Membeli Merek atau Kenyamanan?

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Warren Buffet sosok miliarder berkelas dunia yang bijak mengatakan bahwa "Jangan memakai merek, pakailah yang benar nyaman untukmu". Terpancing oleh kalimat bijak tersebut, maka muncullah judul tulisan ini. Fakta berbicara bahwa melalui proses teknologi, inovatif, dan kehendak pasar yang terangkum dalam revolusi gaya hidup, tampaknya para konsumen di berbagai penjuru dunia membutuhkan produk dan layanan yang bermerek dan memberikan kenyamanan buat dipakai.

Sebab itu revolusi industri mencoba meresponsnya. Kalau tidak, maka industri akan stuck in the midlle dan bisa "mati suri" karena gagal menjawab revolusi gaya hidup atau revolusi konsumen.

Revolusi gaya hidup adalah persoalan di sisi demand side, dan revolusi industri berada dalam posisi supply side. Mekanisme pasar akan memandu bekerjanya kedua sistem tersebut dalam satu siklus bisnis dan diharapkan bisa mendatangkan manfaat ekonomi bagi keduanya.

Ini berarti bahwa menciptakan kondisi dimana revolusi dijawab dengan kontra revolusi inilah sebuah dinamika ekonomi dan sekaligus merupakan dinamika pasar yang berkembang di masyarakat modern dewasa ini.

Berarti, secara agitatif bisa dikatakan bahwa industrialisasi adalah soal hidup mati, dan soal berenang atau tenggelam secara filosofis melihatnya. Berada dalam lingkungan supply side bisa dikatakan cukup berat karena harus bisa selalu membaca perkembangan zaman dan memahami seluruh lintasan setiap perubahan yang terjadi pada era revolusi gaya hidup.

Revolusi ini didukung dan digerakkan oleh kekuatan daya beli dan gaya beli konsumen sejagat di belahan Barat, Timur, Utara, dan Selatan penjuru dunia. Jumlahnya sudah mendekati 7 miliar dilihat dari populasi penduduk. Di dalam kerumunan itu ada golongan kelas menengah yang di Asia saja pada tahun 2030 akan membelanjakan sebagian income-nya senilai USD 32 triliun atau hampir 6x lipat ramalan GDP Indonesia senilai USD 5,4 triliun di tahun yang sama. Dari 32 triliun dolar AS tersebut ada di Indonesia sebesar USD 2,5 triliun atau sekitar 50% dari GDP negara kita.

Dampak revolusi gaya hidup akan tetap menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa depan. Surga belanja Asia sebagian akan ada di Indonesia. Hampir dapat dipastikan akan banyak pihak yang mengais rezeki di NKRI. Merek dan kenyamanan harus hadir di Indonesia. Bahkan termasuk keamanan ada di dalamnya.

Revolusi gaya hidup dan revolosi industri ditakdirkan untuk saling berunjuk kekuatan dalam mekanisme pasar. Kekuatan daya beli dan gaya belinya head to head berhadapan dengan kekuatan industri yang menghasilkan barang dan jasa. Satu pihak butuh kepuasan pelayanan, dan di lain memerlukan teknologi, standardisasi dan inovasi dan jaminan pasar untuk bisa memuaskan pelanggan.

Baik revolusi gaya hidup maupun revolusi industri hadir sebagai penggerak ekonomi. Ada perbedaan prinsip di antara keduanya, yakni bahwa revolusi gaya hidup cenderung tidak melakukan kompetisi, tapi revolusi industri terlahir dalam ekosistem yang sarat dengan persoalan kompetisi.

BERITA TERKAIT

Ini Merek Mobil dan Sepeda Motor Terlaris di Semester Pertama

Sebanyak 553.757 unit mobil terjual secara wholeslaes (partai besar pabrik ke diler) pada semester pertama 2018, naik dibandingkan periode yang…

Stabilitas atau Pertumbuhan?

Oleh: Dr. Fithra Faisal Hastiadi, MSE., Dosen FEB-UI Pasca dinaikkannya suku bunga The Fed, tekanan pada rupiah kembali membesar. Apa…

GIIAS 2018, 37 Merek Kendaraan Pastikan Ambil Bagian

Pameran otomotif akbar Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 segera digelar di ICE, BSD City, Tangerang, pada 2-12 Agustus…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Indeks Kemaslahatan Pembangunan Kemiskinan

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekononomi Syariah Salah satu isu  yang kini ditunggu oleh masayarakat di tanah air saat ini…

Restrukturisasi Fiskal

  Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF   Dalam kebijakan fiskal (APBN), penerimaan negara dihimpun untuk membiayai pengeluaran publik. Arah…

Pencabutan DMO Batubara Tepat - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Alhamdulillah. Akhirnya Presiden Joko Widodo membatalkan rencana pencabutan domestic market obligation (DMO) batubara. Keputusan yang diambil beberapa waktu lalu usai…