Akhirnya Pemerintah Tunda Kenaikan TDL

NERACA

JakartA - Pemerintah sepakat menunda rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 3% per triwulan mulai 1 Mei 2012. Alasanya, beban rakyat terlalu berat akibat kenaikan BBM pada 1 April 2012. "Beban rakyat akan makin berat, sehingga rencana menaikkan TDL ditunda," kata Menteri ESDM, Jero Wacik di DPR,14/3

Lebih jauh Wacik mengakui mayoritas anggota Komsii VII DPR menolak adanya usulan pemerintah untuk menaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 9% secarta bertahap, karena itu pemerintah segera menyiapkan plan atau rencana B. "Kalau urusan kenaikan BBM naik berjalan lancar artinya 1 April nanti BBM naik, kami menyadari betapa beratnya rakyat jika TDL juga naik," ucapnya

Memang kata Wacik, sejak awal inginnya TDL naik, dimana ditentukan dalam APBN 2012 pada 1 april TDL naik 10%. "Tetapi melihat banyaknya penolakan, bahkan hampir mayoritas fraksi di komisi VII meminta ditunda, dan BBM juga akan naik, agar rakyat tidak terpukul dua kali, pemerintah akan menyiapkan plan B," paparnya

Plan tersebut kata Jero masih dikaji, apakah nantinya pemerintah menunda dulu, misal sekitar Oktober baru dinaikan atau malah TDL naik pada 2013. "Semuanya sedang kami persiapkan, tapi inikan belum final, siapa tahu mayoritas Komisi VII setuju TDL naik kita juga tidak tahu, belum ketok palu," jelasnya

Namun yang jadi permasalahan yang perlu pengkajian kembali, apakah pengajuan subsidi Rp 49 triliun untuk subsidi listrik perlu ditambah lagi apabila DPR Tidak menyetujui TDL naik. "Biar nanti Menkeu (Menteri Keuangan) yang hitung keuangannya, itu tugasnya bendahara negara," tandas Jero.

Sebelumnya, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jarman saat rapat pembahasan RAPBN Perubahan 2012 dengan Komisi VII DPR di Jakarta, Senin, mengatakan, angka subsidi tersebut sudah termasuk rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 3% per triwulan mulai Mei 2012. "Tambahan subsidi listrik yang mencapai sebesar Rp49,1 triliun itu terutama dikarenakan mundurnya pengoperasian PLTU batu bara dan keterlambatan pengoperasian terminal LNG terapung," katanya.

Secara total subsidi listrik RAPBNP 2012 mencapai Rp93,05 triliun yang berasal dari subsidi tahun berjalan Rp89,55 triliun, kekurangan tahun 2010 hasil audit BPK Rp4,5 triliun, kekurangan tahun 2011 belum diaudit Rp3,5 triliun dan dikurangi "carry over" subsidi 2012 sebesar Rp4,5 triliun.

Menurut Jarman, mundurnya pengoperasian PLTU telah menurunkan penggunaan batubara PT PLN (Persero) dari semula 48,06 juta ton menjadi 39.37 juta ton, sehingga subsidi bertambah Rp26,72 triliun. Lalu, keterlambatan pengoperasian terminal LNG membuat pasokan gas ke pembangkit listrik turun dari rencana 372,5 triliun british thermal unit (TBTU) menjadi 351,5 TBTU, sehingga tambahan subsidinya Rp8,28 triliun.**mohar

Related posts