Tawarkan Bunga Tinggi, Pasar Modal Menjadi Pesaing Perbankan - Instrumen Investasi

Neraca

Jakarta – Banyaknya dana masyarakat diperbankan yang lari pada instrument investasi pasar modal menjadi kekhawatiran para pelaku perbankan. Terlebih saat ini nilai suku bunga bank turun seiring dengan BI Rate yang dipangkas dan kondisi ini berbeda dengan bunga obligasi yang masih menawarkan return yang tinggi.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan, pasar modal sebenarnya bisa menjadi pesaing industri perbankan dalam mengendalikan bunga yang tidak hanya sebagai alternatif lain mencari dana. “Bisa juga melahirkan berbagai instrumen yang lebih kecil dan menekan lebih jauh industri perbankan”, tukas Gubernur BI Darmin Nasution, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis, 23 Februari 2012.

Darmin berharap, pasar modal di Indonesia bisa lebih efisien guna memunculkan kompetisi bunga yang lebih baik lagi, sehingga bisa membuat industri perbankan lebih optimal dalam kinerja ke depan.“Tapi saya tidak bisa lebih jauh mendorong hal itu. Kalau urusan saya hanya di perbankanya saja”, tutur Darmin.

Dia menambahkan, dari data BI, terlihat total laba bersih perbankan nasional pada 2011 mencapai Rp75 triliun, naik 31% bila dibanding tahun sebelumnya yang mencapai Rp57,3 triliun. Kenaikan laba tersebut, pun tidak seluruhnya disebabkan kinerja perbankan semata, melainkan juga karena suku bunga kredit belum turun secepat biaya dana.

Selain itu, kenaikan laba juga karena premi risiko yang awalnya ditetapkan tinggi ternyata tak banyak digunakan pada 2011 karena kredit bermasalah rendah. Asal tahu saja, kebijakan Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,75% berdampak positif pada pasar obligasi domestik. "Itu tercermin penguatan indeks harga obligasi yakni menguatnya benchmark harga Surat Utang Negara (SUN)," kata Corporate secretary Indonesia Bonds Pricing Agency (IBPA), Tumpal Sihombing.

Saat ini, harga benchmark SUN menguat pada rentang 88-245 bps. Penguatan harga tertinggi terjadi pada seri FR0058 sebanyak 245,0bps ke level harga 128,5000 dengan tingkat imbal hasil (yield) sebanyak 5,8374%. Tumpal juga mengungkapkan, turunnya BI rate menjadi salah satu alasan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah menurunnya kinerja ekonomi global.

Hal senada juga disampaikan pengamat obligasi I Made Adi Saputra yang menilai keputusan BI menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,75% akan mendorong penerbitan obligasi atau surat utang korporasi. "Penurunan BI rate sebesar 25 basis poin (bps) dari enam persen menjadi 5,75% pada pekan lalu akan memicu penerbitan obligasi korporasi,"katanya.

Menurutnya, kondisi itu juga telah membuat batas bawah koridor suku bunga menjadi 150 basis point (bps) dari seblumnya 200 bps sehingga bank sentral dapat melakukan pelonggaran likuiditas.

Bunga Obligasi Tinggi

Dia menuturkan, pada tahun ini obligasi korporasi diperkirakan ramai seiring dengan kupon bunga yang ditawarkan lebih tinggi dibanding obligasi pemerintah (SUN). "Dari segi `yield`, obligasi korporasi bertenor lima tahun dengan peringkat `AA` (double A) pada umumnya diperdagangkan di kisaran 8,25-8,75%, kondisi itu lebih menarik dibanding obligasi pemerintah yang sebesar enam persen," ungkapnya.

Meski demikian, kata I Made Adi, obligasi pemerintah juga memiliki prospek yang positif, namun disarankan untuk aktif melakukan "trading" di pasar sekunder. Obligasi juga merupakan salah satu sumber pendanaan jangka panjang bagi perusahaan dalam melakukan ekspansinya.

I Made juga mengharapkan, kondisi ekonomi dalam negeri yang tidak terlalu terkena dampak dari krisis utang di Eropa juga dapat mendorong Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menerbitkan surat utang.

Menurutnya, penerbitan obligasi BUMN diperkirakan akan diminati oleh investor dari dalam negeri maupun asing dikarenakan pertimbangan risiko. "Obligasi BUMN selalu diminati oleh investor dikarenakan pertimbangan risiko," katanya.

Tahun ini diperkirakan akan terjadi kenaikan besar terhadap obligasi korporasi dengan nilai mencapai Rp70 triliun."Mayoritas memang kenaikan ini terjadi di rupiah bond," kata Director Head of Indonesia Equity PT Citigroup Securities Indonesia Ferry Wong di Jakarta, kemarin.

Pada 2011 lalu, total nilai obligasi korporasi mencapai Rp51 triliun. Kenaikan tersebut didorong rating investment grade yang sudah didapat Indonesia dari dua lembaga pemeringkat internasional yaitu Moody's dan Fitch. (bani)

BERITA TERKAIT

BPR Diminta Konsolidasi Untuk Perkuat Modal

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank perkreditan rakyat (BPR) yang tidak bisa memenuhi syarat…

PASAR KREATIF

Pengrajin menata wayang kertas buatannya di salah satu stan dalam Pasar Kreatif di depan Balaikota Malang, Jawa Timur, Rabu (20/2/2019).…

Gandeng IKA ITS, BNI Life Tawarkan Program Asuransi

    NERACA   Jakarta - PT BNI Life Insurance (BNI Life) melakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Ikatan Alumni…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

PPRO Berikan Kran Air Siap Minum di Semarang

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada lingkungan, PT PP Properti Tbk (PPRO) bersama…

Tawarkan IPO Rp 178 -198 Persaham - Interfood Bidik Kapasitas Produksi 10.600 Ton

NERACA Jakarta –Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO)…

Mandom Targetkan Penjualan Tumbuh 10%

Sepanjang tahun 2019, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) membidik pertumbuhan penjualan sebesar 5% hingga 10%. Hal itu ditopang pertumbuhan penjualan…