Subsidi BBM Mestinya Dialihkan ke Pertanian

NERACA

Jakarta--- Langkah pemerintah memberikan subsidi BBM sekitar Rp 130 triliun dinilai sebagai kebijakan yang tidak tepat. Padahal subsidi BBM itu bisa dialihkan untuk memajukan industry pertanian. "(Perlu) memperbaiki saluran irigasi. Ya, kalau tidak ada air bagaimana sistem pengairan itu. Kemudian perkuat benih. Itu lihat benih hanya Rp 118 miliar," kata ekonom FEUI, Faisal Basri dalam Dialog Kedaulatan Ekonomi Nasional, di Hotel Millenium, Jakarta. Selasa (21/02)

Apalagi saat ini, kata Faisal, pemerintah mengeluarkan kebijakan seperti Food Estate, MIFEE dan MP3EI yang mengedepankan komoditas unggulan. Namun sayangnya kebijakan ini lebih memberikan fasilitas kepada pemodal besar untuk menguasai sektor pangan. Harusnya, kebijakan pangan lebih mendorong pada kemampuan bangsa untuk meningkatkan kapasitas dengan mengedepankan petani kecil. " Ini urusan perut. Harus makin semuanya diarahkan meningkatkan kapasitas bangsa ini untuk menutup urusan kebutuhan perut bangsa ini. Makanya harusnya petani kecil itu yang dibantu, didorong," katanya.

Lebih lanjut Faisal menyatakan, untuk lebih memperhatikan para petani kecil yang memberikan kontribusi besar terhadap pengan nasional. Maka berikan subsidi yang memadai bagi para petani. "Ya coba subsidi BBM itu berapa? Rp 130 triliun, Sementara subsidi benih hanya Rp 118 miliar," ujarnya.

Untuk menaikkan ketahanan pangan tahun ini dibutuhkan biaya besar. Karena harus banyak membangunan sarana irigasi. Tentu dananya harus dialokasikan dari APBN. Karena kondisi irigasi yang ada saat ini sangat memprihatinkan. “Intinya adalah memperbaiki saluran irigasi. Alasanya, hanya 50 % kondisi saluran irigasi kita yang status baik. Kemudian perkuat benih, itu lihat benih hanya Rp 118 miliar, kalau BBM Rp 130 triliun,” lanjutnya.

Faisal meminta pemerintah serius membahas dan memberikan solusi terkait ketahanan pangan. Bagi Faisal, ada ketimpangan antara dana bantuan BBM dengan dana bantuan untuk irigasi. "Bukan timpang banget lagi itu. Banget-bangetnya. Jadi soal-soal pangan ini harus serius deh, bukan main-main," ungkapnya. **mohar

BERITA TERKAIT

Lahan Pertanian Beririgasi Teknis Tak Terdampak Kekeringan

  NERACA Jakarta – Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hari Suprayogi mengatakan lahan pertanian…

Menakar Manfaat Subsidi Tol Laut

Oleh: Sarwani Analis Ekonomi Pembangunan Nasib subsidi tol laut dalam tahun anggaran mendatang berada di ujung tanduk. Pasalnya, DPR RI…

Sektor Primer - Perlindungan Varietas Tanaman dan Pertanian untuk Bisnis Disorot

NERACA Bogor - Indonesia for Global Justice (IGJ) bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan BEM KM Institut Pertanian…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Modena Benamkan Teknologi Magnihealth di Produk Water Heater

      NERACA   Jakarta - PT Modena Indonesia mewujudkan inovasi terbarunya dalam bentuk unit pemanas air kapasitas 20…

Taiwan Excellence Dorong Pertumbuhan E-sports di Indonesia

    NERACA   Jakarta - Potensi pasar gaming di Indonesia saat ini kian berkembang. Berdasarkan laporan yang dirilis oleh…

Ancaman Gagal Panen Berpotensi Naikkan Harga Komoditas Pangan

    NERACA   Jakarta - Gagal panen terancam akan terjadi pada komoditas pangan, terutama komoditas strategis seperti beras. Ancaman…