Komunikasi yang Tidak Etis

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Tudingan pemerintah adanya upaya penggulingan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono kembali beredar di balik rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kecurigaan yang dinilai berlebihan tersebut disampaikan langsung Menko Polhukam Djoko Suyanto, bahwa mulai ada gerakan yang memanfaatkan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM pada April mendatang untuk penggulingan presiden.

Tentunya, bila informasi intelijen itu benar, maka tidak etis untuk disampaikan kepada publik dan terlebih bila menjadi konsumsi para politisi yang sebaliknya hanya akan menjatuhkan pemerintahan SBY. Sejatinya, informasi dari intelijen negara tersebut seharusnya cukup dikonsumsi oleh pemerintah dengan mempersiapkan antisipasi yang matang dan komprehensif.

Sebaliknya dengan sesumbar soal adanya gerakan penggulingan presiden dibalik kenaikan harga BBM, hanya akan menimbulkan saling kecurigaan antara rakyat dan pemerintah. Pasalnya, bagi rakyat kecil pemikiran tersebut tidak akan terpatri, jika pemerintah memberikan yang terbaik dari yang baik dibalik kenaikan harga BBM. Selain itu, informasi yang disampaikan pemerintah akan memberikan sentimen negatif bagi pelaku ekonomi yang membutuhkan adanya iklim politik yang stabil.

Asal tahu saja, bukan kali pertama pemerintah menyampaikan dugaan adanya upaya penggulingan persiden SBY. Sebelumnya juga pernah disampaikan langsung presiden dengan konfrensi pers di istana dengan adanya upaya pembunuhan oleh gerakan teroris. Komunikasi yang disampaikan pemerintah soal adanya upaya penggulingan presiden dibalik kebijakan yang diambil hanya akan menjadi bumerang.

Karena bagaimanapun juga, setiap kebijakan publik yang diambil pemerintah selalu menuai pro dan kontra. Namun persoalannya, sejauh mana pemerintah pandai menyikapinya dan bukan membuat pernyataan yang tidak layak disampaikan dihadapan publik. Memang bicara kebijakan BBM selalu mempengaruhi roda perekonomian dan sangat menyentuh kehidupan rakyat, maka tidak heran banyak politisi yang memanfaatkan peluang hal tersebut untuk mengambil keuntungan.

Hanya saja, saat ini rakyat sudah pintar mana yang benar-benar membela untuk kepentingan rakyat dan hanya mengambil keuntungan atas nama rakyat. Maka apa yang dilontarkan pemerintah dengan adanya tudingan penggulingan presiden hanya akan menjatuhkan delegitimasi pemerintah di mata rakyat. Karena presiden yang dipilih langsung oleh rakyat, tidak takut menghadapi segelintir kelompok yang mengupayakan untuk menjatuhkan dibalik kenaikan harga BBM.

Pemerintah SBY-Boediono seharusnya lebih fokus menjalankan roda pemerintahan hingga masa akhir jabatan. Hambatan dalam politik itu sudah biasa dan apalagi upaya ancaman menjatuhkan kepemimpinan negara ini, tetapi akan luar biasa jika presiden ataupun pembantunya menyikapi hal tersebut secara berlebihan, sehingga terkesan pemerintah tidak mempunyai ahli komunikasi.

Related posts