Asia Diprediksi Hadapi Krisis Pangan 10 Tahun ke Depan

NERACA

Jakarta-Kawasan Asia diprediksi akan menghadapi krisis pangan dalam 10 tahun ke depan. Untuk menghindari ini, Asia membutuhkan investasi hingga US$ 800 miliar atau setara Rp11.000 triliun (US$1= Rp14.100) untuk pangan. Ini berdasarkan laporan dari PwC, Rabobank, dan perusahaan investasi Temasek.

Asia Food Challenge Report, seperti mengutip laman CNBC, juga mengungkapkan bahwa pengeluaran makanan akan naik lebih dari dua kali lipat. Dari US$ 4 triliun pada 2019, menjadi lebih dari US$

"Asia tidak dapat memberi makan dirinya sendiri, dan perlu menginvestasikan US$800 miliar lagi, dalam 10 tahun ke depan untuk menghasilkan lebih banyak makanan, dan memenuhi kebutuhan kawasan," menurut sebuah laporan seperti dikutip merdeka.com.

Prediksi ini juga melihat populasi di Asia mengalami pertumbuhan, sehingga menuntut pangan yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan. Sementara itu, populasi Asia dapat tumbuh sekitar 250 juta pada sepuluh tahun mendatang, hal itu termasuk dengan Indonesia.

"Jika investasi ini tidak terwujud, kami percaya industri akan berjuang untuk memenuhi permintaan, menghasilkan hasil makanan yang lebih buruk untuk populasi Asia," menurut penulis laporan yang disusun oleh PwC, Rabobank, dan perusahaan investasi Singapura Temasek .

Jika tidak segera diantisipasi terkait pangan, maka akan berada dalam posisi yang buruk dalam 10 tahun mendatang. Dengan investasi USD 800 miliar, dapat digunakan untuk industri pangan pertanian Asia, serta untuk bidang teknologi dan inovasi, yang bisa menjadi jalan keluar mengatasi permasalahan pangan. "Peluang terbesar untuk sektor pertanian pangan di Asia mungkin di China," kata Anuj Maheshwari dari Temasek.

Alasan investasi berpeluang masuk ke China, karena perusahaan pertanian di negara tersebut sudah menggunakan teknologi canggih, dalam mengelola lahan pertanian. Misalnya, DJI yang berbasis di Shenzhen memproduksi drone pertanian, yang menyemprotkan pestisida dan pupuk, yang mampu mengantisipasi wabah penyakit.

Menurut perusahaan analisis drone Skylogic Research, perusahaan teknologi China itu, menyumbang lebih dari 70 persen pangsa pasar drone sipil dunia pada tahun 2018. Itulah sebabnya kota-kota di China seperti Shenzhen, Beijing, dan Shanghai bisa menjadi pusat inovasi agri-pangan yang potensial.

Tempat-tempat ini memiliki pengalaman pertanian pangan, lingkungan peraturan yang kuat untuk startup, dan bakat kompetitif, dan secara bersama-sama, mereka siap untuk mendorong inovasi dan investasi dalam industri. Selain China, Singapura dan kota India di Bangalore, juga menjadi pusat inovasi agri-pangan.

Menurut laporan yang dirilis (20/11), Asia tidak dapat memberi makan dirinya sendiri, melainkan mengandalkan impor dari Amerika, Eropa, dan Afrika, dalam jangka waktu yang panjang. Tentu saja, hal itu sesuai dengan hasil penelitian dari Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB tahun 2018.

"Secara umum, negara-negara di Amerika Latin, Afrika Timur dan Asia Selatan adalah pengekspor makanan bersih, sementara sebagian besar negara Asia dan Afrika lainnya tetap menjadi pengimpor pangan netto," kata Statistik dan Tren Utama dalam Perdagangan Internasional.

"Makanan, ini adalah topik sensitif, dan banyak perang dan banyak pemberontakan internal telah memperebutkan makanan dalam sejarah yang terletak. Dan itu mungkin akan terus terjadi, " kata Richard Skinner dari PwC.

Selain bergantung, Asia juga dipengaruhi oleh iklim dan pertumbuhan populasi, yang menyebabkan timbulnya masalah pasokan pangan, dan perubahan harga. Cuaca ekstrem dapat mengurangi hasil panen dan mengubah struktur penanaman. Sehingga jumlah lahan subur untuk setiap orang di Asia diperkirakan akan menurun 5% pada tahun 2030.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, pihaknya belum melihat perlunya impor bahan pangan hingga akhir tahun. Sebab dari pantauan Kemendag, ketersediaan dan pasokan bahan pangan dalam negeri masih cukup. "Akhir tahun ini sementara belum ada. Kita akan lihat kecukupan tersebut. Arahnya ke sana," ujarnya belum lama ini. mohar

 

BERITA TERKAIT

Pelonggaran PSBB Bukan Tanpa Dasar, Sesuai WHO - OPERASIONAL BUS AKAP DAN KA LUAR BIASA DIPERPANJANG HINGGA 7 JUNI

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tengah dilakukan pemerintah bukan tanpa dasar. Sebab,…

Skenario New Normal Jadi Sentimen Positif IHSG

NERACA Jakarta – Kebijakan New Normal yang dicanangkan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 disambut positif para pelaku pasar dan termasuk investor…

BANK BUMN UBAH STRATEGI LAYANAN NASABAH - OJK: Restrukturisasi Kredit 95 Bank Capai Rp 458,8 Triliun

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga 18 Mei 2020 sebanyak 95 bank telah mengimplementasikan restrukturisasi kredit pada 4,9 juta debitur…

BERITA LAINNYA DI Berita Utama

Pelonggaran PSBB Bukan Tanpa Dasar, Sesuai WHO - OPERASIONAL BUS AKAP DAN KA LUAR BIASA DIPERPANJANG HINGGA 7 JUNI

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan, pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang tengah dilakukan pemerintah bukan tanpa dasar. Sebab,…

Skenario New Normal Jadi Sentimen Positif IHSG

NERACA Jakarta – Kebijakan New Normal yang dicanangkan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 disambut positif para pelaku pasar dan termasuk investor…

BANK BUMN UBAH STRATEGI LAYANAN NASABAH - OJK: Restrukturisasi Kredit 95 Bank Capai Rp 458,8 Triliun

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga 18 Mei 2020 sebanyak 95 bank telah mengimplementasikan restrukturisasi kredit pada 4,9 juta debitur…