Kemensos Siapkan Anggaran BLMS

NERACA

Jakarta--- Kementerian Sosial (Kemensos) menunggu keputusan soal besaran Bantuan Langsung Masyarakat Sementara (BLMS) yang akan dibagikan kepada masyarakat miskin terkait kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi. "Keputusan mengenai hal itu berapa jumlah, besaran dan lama akan diberikan itu yang pertama keputusan dulu naik atau tidak harganya,” kata Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos Z Andi Dulung di Jakarta,5/3

Menurut Andi, Kemensos sendiri telah memiliki beberapa opsi terkait mekanisme pemberian BLSM tersebut. Nantinya opsi dari Kemensos sendiri mengenai pembagian BLT tersebut ada dua opsi apakah akan dibagikan 25% dari 40% tersebut atau 30% dari jumlah tersebut. "Berapa akan dibagikannya ini tergantung. Kalau misalnya Rp100 ribu dan 30% itu sekira Rp17 triliun anggarannya. Kalau Rp150 ribu dan 30% yang mau dijangkau itu sekitar Rp25 triliun. Itu hasil simulasi dan hitung-hitungannya. Itu akan masuk dalam APBN-P," tambahnya.

Diakui, Andi Dulung, pemberian Bantuan Langsung Masyarakat Sementara (BLMS) jangan dipandang sebagai satu-satunya solusi untuk mengentaskan permasalahan kemiskinan. "BLMS itu bukan program satu-satunya untuk memberantas kemiskinan, banyak program pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan itu seperti BOS, Jamkesmas ada raskin dan lain-lain," cetusnya

Hal tersebut akan dilakukan oleh masyarakat secara terus menerus untuk juga membantu meningkatkan daya beli masyarakat, meski Kemensos pun yakin bahwa hal tersebut tidak akan membantu 100% full. "Hal itu dilakukan terus menerus, cuma orang itu kan masih miskin tiba-tiba ada lonjakan seperti itu menjadi tidak stabil selama beberapa bulan dan inilah yang dibantu kemampuan daya belinya diangkat walaupun ini sejujurnya tidak bisa bantu 100 persen. Karena cuma itu yang bisa kita lakukan," paparnya.

Andi pun menuturkan, terkait banyak pemikiran bahwa pemberian BLMS tersebut tidak mendidik, hal tersebut harus dilihat dari berbagai sudut pandang, jangan dipandang dalam satu sudut semata. "Banyak yang memang mengatakan seperti itu, tergantung kita lihat masalahnya, kalau menurut kajian yang baru itu, kalau orang itu diberikan uang, bagi orang-orang yang memenuhi kebutuhan makan, itu cukup itu sangat tepat. Karena kalau orang tidak bisa memenuhi kebutuhannya itu, pasti dia memenuhi kebutuhan makannya terlebih dahulu," kata Andi.

Dikatakan Andi, BLSM takkan membuat orang miskin melakukan foya-foya. Bahkan dana BLSM tersebut hanya berputar-putar saja dan takkan lari ke luar negeri. "Dia tidak akan pergi jalan-jalan, beli rokok, itu pokoknya. Kemudian berikutnya dan itu pasti uang ini akan berputar di ekonomi domestik, karena orang miskin dikasih Rp100 ribu tidak akan mungkin pergi ke Singapura. Uangnya berputar di situ, jadi berapa uang masuk desa itu, ya segitu juga uang yang berputar di sana," pungkasnya. **cahyo

Related posts