Koperasi di Tengah Gempuran Pelemahan Rupiah

Koperasi di Tengah Gempuran Pelemahan Rupiah

Jakarta - Krisis ekonomi global kini tengah melanda hampir seluruh negara di dunia. Meski begitu, masyarakat koperasi di Indonesia tidak perlu khawatir dengan gonjang-ganjing nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS.

Anggota DPR RI Ono Surono menjelaskan, pelemahan rupiah tidak berpengaruh langsung pada kinerja koperasi karena hampir seluruhnya transaksi usaha di koperasi dengan menggunakan rupiah.“Sampai dengan saat ini tidak ada masalah. Semua masih berjalan normal”, aku Ono kepada Neraca di Jakarta, kemarin.

Namun, Ono mengakui, memang ada kenaikan sedikit pada kebutuhan nelayan dan pembudidaya ikan seperti alat mesin, dan kebutuhan melaut lainnya.“Tetapi, seiring itu, ada juga kenaikan harga ikan dan udang”, ucap Ono.

Ono juga menyebutkan, lonjakan dolar dan pelemahan rupiah juga pernah terjadi di 1998.”Namun, di sisi lain, terjadi kenaikan harga ikan dan udang yang saat itu bisa mengimbangi laju infasi. Misalnya, harga udang yang awalnya Rp60 ribu per kilogram melonjak menjadi Rp130-150 ribu per kilogram. Karena udang tersebut mayoritas untuk pasar ekspor”, imbuh Ono lagi.

Menurut Ono Surono, kondisi saat ini sangat berbeda dengan 1998, terutama dalam hal inflasi yang pemerintah Presiden Jokowi mampu untuk mengatasinya.

Dalam situasi dan kondisi krisis global itu, Ketua Harian Dekopin Agung Sudjatmoko memberikan solusi bagaimana mengatasi situasi ekonomi yang sulit bagi koperasi.“Pengalaman dan situasi seperti ini sudah sering kali terjadi dan akan terus terjadi. Maka, pilihan bagi menjaga kinerja koperasi adalah koperasi harus berani masuk ke usaha sektor riil pertanian yang berorientasi pasar ekspor”, tegas Agung.

Kedua, koperasi masuk pada sektor pertanian dasar untuk mewujudkan swasembada dan kedaulatan pangan. Sehingga, bisa menurunkan impor pangan nasional.

Ketiga, pemerintah harus sadar dan ingat kembali membangun usaha sektor riil untuk menstabilkan kebutuhan pangan nasional bersama koperasi, karena hanya wadah koperasi yang benar sehingga rakyat mampu meningkatkan produktivitasnya.

Agung mengakui, gonjang-ganjing melemahnya rupiah pasti membawa dampak pada semua pihak. Pelaku usaha pasti akan kena dampak baik langsung atau tidak langsung. Pelaku usaha besar dan kecil termasuk koperasi yang bahan baku atau subtitusinya impor, pasti akan melakukan kenaikan harga produk atau menurunkan ukuran produk.“Pilihan bijak bagi pelaku usaha adalah menurunkan ukuran produk karena akan memberikan dampak psikologis pada konsumen dan rakyat”, kata Agung.

Dalam konteks ini, koperasi yang melakukan ekspor komoditas seperti kopi, cengkeh dan hasil bumi lainya akan menikmati keuntungan yang baik. Kondisi tersebut akan meningkatkan kinerja usaha koperasi.“Tetapi, bagi koperasi yang bahan bakunya dari impor seperti kedelai, terigu, dan lain-lain, akan mengalami kesulitan. Sehingga, kinerja koperasi seperti itu akan menurun”, pungkas Agung. Mohar/Rin

BERITA TERKAIT

Pengamat: Perubahan Asumsi Kurs Rupiah Realistis

NERACA Jakarta - Pengamat ekonomi sekaligus Rektor Universitas Katolik Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko menilai perubahan asumsi nilai tukar Rupiah dalam…

Titik Keseimbangan Rupiah Di Posisi Rp15.000

      NERACA   Jakarta - Ekonom Agustinus Prasetyantoko menilai level Rp15.000-an per dolar AS saat ini merupakan titik…

Meski Rupiah Melemah, Subsidi BBM Tak Berubah

      NERACA   Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar masih dikisaran Rp15.200 yang mana nilai tersebut jauh…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

Saksi: Penyetoran Modal PLTU Tidak Sesuai Aturan

Saksi: Penyetoran Modal PLTU Tidak Sesuai Aturan NERACA Jakarta - Direktur Utama PT Samantaka Batubara A.M. Rudy Herlambang selaku saksi…

KPK Ikuti Perkembangan Kasus Pertamina

KPK Ikuti Perkembangan Kasus Pertamina NERACA Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih mendalami dugaan tindak pidana korupsi investasi…

Citrus-UGM Dorong Penerbitan Perppu Spektrum Frekuensi

Citrus-UGM Dorong Penerbitan Perppu Spektrum Frekuensi   NERACA Yogyakarta - Center for Indonesia Telecommunication Regulation Studi (Citrus) bersama Fakultas Hukum Universitas…