Target Pertumbuhan Industri Perlu Direvisi

Oleh Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Kementerian Perindustrian agaknya terlalu percaya diri tatkala mematok target pertumbuhan industri sebesar 7,1% sepanjang 2012. Kinerja ekonomi dunia yang kian melemah akibat terbelit krisis finansial niscaya bakal memukul sektor industri. Revisi pertumbuhan ekonomi nasional dari 6,7% menjadi 6,5% setidaknya menjadi alarm Kemenperin untuk mengoreksi kepercayaan dirinya itu.

Kendati Kemenperin mengklaim Indonesia tengah kebanjiran investasi di sektor riil seiring status investment grade plus mengkilapnya kinerja ekonomi makro tiga tahun terakhir, MS Hidayat sebagai pemimpin di kementerian itu mesti sadar bahwa banjir produk asing di negeri ini jelas-jelas berpotensi membenamkan industri domestik.

Tentu kita masih ingat dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan, membanjirnya produk impor asal China telah membuat neraca perdagangan Indonesia-China defisit paling besar dibandingkan negara lainnya, yakni mencapai US$1,1 miliar pada Januari 2012. Apalagi Negeri Tirai Bambu kini tengah melakukan penetrasi barang dagangannya ke pasar-pasar potensial seperti Indonesia seiring dengan melemahnya kinerja ekspor mereka ke pasar tradisional di Eropa dan Amerika Serikat.

Ketergantungan industri nasional pada bahan baku impor juga menjadi alasan kenapa Kemenperin mesti merevisi target pertumbuhan industri. Industri manufaktur skala besar seperti industri otomotif, elektonik, farmasi dan tekstil masih terlalu bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan impor bahan baku dari 72,79% pada 2010 menjadi 73,80% selama 2011 sangat patut diwaspadai. Alasannya, jika harga bahan baku impor naik signifikan seiring krisis global yang menyebabkan melemahnya pasokan, maka industri nasional bersiap tekor karena minim bahan baku.

Memang kita patut optimis dengan target pertumbuhan industri 7,1% yang dicanangkan pemerintah. Tapi sebagai anak bangsa yang rasional kita bisa memproyeksikan betapa berat roda industri akan bergerak jika rantai-rantainya macet akibat terbelit di segala penjuru. Di satu sisi, krisis Eropa dan AS menjadi ganjalan serius karena berdampak langsung terhadap pengetatan likuiditas yang menyebabkan investasi melambat. Di lain pihak, produk industri nasional sangat tidak kompetitif secara head to head melawan produk asing di pasar domestik.

Masih dari faktor internal, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya bakal diberlakukan April mendatang, termasuk rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) juga menjadi ancaman tersendiri. Padahal, BBM dan TDL ibarat darah buat industri. Ketika BBM naik 30% dan listrik naik 10%, biaya produksi niscaya melambung tinggi. Belum lagi kalau bicara kenaikan upah buruh berikut biaya logistrik yang semakin mencekik pertumbuhan industri.

Derita industri nasional dengan segudang masalahnya itu benar-benar memaksa harga produk hasil industri berada pada posisis semakin mahal. Akibatnya, produk industri domestik tak mampu diserap pasar. Kalau ini terjadi, sektor industri dipastikan semakin lunglai, bahkan limbung ke jurang kematian.

Related posts