Pelaut (Juga) Pahlawan

 

Oleh: Siswanto Rusdi

Direktur The National Maritime Institute (Namarin)

 

Dalam masa susah akibat merebaknya virus corona atau Covid-19 saat ini, banyak petugas kesehatan mulai dari dokter, perawat, teknisi RS, dan lain-lain, yang jatuh sebagai korban. Mereka berada paling depan dalam upaya membendung pandemi mengerikan itu sehingga mereka merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak. Nyawa mereka makin terancam apabila alat pelindung diri (APD) tidak tersedia dengan cukup atau ala kadarnya.

Bagi mereka yang wafat di medan pertempuan Covid-19, sebutan pahlawan amat sangat layak disematkan. Mereka tentu tidak pernah sama sekali berharap gelar ini ketika menjalankan tugas mulianya. Ketika suasana tenang kelak, ada baiknya pemerintah memikirkan untuk memberikan status sebagai pahlawan kemanusiaan secara resmi kepada mereka.

Selain tenaga kesehatan, yang juga bekerja di tengah serbuan virus corona adalah para pelaut. Tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya, mereka tetap melayarkan kapal demi mengantarkan berbagai kebutuhan umat manusia ke delapan penjuru mata angin. Sedikit berbeda dengan sejawatnya di sektor kesehatan yang bisa berganti shift kerja, dalam masa sulit ini para pelaut tidak memiliki kemewahan itu.

Malah, merebaknya wabah tersebut membuat gerak mereka terbatas. Beberapa mil laut sebelum kapal mereka sandar di pelabuhan, mereka akan didatangi oleh petugas dari otoritas negara pelabuhan. Hal ini sebetulnya prosedur standar. Petugas itu biasanya pilot yang akan membimbing kapten menyandarkan kapalnya di dermaga. Kini, yang boarding ke kapal mereka adalah petugas kesehatan pelabuhan yang mengecek kesehatan dan memastikan seluruh personil di atas kapal bebas dari Covid-19.

Bila tidak aman, konsekuensi yang akan diterima para pelaut boleh dibilang luar biasa. Mereka akan dikarantina di luar perairan pelabuhan selama 14 hari. Ini berlaku untuk semua jenis kapal. Yang paling parah adalah para pelaut tidak diizinkan untuk melakukan rotasi. Padahal, ada pelaut yang bisa jadi sudah setahun atau lebih bekerja di atas kapal dan perlu dirotasi agar performansinya tidak turun. Di tengah wabah Covid-19 memang ada larangan dari berbagai negara pelabuhan bagi pergantian kru. Sudahlah dikarantina, pelaut juga tidak tahu kapan bisa pulang ke kehangatan rumahnya.

Apapun keadaannya, pelaut tetap bekerja mengantarkan semua kebutuhan manusia. Bila mereka berhenti seminggu saja, perekonomian dunia akan runtuh. Virus corona memang berdampak luas terhadap perekonomian namun lebih luas lagi kerusakan ekonomi bila pelaut menyetop operasi kapal mereka. Pada titik ini, kita akhirnya menjadi tahu begitu besarnya kontribusi pelaut bagi umat manusia. Dari dahulu.

Pantas rasanya mereka bersanding dengan profesi tenaga kesehatan untuk menerima sebutan sebagai pahlawan kemanusiaan. Lagi, sama seperti dokter, perawat dan tenaga medis lainnya, pelaut tidak meminta status ini. Tetap saja penghargaan sebagai pahlawan kemanusiaan perlu disematkan kepada mereka karena kita makhluk yang beradab.

BERITA TERKAIT

Uang Lebaran

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Lebaran kali ini membuat semua pelaku ekonomi bisnis…

Satwa dan Manajemen Usaha

Oleh: Siti Nurbaya Bakar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan   Pandemi wabah virus corona atau Covid-19 bukan saja pada manusia…

Kapal Penumpang vs New Normal

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Sektor usaha pelayaran penumpang atau cruise line diperkirakan akan…

BERITA LAINNYA DI

Uang Lebaran

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Lebaran kali ini membuat semua pelaku ekonomi bisnis…

Satwa dan Manajemen Usaha

Oleh: Siti Nurbaya Bakar Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan   Pandemi wabah virus corona atau Covid-19 bukan saja pada manusia…

Kapal Penumpang vs New Normal

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Sektor usaha pelayaran penumpang atau cruise line diperkirakan akan…