Spot Rawan Penularan Virus Corona saat Pendakian Gunung

Membawa surat keterangan bebas virus corona atau surat keterangan bebas penyakit mirip flu menjadi salah satu syarat mendaki pegunungan di Indonesia saat ini.

Pengelola gunung juga menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti membatasi jumlah pendaki serta mewajibkan penggunaan masker dan jaga jarak fisik antar pendaki. Meski telah ada aturan yang ketat dari pemerintah Indonesia dan pengelola, namun sejatinya usaha menekan angka penyebaran virus corona tetap menjadi tanggung jawab para pengunjung, seperti yang dikatakan oleh Meidian Prana, Humas Asosiasi Pendaki Gunung Indonesia (APGI).

Terlebih saat ini banyak orang yang sudah jengah berada di dalam rumah dan ingin segera wisata alam, sehingga memunculkan banyak pendaki pemula. Melatih kondisi fisik bisa menjadi salah satu persiapan mendaki gunung, misalnya dengan jogging atau bersepeda. Dengan demikian, kita bisa mengetahui masalah kesehatan yang bakal dihadapi, terutama soal daya tahan tubuh.

Selain persiapan fisik, pendaki baik pemula atau profesional, juga wajib memiliki manajemen resiko khusus pandemi, seperti yang "Misalnya melakukan pendakian dalam kelompok kecil dan menggunakan perlengkapan pribadi serta mengurangi penggunaan peralatan bersama," kata Meidian dikutip dari CNNIndonesia.com.

Meidian juga mengingatkan bahwa terdapat sejumlah titik di mana protokol kesehatan seperti memakai masker dan jaga jarak fisik wajib dilakukan pendaki agar terhindar dari penyebaran virus corona selama mendaki gunung. Walau wisata alam sudah pasti dilakukan di ruangan terbuka, namun protokol kesehatan demi mencegah penyebaran virus corona tetap wajib diterapkan.

Beberapa spot yang perlu diwaspadai ialah; basecamp atau rumah singgah pendaki, pos registrasi, pos masuk, area berkemah, sampai puncak gunung. "Pasalnya kelima titik tersebut pasti ramai didatangi oleh kumpulan kelompok lain, sehingga protokol kesehatan di spot ini wajib diterapkan," ujar Meidian.

Selebihnya, ia mengingatkan bahwa pendaki juga tak perlu ngoyo datang ke gunung saat kondisi badan tidak fit. Pendaki yang jatuh sakit di tengah rute pendakian pasti bakal merepotkan semua orang, apalagi di tengah masa pandemi virus corona, saat rumah sakit di daerah kewalahan menangani pasien."Sesampainya di tempat istirahat, jangan lupa mencuci tangan dan anggota tubuh yang lain. Kalau ingin berkemah, kurangi kapasitas tenda setengahnya," pungkas Meidian.

Di sisi lain, saat ini sudah banyak gunung yang membuka kembali gerbang pendakiannya setelah berbulan-bulan ditutup demi menekan angka penyebaran virus corona.

Tak hanya pendaki berpengalaman, pendaki pemula juga tak sabar untuk segera menggapai puncak gunung, terutama yang jaraknya bisa ditempuh hanya dengan road-trip atau naik kereta.

Pembukaan gunung juga disertai dengan protokol kesehatan yang ketat, seperti larangan datang saat sakit, penggunaan masker dan rutin cuci tangan, jaga jarak fisik, hingga pengurangan kuota pendaki dalam satu hari.Sama seperti pendaki berpengalaman, para pendaki pemula juga jangan hanya bermodalkan semangat wisata alam saja saat baru pertama kali mendaki gunung.

Meidian Prana, berpesan bahwa pendaki pemula harus menyiapkan fisik dengan berolahraga rutin minimal seminggu sebelum naik gunung, misalnya dengan bersepeda atau jogging. "Cari informasi terbaru tentang gunung yang dituju, begitu juga dengan barang bawaan yang wajib dibawa seperti pakaian penahan dingin, kantong tidur, dan lain sebagainya," kata Meidian.

Pendaki pemula juga tak perlu ngoyo untuk langsung mendaki gunung yang tinggi, seperti Semeru atau Rinjani. Sebaliknya, pendaki pemula bisa melatih fisiknya terlebih dahulu dengan mendaki gunung-gunung yang medannya tak begitu terjal dan jarak tempuh sampai ke puncaknya tak begitu jauh. Tentu saja dengan ditemani pemandu yang berpengalaman. "Gunung Papandayan, Gunung Prau, dan Gunung Ijen, saya rasa pas untuk dijajal oleh pendaki pemula atas dua pertimbangan tersebut," ujarnya.

Tak ada yang bisa menebak nasib seseorang saat berada di gunung, karena alam punya rahasia yang begitu besar, ditambah lagi oleh faktor cuaca yang bakal berbeda saat di kaki dan di puncak gunung.

BERITA TERKAIT

Pengelola Ragunan Pastikan Satwa Tetap Terawat selama PPKM

Pengelola Taman Margasatwa Ragunan Jakarta Selatan memastikan pemeliharaan terhadap ribuan satwa tetap berjalan selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level…

Hutan Sumatera Masuk 'Daftar Neraka' UNESCO

Tahun 2019 menjadi tahun yang membanggakan bagi Indonesia, setelah Pertambangan Batu Bara Ombilin di Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat, masuk…

Kenjeran Park dan 9 Tempat Wisata Surabaya yang Terkenal

Sebagai ibu kota Jawa Timur, kota ini memiliki banyak tempat wisata Surabaya yang terkenal. Mulai dari pantai, taman, sampai museum…

BERITA LAINNYA DI Wisata Indonesia

Pengelola Ragunan Pastikan Satwa Tetap Terawat selama PPKM

Pengelola Taman Margasatwa Ragunan Jakarta Selatan memastikan pemeliharaan terhadap ribuan satwa tetap berjalan selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level…

Hutan Sumatera Masuk 'Daftar Neraka' UNESCO

Tahun 2019 menjadi tahun yang membanggakan bagi Indonesia, setelah Pertambangan Batu Bara Ombilin di Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatra Barat, masuk…

Kenjeran Park dan 9 Tempat Wisata Surabaya yang Terkenal

Sebagai ibu kota Jawa Timur, kota ini memiliki banyak tempat wisata Surabaya yang terkenal. Mulai dari pantai, taman, sampai museum…