Asia Pacific Fiber Catat Rugi US$ 11,91 Juta

NERACA

Jakarta – Performance kinerja keuangan PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) mencatatkan raport merah. Pasalnya, emiten tekstil ini mencatatkan kerugian sebesar US$11,91 juta sepanjang tahun 2019. Selain itu, perseroan mengalami penurunan pendapatan dari posisi US$475,21 juta pada 2018 menjadi US$396,68 pada tahun 2019. Dengan capaian ini omzet perusahaan turun mencapai 16,52%. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dirilis di Jakarta, kemarin.

Alhasil, kerugian yang dialami membalikkan posisi laba perseroan yang sempat menyentuh US$12,83 juta pada 2018 lalu. Perusahaan menggunakan dolar AS dengan kurs Rp13.901 pada akhir tahun 2019 dan Rp14.481 pada akhir tahun 2018. Penurunan pendapatan sekaligus menekan beban pokok penjualan. Pos beban ini turun hingga 14,89%. Perusahaan juga membukukan kerugian dari selisih kurs sebesar Rp5,91 juta. 

Dengan begitu, laba per saham atau earning per share perseroan tidak berubah dibanding tahun 2018 lalu yakni minus US$0,005. Dengan capaian ini Asia Pacific Fibers mengalami kenaikan tipis pada komponen liabilitas. Demikian juga dengan ekuitas perusahaan masing-masing sebesar 1,35% dan 1,28%. Total asetnya naik 1,6% dari posisi US$238,25 juta menjadi US$242,05 juta.

Sedangkan kas dan setara kas akhir tahun 2019 perseroan melorot 12,89% menjadi US$4,27 juta dipengaruhi oleh kerugian selisih kurs atas mata uang asing sebesar US$2,71 juta. Perseroan tahun ini membidik target konservatif di level 10%. Dimana target tersebut dapat berubah mengingat pemerintah berencana merealisasikan penurunan harga gas industri. Namun, manajemen mengatakan proyeksi baru apakah bakal lebih positif akan kelihatan di kuartal kedua tahun ini, di mana penurunan harga gas teraplikasikan.

Perseroan sendiri masih melihat peluang untuk menumbuhkan bisnis hulu Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) . Perseroan mengaku akan lebih fokus mengerek penjualan di segmen produk bernilai tambah (added value). Prama Yudha Amdan, Head of Corporate Communications and Public Relations POLY seperti dikutip kontan pernah bilang, produk bernilai tambah memiliki banyak keuntungan, sebab pelanggan perseroan biasanya meminta customize produk tertentu.

Di mana harga jualnya tidak terpaku dengan harga produk reguler yang bergantung langsung terhadap naik-turunnya harga raw material serat filamen. Sehingga produsen seperti POLY memiliki bargaining position atau posisi tawar untuk menentukan harga jualnya. Di samping perusahaan akan mampu mendapatkan margin keuntungan yang lebih baik dengan added value product. Adapun saat ini POLY telah memproduksi beragam produk bernilai tambah seperti benang anti-bacteria, serat tahan api dan serat otomotif.

Sebelumnya manajemen bilang, porsi volume penjualan ekspor sebanyak 40% bakal diisi produk bernilai tambah tersebut. Mengenai ekspor, kebetulan perusahaan telah banyak mengekspor ke berbagai negara dari Amerika Serikat (AS) hingga Eropa dan Timur Tengah. Porsi ekspor yang sebanyak 25%-30% dari total sales dinilai dapat memberikan margin keuntungan yang baik. Manajemen berharap pasar dapat lebih kondusif dan manufaktur hulu TPT ini bisa berkontribusi bagi devisa negara.

BERITA TERKAIT

Sikapi Kasus Sinarmas AM - Bibit Tumbuh Bersama Tunjuk Presdir Baru

NERACA Jakarta –Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas sikap yang kurang tepat, PT Bibit Tumbuh Bersama selaku agen penjual reksadana dari…

Penjualan Sky Energy Indonesia Turun 9,87%

NERACA Jakarta – Di tahun 2019, PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY) mencatatkan kinerja keuangan negatif. Berdasarkan laporan keuangan yang…

Trafik Data XL Naik 25% di Saat Lebaran

NERACA Jakarta - PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatat kenaikan trafik penggunaan layanan di saat lebaran Idul Fitri 1441 H.…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Sikapi Kasus Sinarmas AM - Bibit Tumbuh Bersama Tunjuk Presdir Baru

NERACA Jakarta –Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas sikap yang kurang tepat, PT Bibit Tumbuh Bersama selaku agen penjual reksadana dari…

Penjualan Sky Energy Indonesia Turun 9,87%

NERACA Jakarta – Di tahun 2019, PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY) mencatatkan kinerja keuangan negatif. Berdasarkan laporan keuangan yang…

Trafik Data XL Naik 25% di Saat Lebaran

NERACA Jakarta - PT XL Axiata Tbk (EXCL) mencatat kenaikan trafik penggunaan layanan di saat lebaran Idul Fitri 1441 H.…