Politik dan Ekonomi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Drama politik ekonomi semakin dipertontonkan para elite politik di republik ini. Fakta ini menarik dicermati terutama mengacu memanasnya iklim sospol menjelang pilpres, meski di sisi lain imbas dari drama politik juga sangat rentan terhadap geliat ekonomi bisnis. Oleh karena itu, beralasan jika tahun politik dalam kasus pilpres 2019 tidak bisa terlepas dari realitas ancaman stabilitas dan juga iklim sospol sehingga rentan memicu keperilakuan wait and see. Bahkan, jika situasinya terus memanas bukan tidak mungkin akan bisa berubah menjadi wait and worry sehingga arus asing akan semakin banyak ke luar dan tentu ini menjadi ancaman domestik. Selain itu, sentimen pasar juga sangatlah rentan terhadap nilai tukar. Padahal, depresiasi rupiah sudah menembus Rp.15.000.

Identifikasi dari drama politik ekonomi muncul setidaknya dari kasus kebohongan RS yang berdalih dianiaya sehingga salah satu kandidat capres merasa diuntungkan dengan situasinya dan menggelar berbagai jumpa pers. Hal ini justru mengingatkan kembali dari kasus bakpao terkait SN beberapa waktu lalu yang akhirnya cuma bualan pengacara. Ironisnya, tidak berselang lama dari pemberitaan RS itu akhirnya juga menggelar jumpa pers dengan mengakui kebohongannya dan sekaligus menjadikan kubu capres yang lain untuk gantian menggelar jumpa pers. Imbasnya kedua kubu saling serang dan berlanjut saling ancam serta saling lapor ke pihak berwajib. Ending-nya entah kemana karena mungkin dari kedua kubu akhirnya menemukan lagi drama baru yang lebih heboh.

Drama baru itu benar adanya yaitu politikus sontoloyo yang kerjaannya cuma mencari kejelekan kinerja tanpa berusaha memberikan solusi terbaik. Yang menarik, media tv juga berkesempatan menjual drama politik untuk mendapatkan pundi-pundi iklan tv. Begitu juga para pengamat saling berdebat di tv seolah menjadi pengamat terhebat dan bisa menjanjikan seribu solusi tanpa bukti. Akibatnya, masyarakat dibuat jengah ketika salah satu maskapai mengalami kecelakaan. Setidaknya dalam sepekan terakhir pasca maskapai itu kecelakaan kemudian media sedikit meredup dalam pemberitaan drama politik. Sayangnya, ini hanya sebentar saja karena kemarin drama politik kembali lagi dipertontonkan kepada publik. Setidaknya ini terbukti dari pernyataan tampang Boyolali

Hebatnya lagi, seolah tersulut puntung rokok, pernyataan tampang Boyolali itu menjadi bulan-bulanan dan tentu salah satu kandidat capres diuntungkan dengan situasi ini dan tentu ini menjadi santapan lezat bagi media atau setidaknya ini membenarkan argumen bad news is good news. Oleh karena itu, beralasan jika dalam sepekan kemudian banyak ulasan dan pemberitaan di media tentang perang urat syarat terkait dengan pernyataan tampang Boyolali. Apakah sampai disini? Tentu tidak dan argumen yang mendasarinya tidak bisa terlepas dari momentum menjelang pilpres 2019. Artinya, bisa dipastikan juga bahwa memanasnya iklim sospol ini akan terus berlanjut sampai ada pemenang dibalik rematch Jokowi – Prabowo jilid II.

Terlepas dari berbagai faktor yang mendasari terjadinya drama politik, pastinya geliat ekonomi bisnis harus tetap jalan. Belum lagi adanya ancaman sejumlah bencana yang terjadi di akhir tahun 2018. Betapa tidak, pemberitaan media menyebut terjadi bencana banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah ketika memasuki musim hujan tahun ini. Selain itu, kebangkitan ekonomi di sejumlah daerah yang dilanda bencana juga penting untuk diperhatikan, termasuk tentunya insentif dan stimulus dari pemerintah di daerah bencana agar geliat ekonomi bisnis bisa tumbuh dan berkembang lagi.

BERITA TERKAIT

Kerja Sama Petani dan Peternak Ayam Difasilitasi

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian memfasilitasi kerja sama antara petani jagung di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan peternak ayam untuk…

Impor Beras Karena Data Permintaan dan Pasokan Tak Valid

NERACA Jakarta – Impor pangan terutama beras disebut masih terjadi karena data yang dimiliki pemerintah tidak valid mengenai ketersediaan dan…

Bank Muamalat dan At Tayibah Al Multazam Luncurkan Tahapan Haji Umrah

      NERACA   Jakarta - Kasus penyalahgunaan dana calon jemaah sempat menghebohkan industri jasa perjalanan haji dan umrah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Torehan Positif Keuangan Negara

Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economics Universitas Prasetiya Mulya                   Pemerintah mampu menorehkan prestasi gemilang dalam pengelolaan…

Rezim Devisa Bebas, Siapa Menikmati?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Indonesia dan juga negara-negara lain di dunia pada dasarnya menjadi anggota klub…

Dilema Pengupahan

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tema Rapimnas Kadin Indonesia (26-28 Nov 2018) di…