Roda Ekonomi Global Harus Berputar

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Ekonomi dan Industri

Roda ekonomi global harus berputar adalah keniscayaan. Secara mekanik tanpa komando dari siapapun kudu muter. Sebab jika tidak berputar ada dua kemungkinan yang menyebabkannya yaitu karena ada kerusakan berat pada mesin penggeraknya dan boleh jadi karena sengaja dikurangi kecepatan rata - ratanya secara agregat karena kondisi lapangannya sudah sangat berat memikul beban sehingga harus dikendalikan pergerakannya.

Hal yang disampaikan ini adalah sebuah fenomena mekanik yang umum berlaku. Yang dikehendaki, roda perekonomian berputar kembali secara normal, dan malah diharapkan dapat lebih cepat perputarannya. Sudah pasti harus ada perbaikan, dan sifat perbaikannya secara umum dapat menyangkut dua hal, yaitu overhaul karena kerusakannya sangat fundamental, yaitu mesin penggeraknya rusak berat, sehingga upaya perbaikannya menjadi bersifat struktural.

Pada dimensi yang kedua ketika kondisi di lapangan sudah terlalu berat memikul beban maka butuh pemeliharaan dan perawatan, meskipun hal yang dilakukan juga tidak ringan biayanya karena yang harus dirawat adalah lingkungan hidup yang sudah parah kerusakannya akibat sekian abad lamanya di seluruh dunia roda perekonomian berputar dengan putaran tinggi.

Kerusakannya telah menimbulkan climate change dan global warming, Satu lagi telah menimbulkan ketidakadilan global. Situasi ini menjadi jarang kita mendengar istilah overheating economy karena yang nampak justru terjadi perlombaan pemberian stimulus akibat pertumbuhan ekonomi melemah secara global.

Climate change, global warming adalah kiamat kecil. Cost recoverynya nyaris tak ada yang sanggup untuk membayarnya. Dunia hanya bisa berunding tapi tak ada yang bisa bayar. Bagaimana mau bayar, wong untuk membiayai overhaul mesin penggerak roda ekonomi saja sudah menelan biaya besar. Sementara untuk menutup kesenjangan global yang telah menimbulkan ketidakadilan global juga membutuhkan biaya besar untuk mendukung program social savety net yang kadangkala harus dikorbankan antara lain untuk membayar utang dan sebagainya.

Negara-negara di dunia, pemerintahnya sudah mulai melakukan upaya penghematan pengeluaran, sehingga lebih cenderung untuk menyimpan dana tabungan dan cadangan daripada membelanjakannya untuk konsumsi dan investasi. Upaya ini tentu berpengaruh terhadap berkurangnya permintaan agregat di negara-negara yang mata uangnya dipergunakan sebagai cadangan.

Padahal kita tahu bahwa uang yang disimpan sebagai cadangan adalah uang yang dapat berkontribusi terhadap permintaan global secara agregat. Contoh adalah UE telah lama melakukan upaya semacam itu, sehingga UE tidak lagi royal membelanjakan cadangan devisanya. Apalagi pernah terjebak krisis utang tahun 2008. Apa yang terjadi adalah bahwa kala itu dana yang tersedia di European Financial Stability Facilities (EFSF) tidak mencukupi untuk mengatasi ledakan utang UE.

BERITA TERKAIT

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Keistimewaan LKMS

Oleh: Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Banyak orang yang masih gamang dan tak tahu tentang lembaga keuangan mikro syariah (LKMS),…

Resesi, Bailout, dan Akuisisi Aset Murah

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Penulis mencoba bernalar dengan cara mudah untuk memahami konstruksi dari tiga suku…

Nasib BPJS

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Rentang lima tahun usia BPJS sejak pengalihan dari PT…