PT KAI Hanya Sediakan Dana Rp5 T - Terkait Proyek KA Supercepat

NERACA

Jakarta---PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyatakan hanya mampu menyiapkan dana Rp5 triliun-Rp6 triliun untuk membiayai proyek pengembangan kereta api super cepat Jakarta-Bandung. "Dari total investasi sekitar Rp56 triliun untuk proyek kereta api Jakarta-Bandung, KAI hanya mampu membiayai sekitar 10 persen saja," kata Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan di sela-sela seminar "Prafeasibility Studi of The Jakarta-Bandung High Speed Railway PPP Project", di Jakarta, Senin.

Menurut Jonan, dengan keterbatasan dana tersebut KAI hanya mampu untuk terlibat dalam hal pengadaan kereta api, pengoperasian, dan perawatan kereta api. "Sedangkan pembangunan infrastruktur berupa sarana rel (track), pengadaan aliran listrik seharusnya didanai pemerintah dan investor lain yang memiliki kemampuan dana," tambah Jonan.

Selain karena kemampuan dana yang terbatas, Jonan juga menilai tingkat pengembalian investasi proyek tersebut sangat rendah. "Proyek ini bisa layak dibiayai dan mampu memberikan investasi kepada investor jika tingkat PDB (pendapatan domestik bruto)minimal tiga kali lipat dari saat ini yang mencapai sekitar 3.000 dolar AS," paparnya

Johan pesimis proyek tersebut dapat memberikan pengembalian investasi sesuai yang diharapkan investor. Pemerintah Indonesia bersama Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi dan Pariwisata (MLIT) Jepang akan membangun kereta api cepat Jakarta-Bandung sepanjang 144 kilometer dengan total investasi sekitar Rp56,108 triliun.

MILT menunjuk Japan Railway Techical Service dan Yachiyo Engineering untuk menyiapkan prafeasibility study (prastudi kelayakan) pembangunan untuk disampaikan kepada pemerintah Indonesia melalui skema Public Privat Partnership (PPP).

Menurut Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Tundjung Inderawan, prastudi kelayakan meliputi berbagai aspek, seperti konstruksi, penyediaan tanah, perpajakjan, aspek lingkungan, rute atau jalur KA, kondisi topografi, lalulintas pengguna bus, kereta api, termasuk proyeksi harga tiket Sesuai dengan skema PPP, ujar Tundjung, pemerintah akan membiayai proyek tersebut dari APBN dengan melibatkan investor swasta.

Sementara itu Perwakilan MILT Kenji Endo menuturkan, infrastruktiur kereta Jakarta-Bandung tersebut dapat menggunakan kereta super cepat dengan kecepatan hingga 210 km per jam. Dalam kajian awalnya, tiga jenis kereta Jakarta-Bandung akan dioerasikan yaitu super express Jakarta-New Airport-Bandung dengan waktu tempuh sekitar 45 kilometer.

Tipe airport shuttle Jakarta-New Airport dengan waktu tempuh sekitar 20 kilometer per jam, dan jenis ekspres yang berhenti di semua tempat station (Dukuh Atas, Bekasi Selatan, Karawang, bandara baru, stasiun Bandung, dan stasiun Gedebage) di atas 50 menit. Untuk tahap awal, dari total investasi Rp56,108 triliun tersebut, sebesar Rp46 triliun atau lebih dari 90% akan digunakan untuk konstruksi, meliputi pekerjaan sipil, pembangunan jalur (track). Sementara itu Direktur Kerjasama Pemerintah Swasta Bappenas, Bastari Pandji Indra mengatakan, pemerintah akan memprioritaskan proyek tersebut selain rutenya lebih pendek dan biayanya lebih kecil dibanding pembangunan kereta cepat Jakarta-Surabaya. "Kita lebih mendahulukan rute Jakarta-Bandung karena selain jaraknya lebih pendek, biayanya jugs lebih rendah," ujar Bastari.

Ia menjelaskan, proyek tersebut masih dalam bentuk prastudi kelayakan sehingga belum dapat diinformasikan lebih lanjut terkait detil pembiayaan. "Kita berharap kajian tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 6 bulan. Jika berasumsi semua perencanaan disetujui, dan proses pembangunan langsung berjalan maka diperkirakan pada 2017 jalur layanan kereta api cepat Jakarta-Bandung tersebut dapat dioperasikan," ujar Bastari. **bari

Related posts