Jasa Marga Usulkan Tol Baru

NERACA

Jakarta---PT Jasa Marga (persero) Tbk (JSMR) mengaku memiliki rencana mengajukan proyek prakarsa pembangunan jalan tol baru kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum (PU) pada tahun ini. Ruas tol baru yang diusulkan pengerjaannya adalah Daan Mogot hingga Bandara Soekarno-Hatta sepanjang 3 kilometer (km). "Ini untuk subsidi silang kurangnya tingkat kelayakan tol Semarang–Solo,” kata Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman di Jakarta,27/2

Menurut Adityawarman, proyek prakarsa itu merupakan satu dari dua ruas tol yang akan diajukan sebagai bentuk kompensasi kesediaan perusahaan menanggung dana dukungan pemerintah pada pembangunan tol Semarang–Solo sebesar Rp1,9 triliun. Satu proyek tol baru lainnya yakni rute Kalibaru–Marunda.

Jasa Marga sedang menyusun studi kelayakan terkait proyek jalan tol tersebut,untuk diajukan kepada BPJT.Studi tersebut mencakup trase yang akan dilewati, kebutuhan biaya konstruksi, serta tingkat kelayakan ekonomi dan finansial proyek tol.

Nantinya, tol baru tersebut akan menghubungkan wilayah Daan Mogot dengan ruas tol Prof Dr Ir Sedyatmo yang dikelola Jasa Marga.Adityawarman memperkirakan, pelaksanaan konstruksi ruas tol itu membutuhkan dana sekitar Rp150–250 miliar.

Kepala BPJT Ahmad Gani Gazali mengatakan pihaknya belum menerima usulan proyek tersebut. Namun jika usulan pembangunan itu disetujui oleh Kementerian PU, Jasa Marga akan mendapatkan hak keistimewaan sebagai pemrakarsa.

Sebelumnya, Adityawarman sempat mengungkapkan agar pemerintah tidak selalu mengandalkan pembangunan jalan tol sebagai solusi untuk masalah kemacetan seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan setiap tahunnya. "Jangan hanya mengandalkan jalan tol saja dong. Jalan tol kan hanya salah satu alternatif saja. Kemacetan tidak akan selesai begitu saja hanya dengan pembangunan jalan tol," paparnya

Lebih lanjut Adityawaran menambahkan, alangkah baiknya jika pemerintah dapat membangun sarana transportasi lainnya sebagai alternatif untuk mengurangi kemacetan seperti subway (kereta bawah tanah) atau sebuah MRT (Mass Rapid Transit). "Lihat saja seperti negara lainnnya yang sudah memiliki sarana transportasi seperti itu Jepang, dan Singapura kan jadi tidak terlalu macet," paparnya.

Aditywarman berpendapat bahawa pemerintah harus benar-benar memikirkan hal tersebut. "Saya rasa pemerintah harus benar-benar memikirkan hal tersebut. Kalau tidak apa yang benar-benar diprediksikan oleh para pengamat bahwa lalu lintas Jakarta akan stagnan benar-benar akan terjadi," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Realisasi Belanja Negara Hingga Oktober Capai 73,1%

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa realisasi belanja negara sejak Januari hingga Oktober…

Cara Menpan RB Rampingkan Birokrasi

    NERACA   Jakarta - Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo menyampaikan langkah-langkah perampingan…

Kemendagri Minta Pemda Evaluasi Perda Terkait Dugaan Desa Fiktif

    NERACA   Jakarta - Kementerian Dalam Negeri meminta pemerintah daerah agar mengevaluasi peraturan daerah pembentukan desa terkait belakangan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Serap Rp23 Triliun dari Lelang SUN

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp23 triliun dari lelang tujuh seri Surat Utang Negara (SUN)…

MRT Kembangkan Pembayaran Tiket Lewat QR Code

    NERACA   Jakarta - PT Mass Rapid Transit Jakarta mengembangkan sistem pembayaran tiket baru dengan menggunakan QR Code…

Motor Penyumbang Polusi Terbesar di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan bahwa sepeda motor masih menjadi…