Kepercayaan Masyarakat Tetap Tinggi Terhadap Bank

NERACA

Jakarta - Penyebaran virus corona telah melemahkan pertumbuhan ekonomi dunia yang berdampak pada laju ekonomi negara berkembang seperti Indonesia. Hal inipun dirasakan pelaku usaha dalam negeri, termasuk industri perbankan. Namun demikian, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengklaim kepercayaan masyarakat kepada bank masih tinggi.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah menyampaikan bahwa masyarakat tidak menunjukkan adanya tanda-tanda panik. Hal ini juga menjadi indikator baik bagi bank untuk dapat terus menjaga likuiditasnya.”Data sementara, pertumbuhan DPK per maret masih normal, meski agak melambat. DPK masih tumbuh 6 persen dengan nilai Rp6.195 triliun,"ujarnya dalam Live Streaming RDP Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (6/4).

Dia pun menyebutkan, suku bunga deposito bank juga masih terus menunjukkan penurunan seiring dengan dipangkasnya suku bunga acuan Bank Indonesia."Kondisi masih cukup normal hingga saat ini. Namun, kami memastikan bahwa kami terus memantau perkembangan ini. Kami berharap tidak terjadi hal-hal yang dapat memicu krisis. Kami pun sudah siap dengan berbagai instrumen kami," paparnya.

Selain itu, lanjutnya, LPS siap untuk melakukan penjaminan secara penuh dalam hal terjadinya krisis. Akan tetapi, pertimbangan moral hazard menjadi pertimbangan utama saat langkah itu diambil. Disampaikannya, undang-undang yang berlaku ditambah dengan peraturan perundang-undangan yang baru diterbitkan, yakni Perppu nomor 1 tahun 2020, memberikan kewenangan untuk melakukan langkah ekstrim, termasuk penjaminan secara penuh.

Penjaminan secara penuh adalah peningkatan nilai sekaligus perluasan rekening termasuk dana non simpanan di perbankan."Hal ini semacam garanasi penuh dari LPS, tetapi memiliki efek samping moral hazard yang tinggi sehingga dibutuhkan ketelitian dan pengawasan yang ekstra ketat," katanya seperti dikutip bisnis.com.

Halim melanjutkan sejak LPS beroperasi, lembaga tersebut telah melikuidasi 102 bank, salah satunya bank umum. Adapun saat ini dengan kemampuan aset keuangan Rp127 triliun, dia memperkirakan LPS mampu menyelesaikan permasalahan 1 bank besar, 1 bank menengah, dan 5 bank perkreditan rakyat dalam kondisi normal.

Namun, dalam kondisi krisis, basis penyelesaian bank bermasalah tersebut dapat diperluas, dengan bantuan dana dari pemerintah dan/atau penerbitan surat utang atas nama LPS.“Aset sekitar Rp120 triliun ini mamsih memungkinkan, cukup aman untuk digunakan. Tapi kalau dibilang ini juga masih kurang. Harusnya LPS bisa memupuk cadangan penjaminan hinggaa 2,5% dari PDB, kami baru 1,4%,” ujarnya.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, upaya pemerintah menanggulangi COVID-19 mulai dari penyebaran melalui protokol kesehatan hingga dari sisi ekonomi melalui insentif yang sudah disiapkan sebesar Rp 405,1 triliun."Dengan situasi keuangan dan gejolak ekonomi seperti ini, Indonesia tidak imun meskipun kita memiliki fundamental makro baik. Harga saham kita alami penurunan, nilai tukar kita alami tekanan, dan terjadi arus modal keluar yang sangat tinggi terutama SBN hingga Rp 126,8 triliun minus,"tuturnya.

Upaya untuk meminimalkan dampak corona di sektor ekonomi, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan melalui kombinasi fiskal dan moneter. Dia menjelaskan dari sisi fiskal, pemerintah menyediakan bantuan berupa perlindungan sosial hingga keringanan pajak bagi keberlangsungan usaha."Ini mencegah krisis kesehatan dan menjadi krisis ekonomi atau krisis keuangan, banyak negara melakukan langkah extraordinary ini," ungkapnya.

Menkeu juga menyampaikan optimistis proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan tumbuh di zona positif meski melambat di tengah pandemi COVID-19.“Tiga negara yang masih akan bertahan atau berada di teritori positif adalah Indonesia, Tiongkok dan India,” katanya.

Menurut Menkeu, pertumbuhan itu sesuai dengan proyeksi lembaga keuangan internasional seperti Bank Pembangunan Asia (ADB) pada April 2020 yang menyebut pertumbuhan ekonomi RI tahun ini mencapai 2,5%. Sedangkan Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi RI berkisar negatif 3,5% hingga 2,1%.

Sementara itu, lembaga pemeringkat Moody’s memproyeksi pertumbuhan ekonomi RI tahun ini mencapai tiga persen dan akan kembali naik pada tahun 2021 sebesar 4,3%. Dengan proyeksi itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan beberapa negara besar di kawasan. bani

 

BERITA TERKAIT

BANK BUMN UBAH STRATEGI LAYANAN NASABAH - OJK: Restrukturisasi Kredit 95 Bank Capai Rp 458,8 Triliun

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga 18 Mei 2020 sebanyak 95 bank telah mengimplementasikan restrukturisasi kredit pada 4,9 juta debitur…

Menteri Diminta Masif Sosialisasi New Normal - PERINTAH PRESIDEN JOKOWI

Jakarta-Presiden Jokowi perintahkan para menteri untuk masif sosialisasi  New Normal atau tatanan norma baru. Protokol ini disiapkan agar masyarakat dapat…

Sektor Pertanian dan Perikanan Masih Menggairahkan

NERACA Jakarta - Pangan menjadi sektor yang sangat penting bagi negara manapun, termasuk Indonesia. Atas dasar itulah Pemerintah berkomitmen untuk…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

BANK BUMN UBAH STRATEGI LAYANAN NASABAH - OJK: Restrukturisasi Kredit 95 Bank Capai Rp 458,8 Triliun

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga 18 Mei 2020 sebanyak 95 bank telah mengimplementasikan restrukturisasi kredit pada 4,9 juta debitur…

Menteri Diminta Masif Sosialisasi New Normal - PERINTAH PRESIDEN JOKOWI

Jakarta-Presiden Jokowi perintahkan para menteri untuk masif sosialisasi  New Normal atau tatanan norma baru. Protokol ini disiapkan agar masyarakat dapat…

Sektor Pertanian dan Perikanan Masih Menggairahkan

NERACA Jakarta - Pangan menjadi sektor yang sangat penting bagi negara manapun, termasuk Indonesia. Atas dasar itulah Pemerintah berkomitmen untuk…