Bahayakah Ekonomi Bebas?

Kebebasan ekonomi digambarkan sebagai kebebasan warga di satu negara untuk bekerja, berproduksi, mengonsumsi, dan melakukan investasi dengan cara yang dia sukai serta kebebasan itu dilindungi dan tidak dihalangi negara. Kebebasan bisnis merupakan ukuran kuantitatif terhadap kemampuan untuk memulai, mengoperasikan dan menutup bisnis/usaha yang menunjukkan aturan dan efisiensi pemerintah dalam proses regulasinya. Kebebasan bisnis yang meningkat akan mengurangi biaya transaksi yang akan meningkatkanexpected cash flowdan meningkatkan harga saham.

Padahal negara kita sedang berupaya meningkatkan investasi langsung (foreign direct investment) seharusnya tidak perlu malu mencontoh kemajuan seperti di Singapura, Hong Kong dan lain-lain. Apalagi setelah diberlakukannya ASEAN Economic Community (AEC) 2015, pemerintah Indonesia setidaknya harus ekstra kerja menyiapkan perangkat kemudahan bagi investor asing berbisnis di negeri ini.

Namun kebebasan berbisnis yang tidak didukung oleh fundamental politik dan sosial yang kuat justru akan memacu persaingan yang tidak sehat yang akhirnya justru akan memicu ketidakpastian dan menurunkan harga saham. Karena bilaentrepreneurdidefinisikan sebagai orang yang banyak akal dan kreatif dalam menambah kesejahteraan, kekuatan dan prestise, akan siap mengimplementasikan kreativitasnya sangat tergantung dari insentif yang disediakan pemerintah.

Apabila sistem memberikan insentif untuk aktivitas produktif, maka mereka akan menciptakan bisnis baru. Jadi kebebasan berbisnis yang tidak didukung oleh fundamental politik dan sosial yang kuat, justru akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat. McCardle (2011) dalam artikelnya“When freedom is bad for business”menyatakan bahwa kebebasan berbisnis tanpa dukungan fundamental sosial dan politik yang kuat hanya akan memicu “entrepreneurial corruption”.

Hal ini juga akan semakin memicu persaingan yang tidak sehat dan meningkatkan ketidakpastian yang dapat berpengaruh negatif terhadap harga saham. Kebebasan finansial yang meningkat akan mengurangi biaya transaksi yang akan meningkatkanexpected cash flowdan meningkatkan harga saham. Karena kebebasan finansial adalah ukuran kepemilikan saham perbankan dan juga mengukur independensi dari pengawasan pemerintah.

Kebebasan ekonomi dapat identik dengan kegagahan kapitalisme, yang memang diakui umumnya karena berhasil menciptakan kenikmatan individual, kesejahteraan ekonomi secara kolektif. Namun, kita juga tahu, kapitalisme menghadirkan jurang kesenjangan yang teramat lebar.

Kebebasan perdagangan memungkinkan perusahaan meraih pasar internasional. Hal ini akan meningkatkanexpected cash flowdan meningkatkan harga saham. Ukuran pemerintah yang lebih kecil dalam hal konsumsi dan investasi menyebabkan perusahaan mrnghadapi persaingan yang menurun dengan pemerintah dalam hal investasi modal dan pangsa pasar. Ini akan mengurangi biaya modal dan biaya operasional dan meningkatkan pendapatan perusahaan.

Kebebasan finansial yang meliputi seberapa besar aturan pemerintah dalam jasa-jasa keuangan, seberapa besar intervensi pemerintah terhadap bank dan jasa-jasa keuangan lainnya, tingkat kesulitan membuka dan mengoperasikan perusahaan jasa-jasa keuangan (baik individu domestik dan asing) dan pengaruh pemerintah terhadap alokasi kredit. Kebebasan finansial yang meningkat akan mengurangi biaya transaksi yang akan meningkatkanexpected cash flowdan meningkatkan harga saham.

Kebebasan fiskal diukur berdasar tiga faktor yaitu tarif pajak tertinggi pada pendapatan individu, tarif pajak tertinggi pada pendapatan perusahaan dan pendapatan pajak total sebagai prosentase dari GDP. Semakin menurun beban fiskal , menunj ukkan kebebasan yang meningkat akan meningkatkanexpected cash flowdan meningkatkan harga saham.

Namun, kapitalisme membutuhkan sesuatu yang bersifat ”tidak kapitalistik”. Yaitu sepertioff-capitalismyang dapat menjadi semacam rem yang berupa sistem etika dan nilai yang menjadi mitigasi nilai kapitalistik. Artinya, etika dan nilai yang berpihak kepada orang miskin sehingga memberikan imperasi pada kapitalisme untuk bersikap adil. Dalam arti tidak hanya berpihak kepada elit, atau golongan tertentu saja.

BERITA TERKAIT

BEI Dorong Perusahaan di Babel Go Public - Optimalkan Pertumbuhan Ekonomi

NERACA Pangkalpinang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Kepulauan Bangka Belitung mendorong perusahaan di daerah menawarkan sebagian saham kepada…

Pemprov Banten Kurangi Kesenjangan Ekonomi Perempuan

Pemprov Banten Kurangi Kesenjangan Ekonomi Perempuan NERACA Serang - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten terus berupaya mengurangi kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan…

Masalah Ekonomi Masih Menjadi Salah Satu Yang Dominan Pasangan Menikah Bercerai

Masalah Ekonomi Masih Menjadi Salah Satu Yang Dominan Pasangan Menikah Bercerai NERACA Jakarta - Mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Korupsi Dana Desa

Hasil temuan Indonesia Corruption Watch (ICW) selama periode 2016 hingga Agustus 2017 sedikitnya ada 154 kasus penyelewengan dana desa dengan…

Jangan Anggap Enteng Krisis

Pelemahan nilai tukar sebenarnya sudah terjadi 4-5 tahun yang lalu dan praktis tidak ada upaya kebijakan yang signifikan dan cukup…

Turbulensi Krisis Garuda

Turbulensi ekonomi kini menerjang PT Garuda Indonesia Tbk setelah terkatung-katung tak menentu selama 1 tahun 5 bulan, akibat kondisi keuangan…