BANK BUMN UBAH STRATEGI LAYANAN NASABAH - OJK: Restrukturisasi Kredit 95 Bank Capai Rp 458,8 Triliun

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga 18 Mei 2020 sebanyak 95 bank telah mengimplementasikan restrukturisasi kredit pada 4,9 juta debitur dengan nilai outstanding Rp458,8 triliun. "Sementara untuk perusahaan pembiayaan hingga posisi 26 Mei 2020, dari 183 perusahaan pembiayaan sudah melakukan restrukturisasi sebanyak 2,1 juta kontrak dengan jumlah outstanding Rp66,78 triliun," ujar Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5).

NERACA

Data tersebut merupakan perkembangan terbaru dari kebijakan restrukturisasi kredit untuk perbankan dan restrukturisasi pinjaman di perusahaan pembiayaan yang merupakan implementasi kebijakan yang diterbitkan OJK.

OJK kembali mengeluarkan kebijakan lanjutan dengan merelaksasi ketentuan di sektor perbankan untuk lebih memberikan ruang likuditas dan permodalan perbankan sehingga stabilitas sektor keuangan tetap terjaga di tengah pelemahan ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19.

Kebijakan stimulus lanjutan ini dikeluarkan setelah OJK mencermati dampak pandemi Covid-19 yang cenderung menurunkan aktivitas perekonomian sehingga berefek kepada sektor keuangan melalui transmisi pelemahan sektor riil.

OJK sangat berharap penanganan Covid-19 dapat segera mewujudkan aktivitas normal baru dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, sehingga OJK dapat mengukur dan memitigasi risiko likuiditas dan kecukupan permodalan industri jasa keuangan.

Untuk itu, menurut Anto, dalam pertemuan virtual dengan Industri Jasa Keuangan pada Rabu (27/5), Ketua Dewan Komisioner OJK mengajak segenap unsur lembaga jasa keuangan, pemangku kepentingan dan regulator bersinergi mengantisipasi serta menjaga sentimen positif.

Dalam kesempatan itu, disampaikan paket kebijakan stimulus lanjutan di sektor perbankan yang terdiri dari Kebijakan Relaksasi Untuk Bank Umum Konvensional Dan Bank Umum Syariah, dan Kebijakan Relaksasi Untuk Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah.

Meski demikian, sebelumnya Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK, Heru Kristiyana, membeberkan penyebab pengajuan restrukturisasi atau keringanan kredit debitur tidak langsung disetujui oleh perbankan. Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena verifikasi data dan kondisi debitur yang tidak bisa dilakukan serentak mengingat jumlah nasabah cukup besar.

"Berbagai kendala yang pertama tentunya bekerja dari rumah ini kesulitan perbankan untuk melakukan tatap muka, verifikasi data dan pengkinian kondisi debitur. Ini tantangan utama. karena memang tidak bisa melakukan tatap muka memastikan debitur memerlukan restrukturisasi," ujarnya melalui Video Conference, Jakarta, belum lama ini.

Tantangan kedua kata Heru adalah proses restrukturisasi harus dilakukan oleh pejabat atau pegawai yang tidak terlibat dalam kredit restrukturisasi. Di mana hal tersebut berpotensi menghambat proses percepatan stimulus. Lalu ada juga persetujuan restrukturisasi yang harus naik satu tingkat menimbulkan bottleneck.

Efisiensi Bank BUMN

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bergerak cepat untuk beradaptasi dengan kondisi new normal akibat pandemi Covid-19. Salah satunya dengan mengevaluasi jumlah dan peran kantor serta beralih ke pengembangan layanan digital yang terintegrasi.

Sebab semakin terbiasanya masyarakat bertransaksi perbankan secara digital akibat pemberlakukan PSBB dan imbauan physical distancing membuat perseroan berancang-ancang untuk mengevaluasi jumlah dan peran kantor BRI yang ada saat ini.

Direktur Jaringan dan Layanan Bank BRI A. Solichin Lutfiyanto menyatakan sejatinya sebelum adanya pandemi, preferensi masyarakat sudah mulai bergeser dari transaksi konvensional beralih ke digital. "Hal tersebut tercermin dari jumlah kantor BRI dari tahun ke tahun kian menyusut, dari 10.612 kantor di akhir 2015 menjadi 9.582 kantor pada akhir Kuartal I 2020," ujarnya.  

Solichin menjelaskan strategi yang akan diambil perseroan untuk tetap dapat melayani masyarakat hingga ke pelosok beralih ke cara nonkonvensional, yakni dengan pengembangan layanan digital yang terintegrasi.

Perseroan memastikan bahwa masyarakat kini semakin mudah dan nyaman bertransaksi perbankan tanpa harus datang ke kantor BRI secara langsung. Saat ini semua layanan perbankan BRI bisa diakses dengan mudah.

Pembukaan rekening simpanan bisa dilakukan melalui aplikasi BRImo, layanan contact center bisa diakses di gadget melalui SABRINA, pengajuan pinjaman digital juga sudah bisa dilakukan melalui aplikasi CERIA serta penyetoran dan penarikan uang tunai bisa lakukan di Agen BRILink terdekat.

"Kemudahan yang disediakan oleh Bank BRI tentu kami harapkan juga memberikan manfaat kepada masyarakat yang juga tengah beradaptasi dengan kondisi new normal dalam segala aspek kehidupan," ujarnya seperti dikutip cnnindonesia.com.

Nantinya, pasar tradisional dapat memanfaatkan pengelolaan penjualan online lewat Website Pasar yang difasilitasi oleh BRI. Tak hanya itu, Bank BRI bersama pengelola pasar juga membantu pengelolaan jasa antar jemput barang kepada pembeli.

Mekanisme pemasaran pasar tradisional dari penjualan konvensional ke online lewat Web Pasar cukup mudah, yakni pengelola pasar harus bekerja sama dengan BRI. Selanjutnya, BRI Unit terdekat akan mengedukasi para pedagang pasar untuk mengimplementasikan pemasaran secara online via Web Pasar, mekanisme pembayarannya serta pengiriman barang ke pembeli.

"Dalam mempersiapkan metode ini, BRI akan mengumpulkan data pedagang pasar, pendampingan input data dalam web, serta turut aktif mengomunikasikan ke masyarakat," ungkap Direktur Bisnis Mikro Bank BRI, Supari dalam keterangan tertulisnya.

Dia menambahkan BRI membuka luas terkait peluang kerja sama dengan para pengelola pasar. "Mengingat pandemi COVID-19 masih belum terprediksi kapan selesainya, terobosan ini bisa menjadi solusi dalam menghindari kerumunan di pasar," ujarnya.

Tidak berhenti sampai di situ, perseroan juga telah mengenalkan Stroberi (Solusi Transaksi Elektronik BRI) ke pasar-pasar yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Aplikasi ini merupakan layanan transaksi elektronik terpadu yang dikhususkan untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM secara berkesinambungan melalui transaksi digital.

Diharapkan dengan tersedianya Website Pasar dan platform Stroberi, BRI dapat memberikan kemudahan layanan dalam jual beli, pencatatan transaksi & inventory management, pengelolaan tagihan, pembayaran tagihan melalui berbagai channel yang disediakan, dan kemudahan monitoring informasi pembayaran tagihan. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

DUGAAN TERJADI MALADMINISTRASI - ICW Laporkan Program Kartu Prakerja ke Ombudsman

Jakarta-Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan maladministrasi program Kartu Prakerja ke Ombudsman RI. Terdapat sejumlah potensi pelanggaran dalam program Presiden…

Ada Celah Hukum dalam Aturan Larangan Kantung Plastik

NERACA Jakarta - Peneliti dari 'Center for Environmental Law (ICEL) Bella Nathania mengingatkan larangan penggunaan kantung plastik sekali pakai yang…

DINILAI MEMBEBANI BIAYA MASYARAKAT - Anggota DPR Soroti Dugaan Komersialisasi Rapid Test

Jakarta-Anggota DPR-RI mempertanyakan aturan rapid test bagi masyarakat yang hendak melakukan perjalanan utamanya menuju Jakarta. Pasalnya,  ada dugaan komersialisasi rapid…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

DUGAAN TERJADI MALADMINISTRASI - ICW Laporkan Program Kartu Prakerja ke Ombudsman

Jakarta-Indonesia Corruption Watch (ICW) melaporkan dugaan maladministrasi program Kartu Prakerja ke Ombudsman RI. Terdapat sejumlah potensi pelanggaran dalam program Presiden…

Ada Celah Hukum dalam Aturan Larangan Kantung Plastik

NERACA Jakarta - Peneliti dari 'Center for Environmental Law (ICEL) Bella Nathania mengingatkan larangan penggunaan kantung plastik sekali pakai yang…

DINILAI MEMBEBANI BIAYA MASYARAKAT - Anggota DPR Soroti Dugaan Komersialisasi Rapid Test

Jakarta-Anggota DPR-RI mempertanyakan aturan rapid test bagi masyarakat yang hendak melakukan perjalanan utamanya menuju Jakarta. Pasalnya,  ada dugaan komersialisasi rapid…