Pemanasan Global Memperburuk Ketimpangan Ekonomi

NERACA

Jakarta - Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa pemanasan global dapat memperburuk ketimpangan ekonomi di dunia sejak 1960-an. Hasil studi yang diterbitkan pada Senin (22/4) di jurnal ilmiah multidisiplin "Proceedings of the National Academy of Sciences" mengungkapkan bahwa perubahan suhu yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mungkin membuat negara-negara sejuk seperti Norwegia lebih kaya, tetapi memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara hangat seperti Nigeria.

"Sebagian besar negara termiskin di Bumi jauh lebih miskin daripada tanpa pemanasan global," kata pemimpin penulis studi, Noah Diffenbaugh, seorang ilmuwan iklim dari Stanford University, sebagaimana dilansir dari kantor berita Antara, kemarin. Para peneliti menganalisis 50 tahun pengukuran suhu dan PDB tahunan untuk 165 negara untuk memperkirakan efek fluktuasi suhu terhadap pertumbuhan ekonomi.

Mereka menemukan bahwa, dari tahun 1961 hingga 2010, pemanasan global menurunkan kekayaan per orang di negara-negara termiskin di dunia sebesar 17 persen hingga 30 persen. Kesenjangan antara kelompok negara dengan output ekonomi tertinggi dan terendah per orang kini sekitar 25 persen lebih besar daripada tanpa perubahan iklim, menurut penelitian.

"Tanaman lebih produktif, orang lebih sehat dan kita lebih produktif di tempat kerja ketika suhu tidak terlalu panas atau terlalu dingin," kata Marshall Burke, asisten profesor Earth System Science di Stanford dan rekan penulis penelitian ini. "Ini berarti bahwa di negara-negara yang dingin, sedikit pemanasan dapat membantu. Yang sebaliknya berlaku di tempat-tempat yang sudah panas,” jelasnya.

Para peneliti menemukan bahwa negara-negara tropis, khususnya, cenderung memiliki suhu jauh di luar ideal untuk pertumbuhan ekonomi, tetapi kurang jelas bagaimana pemanasan telah mempengaruhi pertumbuhan di negara-negara di garis lintang tengah, termasuk Amerika Serikat, China dan Jepang.

Studi ini menunjukkan bahwa beberapa ekonomi terbesar berada di dekat suhu yang sempurna untuk output ekonomi, tetapi Burke memperingatkan bahwa sejumlah besar pemanasan di masa depan akan mendorong mereka semakin jauh dari suhu optimal.

BERITA TERKAIT

Bayar Utang Eksisting - TBIG Bakal Rilis Global Bond US$850 Juta

  NERACA Jakarta –Danai pelunasan utang yang jatuh tempo, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) menerbitkan obligasi dalam denominasi dollar…

Menperin: Milenial Penopang Ekonomi Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam memasuki era revolusi industri 4.0.…

Menko Darmin Pastikan Kondisi Ekonomi Aman

  NERACA   Jakarta – Sepanjang selasa hingga rabu kemarin, situasi keamanan di kota Jakarta belum kondusif. Namun begitu, Menteri…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Perbaiki Defisit Transaksi Berjalan, Perhitungan Investasi Migas Dirombak

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan dua kebijakan, yakni di antaranya merombak mekanisme perhitungan investasi eksplorasi migas PT.…

Kemenkes Siapkan 6.047 Fasilitas Layanan Kesehatan di Jalur Mudik

    NERACA   Jakarta - Kementerian Kesehatan menyiapkan 6.047 fasilitas layanan kesehatan di sepanjang jalur mudik 2019 untuk memastikan…

Menko Darmin Pastikan Kondisi Ekonomi Aman

  NERACA   Jakarta – Sepanjang selasa hingga rabu kemarin, situasi keamanan di kota Jakarta belum kondusif. Namun begitu, Menteri…