Kecil, Konsumsi BBM Kaum Miskin

Kecil, Konsumsi BBM Kaum Miskin

Jakarta-- Penyesuaian harga BBM yang akan dilakukan pemerintah sebuah kebijakan yang tak bisa dihindarkan. Namun demikian masyarakat miskin akan menikmati manfaat lebih besar jika harga BBM tidak di subsidi. “Alasanya masayarakat miskin bukan konsumen BBM subsidi yang terbesar. Karena itu, pengeluaran itu akan lebih bermanfaat untuk pembangunan infrastruktur dan perbaikan kualitas hidup rakyat miskin,” kata Sekjen Ikatan Alumni Universitas Trisakti, Didik Mukriyanto kepada wartawan di wartawan di Jakarta,20/3

Diakui Didik, saat ini tekanan ekonomi dunia semakin kuat akibat kenaikan harga minyak dunia. Buntutnya, perlu ada perubahan yang signifikan dalam rencana pengelolaan keuangan yang berbasis APBN. “Adapun harga BBM subsidi saat ini Rp. 4.500 per liter, jauh lebih rendah daripada harga pokok. Pemerintah harus menambal kekurangan itu dengan subsidi dari APBN,”tambahnya

Dalam APBN 2012, kata Didik, asumsi harga minyak mentah Indonesia US$ 90/barrel sebagai patokan. Fakta selama Pebruari 2012 rata-rata harga minyak mentah US$122,17/barrel. “Sedangkan konsumsi BBM meningkat 35,8 juta kilo liter pada 2010 menjadi 38,5 juta kilo liter pada 2011. Akibatnya, subsidi utk BBM sepanjang 2012 akan melonjak dari Rp123,6 T menjadi Rp191,1 T,”terangnya.

Menurut Ketua DPP Partai Demokat ini, tidak ada cara yang lebih bijak kecuali menyesuaikan harga BBM untuk mengurangi subsidi. Dan mengalihkan subsdidi tersebut kepada rakyat miskin dengan bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT)dan Bantuan Langsung Sementara (BLSM).

Dikatakan Didik, masyarakat perlu sadar ada kepentingan bangsa yang lebih besar. Namun pemerintah membarenginya dengan pemangkasan anggaran di berbagai kementerian dan lembaga. Karena itu perlu disepakati guna penyelamatan bangsa ini dari resiko ekonomi yang sangat berat dan bisa berpotensi merontokkan struktur perekonomian yang berimbas kepad kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih jauh Didik meminta khususnya pengambil kebijakan, politisi, pengusaha dan seluruh stake holders bangsa ini harus memahami secara komprehensif. Sehingga bisa merasakan nuansa kebatinan perekonomian nasional dan nasib bangsa serta rakyat Indonesia secara keseluruhan. “Perlu ada pemikiran yang jernih terhadap masalah BBM ini, sehingga tak keliru menafsirkannya,”ucapnya.

Yang jelas, kata Didik, pemikiran partial dan hanya mementikan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja seyogyanya hanya akan meruntuhkan pondasi bangsa ini. Pihak-pihak yang menentang kebijakan penyesuaian harga BBM juga tetap perlu mengedepankan kepentingan rakyat miskin. “Intinya, pemerintah tetap memperhatikan rakyat,”jelasnya

Didik mengaku prihatin adanya ancaman-ancaman untuk menurunkan pemerintah yang sah adalah sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab dan wajib hukumnya untuk dilakukan perlawanan dan tindakan konkrit. **cahyo

Related posts