Negeri Kecanduan Impor

Impor memang bukan barang haram pada era perdagangan bebas sekarang ini. Namun kecanduan impor jelas berbahaya. Bahkan tingkat bahayanya melebihi kecanduan narkoba. Betapa tidak! Bangsa yang kecanduan produk impor pada titik tertentu tidak hanya menguras devisa negara, namun bisa mematikan infrastruktur mental bangsa untuk memproduksi barang dan jasa secara mandiri. Kalau itu terjadi, bukan tidak mungkin ketergantungan pada impor bakal mengikis kedaulatan ekonomi suatu negara.

Baru-baru ini, kita terhenyak dengan data BPS yang menyebutkan total impor 2011 mencapai US$177,3 miliar dengan rincian impor minyak dan gas sebesar US$40,69 miliar dan impor non-migas senilai US$136,61 miliar. Total nilai impor 2011 mengalami kenaikan sangat dahsyat yakni sebesar 30,69% dibandingkan 2010. Khusus untuk total impor non-migas 2011 tercatat US$136,61 miliar atau naik 26,20% secara tahunan. Porsi impor terbesar yakni mesin dan peralatan mekanik sebesar US$24,68 miliar dan mesin dan peralatan listrik dengan nilai US$18,23 miliar.

Nah, berdasarkan negara sumber impor, China masih menjadi sumber impor nomor wahid, disusul Jepang dan Amerika Serikat. Impor komoditas buah-buahan asal China mengalami lonjakan luar biasa sehingga membuat neraca perdagangan Indonesia-China defisit paling besar dibandingkan negara lainnya, yakni mencapai US$1,1 miliar pada Januari 2012. Secara akumulatif, peningkatan volume impor asal Negeri Tirai Bambu mencapai 300% dalam kurun empat tahun belakangan. Neraca perdagangan RI-China tercatat terus keok sejak 2008 dan kondisi tersebut cenderung membengkak hingga 2011, dengan angka pertumbuhan defisit rata-rata US$500 juta per tahun.

Di sektor industri, negeri ini seperti benar-benar kecanduan impor. Data Kementerian Perindustrian menyabutkan, industri besar di sektor otomotif, elektonik, farmasi dan tekstil masih terlalu bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan impor barang modal sebesar 18,65% dan bahan baku naik dari 72,79% pada 2010 menjadi 73,80% selama 2011. Tidak tanggung-tanggung, industri farmasi, otomotif bahkan jamu tradisional, ketergantungannya terhadap bahan baku impor mencapai 90%. Industri pengolahan ikan, seperti ikan temuru, ketergantungan bahan baku impor mencapai 100%. Celakanya, bahan-bahan baku tersebut sesungguhnya bisa diproduksi di dalam negeri.

Sejauh ini kebijakan impor hanya dikalkulasi secara ekonomi. Tidak berdasarkan tinjauan sosial budaya, apalagi disertai dengan analisa dampak psikologis. Maka tak heran, laku impor seperti telah membudaya. Padahal, filosofi impor sejatinya adalah penyambung, bukan sebagai tulang punggung kecukupan stok nasional. Kini untuk beberapa sektor, impor telah menjadi tulang punggung kecukupan bahan baku industri.

Di titik ini, pemerintah selaku regulator impor seolah lupa, ketika bangsa ini terbuai dengan budaya impor, maka infrastruktur mental produksi akan hancur akibat keenakan mengonsumsi barang luar negeri. Bukti kecil dari robohnya bangunan mental produksi adalah anak petani kini ogah meneruskan pekerjaan bapaknya. Pun anak nelayan emoh melaut karena bisnis perikanan tangkap tidak lagi menggiurkan. Itulah sebabnya, pemerintah harus sadar, kalau mental produksi macam ini semakin rusak, biaya untuk recovery akan jauh lebih mahal, apalagi kalau sudah komplikasi.

Related posts