitas otak.

Related posts