Diatas Kertas Bisa Tembus 8%

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi

Rabu, 09/03/2011

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi

Diatas Kertas Bisa Tembus 8%

Jakarta—Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi bisa melesat mencapai 7% dan bahkan malah mencapai 8 %. Namun hal itu mesti diimbangi dengan percepatan pelaksanaan belanja pemerintah. “Melihat pertumbuhan saat ini terutama di pasar modal, di atas kertas pertumbuhan bisa mencapai 8%,” kata Chief Economist Danareksa Research, Purbaya Yudhi Sadewa kepada wartawan di Jakarta,8/3.

Namun sangat disayangkan Purbaya, dimana tren belanja pemerintah pada awal tahun selalu minus dan baru mulai berjalan pada kuartal II hingga IV. Sebagai contoh ketika pemerintah tidak dapat membelanjakan anggaran sekitar Rp38 triliun pada 2010 lalu. Tahun ini belanja pemerintah mulai efektif pada kuartal II. Performa belanja pemerintah selama kuartal I/2011 dinilai tidak memadai terhadap pertumbuhan ekonomi yang kian pesat.

Belanja konsumsi pemerintah pada kuartal/2011 I diprediksi minus 30 persen. Padahal target pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri dalam APBN 2011 sebesar 6,4%. Sebenarnya pertumbuhannya bisa melebihi target itu asal pengelolaan belanja negara lebih baik. "Bisa saja pertumbuhan itu mengakibatkan overheating karena pemerintah tidak efisien dalam belanjanya terutama infrastruktur," terangnya.

Yang jelas, kata Purbaya lagi, untuk menggenjot pertumbuhan diperlukan syarat. Yakni perbaikan infrastruktur. Namun sayangnya, pemerintah dinilai hanya mampu membuat masterplan terkait infrastruktur, tapi tak mampu merealisasikannya. "Pertumbuhan ekonomi ini juga harus disokong realisasi infrastruktur, pemerintah jangan hanya bisa buat masterplan-nya, harus di realisasikan," paparnya.

Lebih lanjut dia menambahkan realisasi infrastruktur itu salah satu penyokong pertumbuhan ekonomi selain sekarang investasi diprediksi akan tumbuh double digit, dan ekspor akan terus tumbuh.

Sementara itu, Harry Naysmith, Country Executive Royal Bank of Scotland (RBS) Indonesia mengatakan bahwa kenaikkan harga minyak tidak akan melemahkan kuatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada 2011, RBS percaya bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan terus bertumbuh sebesar 6,6% ditandai oleh menguatnya permintaan domestik.

“Bagi RBS, Indonesia merupakan negara penting di Asia. Kami percaya pada prospek pertumbuhan Indonesia dan berkomitmen untuk membantu para klien kami memasuki pasar modal lokal dan internasional, serta memudahkan kesempatan mereka berinvestasi dalam rangka mencapai target pertumbuhan mereka,” katanya.

Demikian pula dengan prediksi ekonom RRBS lainnya, Lim Su Sian, Indonesia sudah berpengalaman menghadapi krisis ekonomi. ““Sejarah menunjukkan Indonesia memiliki ketahanan menghadapi kenaikan harga minyak. Pada 2008, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan PDB-nya sebesar 6%,” kata Liu lagi.

Bahkan Liu optimis kokohnya pondasi perekonomian Indonesia sangat membantu secara signifikan dalam menghadapi naiknya harga minyak. “Karena sampai hari ini cukup terlihat, bagaimana hal itu terjadi pada hari ini,” ujarnya.

Pertumbuhan PDB Indonesia yang mengejutkan pada kuartal keempat 2010, naik dalam enam tahun hingga 6,9 persen secara year-on-year (y-o-y). Dan secara berturut-turut, pertumbuhan PDB Indonesia mencapai 2,6 persen secara quarter-on-quarter (qoq), yang merupakan laju tercepat dalam satu dekade, serta berada di urutan kedua setelah RRC pada periode yang sama.

Hal yang mengejutkan lagi berakar pada kontribusi ekspor bersih yang nilainya lebih besar dari perkiraan, serta dari pencairan anggaran pemerintah di saat-saat terakhir. Sementara dengan meningkatnya konsumsi dan investasi, RBS tidak terlalu khawatir. “Secara garis besar, pertumbuhan ekonomi sangatlah luas, ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan enam dari sembilan sektor industri secara berurutan. Yang paling kelihatan meningkat adalah sektor pertanian, yang merupakan mata pencaharian terbesar penduduk Indonesia. Di saat yang sama, permintaan komoditas Indonesia dari luar terus melonjak. Sejak kejatuhan Lehman Brothers pada 2008, ekspor Indonesia telah tumbuh berlipat ganda, dan kinerjanya hanya dapat dibandingkan oleh negara pengekspor kuat seperti Taiwan dan Korea,” ujar Lim Su Sian.

Demikian pula dikataka mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Depkeu, Anggito Abimanyu. Menurutnya, saat ini Indonesia dalam momentum masuknya investasi asing. Namun jika tak dibarengi dengan kebijakan yang memfasilitasi pertumbuhan jangka pendek, akan terjadi pembalikan dalam jangka panjang. "Arus investasi akan menurun kembali ke posisi normal," tegasnya.

Ekonom UGM ini menambahkan perekonomi Indonesia telah pulih kembali dari badai krisis global yang terjadi di 2008-2009. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,1% di 2010. Ini disebabkan oleh berbagai faktor ekonomi, di antaranya pertumbuhan PDB sebesar 6,1% di 2010 dari 4,5% di 2009.

Anggito menjelaskan, selain dipengaruhi faktor PDB, pertumbuhan ekonomi tersebut ditandai dengan naiknya nilai inflasi sebesar 6,9% di 2010, dibandingkan 2009 sebesar inflasi 2,78%. Sementara BI Rate stagnan, di 6,5% di 2010. Nilai tukar rupiah 9.035 di 2010 atau menurun dibandingkan 2009 sebesar 9.404. IHSG di 2010 tumbuh 3.756 dari yang sebelumnya 2.534 di 2009. **cahyo