Cadev Indonesia Naik US$ 200 Juta - Tempo Sebulan

NERACA

Jakarta - Cadangan Devisa RI hingga akhir Februari 2012 kembali meningkat. Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa RI mengalami peningkatan US$ 200 juta dari akhir Januari 2012. "Cadangan devisa RI per akhir Februari 2012 mencapai US$ 112,2 miliar," kata Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono di Jakarta

Pada Januari 2012 lalu, cadangan devisa RI tercatat sebesar US$ 112 miliar. Dijelaskan Hartadi kenaikan cadangan devisa ini secara umum karena adanya penerimaan migas. "Kenaikan cadangan devisa secara umum karena kenaikan penerimaan migas yang harganya juga cenderung naik," kata Hartadi.

Lebih jauh Hartadi menyampaikan kepemilikan asing di portofolio Sertifikat Bank Indonesia (SBI) mengalami penurunan. "Kepemilikan asing di SBI hanya Rp 8 triliun atau 8,1% dari total SBI. Sedangkan kepemilikan asing di SBN (Surat Berharga Negara) tercatat Rp 227,0 triliun atau 29,25% dari total SBN," tutup Hartadi.

Hal yang sama dikatakan Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah, Bank Indonesia mencatat sampai akhir Januari 2012 cadangan devisa Indonesia mencapai 112 miliar dolar AS atau setara dengan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Jumlah tersebut meningkat dibanding posisi 31 Desember 2011 sebesar 110,123 miliar dolar AS.

Menjelaskan hasil Rapat Dewan Gubernur BI hari ini, Difi menyebutkan bahwa kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I-2012 diprakirakan akan mencatat surplus meskipun dengan kecenderungan yang lebih rendah. Sementara transaksi berjalan diperkirakan akan mengalami defisit seiring dengan menurunnya pertumbuhan ekspor, sementara impor masih relatif besar.

Surplus NPI pada triwulan I-2012 akan ditopang oleh transaksi modal dan finansial seiring dengan aliran investasi langsung (FDI) dan portofolio yang diprakirakan akan naik, didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, pencapaian investment grade diprakirakan akan memperkuat sentimen positif terhadap perekonomian Indonesia.

Disisi domestik, Dewan Gubernur menilai perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat, meskipun dengan kecenderungan pertumbuhan yang lebih rendah seiring dengan menurunnya prospek perekonomian global. Untuk triwulan I-2012, pertumbuhan ekonomi diprakirakan sebesar 6,5 persen, sementara untuk keseluruhan tahun 2012 akan cenderung pada batas bawah prakiraan 6,3-6,7 persen.

Sumber pertumbuhan terutama dari permintaan domestik, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tetap kuat. Konsumsi rumah tangga yang kuat ditopang oleh perbaikan daya beli dan keyakinan konsumen yang membaik seiring dengan terkendalinya inflasi. Sementara, peningkatan investasi didukung oleh iklim investasi yang kondusif dan persepsi terhadap prospek ekonomi Indonesia yang positif. **cahyo

Related posts