Menilik Pasar Modal Di Indonesia

Neraca. Krisis saham di berbagai belahan dunia membuat orang panik dan khawatir dengan nilai investasinya yang mereka pikir makin berkurang. Namun sebenarnya kekhawatiran itu tidak perlu terjadi jika seseorang memiliki pemahaman yang baik mengenai prinsip berinvestasi. Salah satu instrumen investasi yang banyak diminati orang terutama pekerja ialah reksa dana.

Sedangkan, pasar modal di Indonesia tidak selalu sama dari tahun ke tahun, namun pada 2012 menjadi angin segar untuk pasar modal Indonesia. Diawali dengan predikat invesment grade, Indonesia menjadi pusat perhatian dunia untuk menanamkan modal bagi investor asing, ini dikarenakan Indonesia salah satu negara yang tidak terlalu terpengaruh oleh adanya krisis global yang dialami dengan negara-negara maju. Sedangkan dampak negatif yang paling cepat dirasakan sebagai akibat dari krisis perekonomian global adalah pada sektor keuangan melalui aspek sentimen psikologis maupun akibat merosotnya likuiditas global. Penurunan indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai sekitar 50,0%, dan depresiasi nilai tukar rupiah disertai dengan volatilitas yang meningkat. Sepanjang tahun 2008, nilai tukar rupiah telah terdepresiasi sebesar 17,5%. Kecenderungan volatilitas nilai tukar rupiah tersebut masih akan berlanjut hingga tahun 2009 dengan masih berlangsungnya upaya penurunan utang (deleveraging) dari lembaga keuangan global. Anda pasti setuju, kebutuhan utama investor adalah investasi yang aman tetapi untung besar. Tetapi sayangnya hampir tidak ada investasi seperti itu. Yang umum adalah, semakin besar peluang untungnya, semakin besar risikonya, demikian pula sebaliknya. Dalam dunia investasi tidak langsung saham, obligasi, atau pasar uang, memang ada satu hukum yang umum berlaku, yaitu menyangkut tingkat-tingkat risiko setiap jenis investasi. Yang umumnya dinilai berisiko paling rendah adalah investasi pada instrumen pendapatan tetap seperti deposito, tabungan dan obligasi. Investasi pada kelompok ini dinilai memberikan hasil yang paling kecil, tetapi pasti. Yang paling kecil biasanya tabungan, disusul deposito, dan paling tinggi adalah obligasi. Tetapi ketiganya masuk dalam kelompok investasi pendapatan tetap. Kendati untungnya kecil, bukan berarti investasi pada instrumen ini tanpa risiko. Selalu ada risiko di sana. Bisa saja bank tempat anda menabung atau menempatkan deposito kolaps. Bisa saja perusahaan yang menerbitkan obligasi tidak mampu membayar bunga dan utang pokoknya. Kalau ini terjadi, risikonya tidak kalah parah tabungan atau deposito anda tidak bisa ditarik, atau obligasi anda tidak terbayar. Artinya, investasi anda “jeblok-abis”, hingga mungkin nilainya jauh di bawah nilai awal investai anda, atau bahkan habis sama sekali. Investasi pada instrumen saham biasanya disebut berpeluang paling besar. Investor bisa berharap mendapatkan penghasilan dari dua sumber dividen (keuntungan perusahaan) dan perubahan harga saham di pasar. Tetapi pada saat yang sama risikonya juga ganda. Perusahaan bisa merugi, bahkan bangkrut, dan harga saham di pasar juga bisa merosot. Dilihat dari return historis yang bagus, instrumen ini juga memiliki fungsi penting dalam menjalankan fungsi diversifikasi. Sudah beberapa kali dalam sejarah di mana ketika kondisi saham sedang terpuruk, kerugian di obligasi lebih kecil bahkan tidak jarang memberikan keuntungan seperti yang terjadi tahun lalu. Jadi, memiliki reksa dana pendapatan tetap adalah suatu keharusan terutama bagi investor besar atau investor institusi yang ingin mengelola investasinya dengan hasil yang lebih optimal. Artinya nilai investasi anda pada instrumen ini juga berisiko, bahkan sumber risikonya juga ganda. Sama seperti di atas, anda bukan hanya harus siap untung, tetapi juga harus siap kalau uang yang anda investasikan terus merosot. Kembali, reksa dana adalah sistem investasi secara paket. Dengan sistem itu, diharapkan akan terjadi saling tutup antara investasi-investasi dalam paket itu. Kalau satu saham jeblok, diharapkan yang lain lumayan bagus. Kalau tren sedang turun, bisa jadi satu saham jeblok sekali, saham lain jeblok tapi tidak seberapa, saham lain lagi masih untung tipis, sehingga secara rata-rata tidak terlalu parah.

Related posts